Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#66


__ADS_3

Namun, panggilan itu tidak membuat Dicky sadar dari kekaguman yang dia berikan pada Merlin. Dia masih diam tanpa menjawab karena masih terap terhanyut dalam kekaguman yang dia rasakan saat ini.


Merlin mendengus kesal. Tidak punya pilihan lain untuk menyadarkan Dicky dari lamunan itu, Merlin segera menyentuh lengan Dicky sambil memanggil nama Dicky dengan keras.


"Dicky!"


"Hah! Eh ... ap--apaan-apaan sih? Kenapa malah teriak-teriak padaku?"


"Jika aku tidak berteriak, maka kamu akan selamanya melamun di depan pintu kamarku. Hal itu akan membuat aku tidak bisa beristirahat karena ada patung yang berdiri di depan pintu."


"Hei ... jaga bicaramu itu ya. Aku bukan patung. Aku suami kamu. Jangan lupakan hal itu. Bicara dengan suami harus baik-baik. Jika tidak, kamu akan berdosa besar."


"Benarkah? Dari mana kamu dapatkan kata-kata itu, tuan muda Dicky."


"Tentu saja dari pak ustadz. Masa aku punya kata-kata yang bagus seperti itu sendiri. Aku masih muda, tidak tahu banyak tetang kehidupan orang setelah nikah."


"Mm ... sudah aku duga. Yah ... setidaknya kuping mu masih bisa menyimpan kara-kata baik yang kamu dengar dari orang lain. Aku suka hal itu."


"Kamu pikir aku hanya bisa menyimpan hal-hal buruk saja kah? Ya Tuhan ... istri aku ini sangat amat imut ternyata. Sangking imutnya, jadi mirip seperti marmut deh."


"Apa! Kamu bilang aku mirip marmut? Dasar domba berbulu serigala. Berani-beraninya kamu samakan aku dengan hewan." Merlin terlihat kesal. Dia berusaha memukul Dicky dengan tangannya. Sementara Dicky terus menghindar sambil tertawa bahagia.


Mereka akhirnya saling kejar-kejaran di kamar. Turun naik ranjang, berkelit dan berbelok-belok, hingga akhirnya, kaki Merlin tiba-tiba tersandung sanding ranjang.


"Aaa .... " Bruk. Tubuh mungil itu terjatuh tanpa bisa ditahan lagi.


Beruntung, Merlin jatuh tidak di atas lantai. Melainkan, jatuh di atas kasur dengan tubuh Dicky di bawahnya.


"Aduh ... kenapa kamu gak hati-hati sih, Lin?"


Dicky berucap setelah beberapa saat mereka saling diam.

__ADS_1


"Eh, kenapa menyalahkan aku sih? Kamu yang bikin ulah." Merlin berucap sambil berusaha menjauh dari Dicky.


Namun, ketika Merlin ingin bangun, dia harus kembali jatuh. "Ah ... auh .... " Merlin mengeluh kesakitan dengan wajah yang terlihat benar-benar sakit.


"Merlin. Kenapa? Apakah ada yang sakit?"


"Iya. Kakiku. Kakiku rasanya sangat sakit. Tidak bisa aku pijak sama sekali."


Mendengar ucapan itu, Dicky segera membantu Merlin. Dia membantu Merlin duduk di pinggir ranjang. Sementara dirinya segera melihat kaki Merlin dengan sangat hati-hati.


"Ya ampun. Kuku kakimu terlihat memerah, sedangkan pergelangan kakimu terlihat seperti sedikit bengkak. Apa yang terjadi sebelum kamu jatuh, Merlin?"


"Aku menabrak ranjang. Makanya jatuh tadi."


"Pantas saja kakimu memar begini. Jangan digerakkan dulu. Takutnya akan semakin parah. Kakimu seperti terkilir. Kamu tunggu di sini, aku akan panggilkan tukang urut dulu."


"Hei! Tidak perlu."


"Kenapa tidak perlu, Merlin? Kakimu terkilir. Kamu butuh tukang urut untuk mengobati kamu mu itu."


"Tapi kakimu .... "


"Aku gak papa. Ini tidak terlalu sakit. Aku masih bisa menunggu besok. Kamu tenang saja."


"Benarkah apa yang kamu katakan ini? Aku tidak ingin kamu kenapa-napa."


"Sudah aku katakan, aku baik-baik saja. Ini tidak terlalu sakit. Jadi, aku bisa menahannya."


"Baiklah kalau begitu. Aku percaya apa yang kamu katakan. Tapi, aku tidak akan membiarkan kamu tidur sendiri malam ini. Aku akan temani kami tidur di kamar ini."


"Eh, tidak perlu. Aku tidak perlu kamu teman kan."

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak membantah. Aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu. Karena aku tahu, kamu tidak akan mau. Aku akan tidur di sofa saja."


Merlin terdiam mendengarkan perkataan Dicky barusan. Matanya menatap lekat wajah Dicky yang berada di hadapannya saat ini.


"Aku ... tidak keberatan jika kamu ingin tidur satu ranjang denganku. Lagian, cuma sebatas tidur saja. Tidak akan jadi masalah," ucap Merlin dengan nada sedikit gugup. Saat berucap juga dia tidak menatap wajah Dicky, melainkan, membuang wajah ke arah lain.


"Hm ... benarkah kamu tidak keberatan? Kamu yakin? Bagaimana jika aku khilaf nantinya? Bisa-bisa aku .... "


"Jangan mikir yang enggak-enggak kamu. Coba saja kalau berani macam-macam. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu jika kamu berani khilaf padaku."


"Eh, yang namanya khilaf itukan pasti tidak di sengaja, nona Merlin. Kenapa harus marah padaku jika aku khilaf nanti. Lagian, aku khilaf juga tidak akan jadi dosa. Toh kamu ini istri sah aku. Iya kan?"


Merlin mencubit perut Dicky dengan keras. Cubitan itu membuat Dicky meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Auh ... kamu apa-apaan sih, Lin? Sakit tahu gak?"


"Tahu sakit? Makanya jangan macam-macam kamu. Aku cubit kamu biar kamu sadar, Dic. Pernikahan kita hanya sebatas pernikahan kontrak. Semua akan kembali seperti semula setelah usia pernikahan dua tahun. Jangan lupakan hal itu."


"Aku tidak lupa soal perjanjian yang sudah sama-sama kita sepakati itu, Merlin. Tenang saja. Tapi ... bagaimana jika aku ingin mengubah isi dari perjanjian itu?"


Merlin tersentak kaget. Seketika, dia menatap wajah Dicky dengan tatapan meminta penjelasan dari apa yang telah Dicky ucapkan barusan padanya.


"Apa ... apa maksud kamu? Mengubah isi perjanjian bagaimana? Apa yang ingin kamu ubah?"


"Tunggu! Aku tahu apa yang ingin kamu katakan padaku sepertinya. Kamu ingin mempersingkat waktu kontrak pernikahan kita? Benar begitu bukan?"


"Kenapa kamu malah mikir seperti itu? Aku tidak bilang ingin mempersingkat waktu kontrak pernikahan kita kok. Bagaimana jika aku bilang, aku ingin memperpanjang waktunya?"


"Jangan main-main, Dicky. Pernikahan ini terjadi karena kita sama-sama ingin mendapatkan keuntungan masing-masing, bukan? Lalu sekarang, kita tidak punya keuntungan lagi setelah semua kacau berantakan. Kamu kehilangan kekasih yang kamu cintai dan kamu rencanakan untuk dinikahi setelah lulus sekolah. Sedangkan aku, aku tidak bisa melanjutkan cita-citaku karena aku sudah di keluarkan dari sekolah. Lalu ... apalagi yang bisa buat kita bertahan dengan pernikahan ini, Dic? Aku rasa tidak ada, bukan?"


"Bagaimana jika aku bilang karena rasa nyaman, Lin? Apakah itu cukup buat pernikahan kita terus bertahan?"

__ADS_1


Merlin melihat mata Dicky karena kata-kata yang Dicky ucapkan menarik perhatiannya. Sedangkan Dicky, dia sangat menyayangkan bibirnya yang tidak bisa jujur dengan mengatakan langsung isi hati yang dia miliki pada Merlin.


Hatinya sangat ingin bilang, dia ingin mempertahan pernikahan ini karena benih cinta yang mulai tumbuh. Tapi sayangnya, keberanian itu dikalahkan rasa takut akan penolakan Merlin padanya. Dia takut Merlin tidak menerima ungkapan cinta yang dia ucapkan. Karena selama ini, Merlin terkesan sangat berbeda dari semua gadis yang pernah dia temui.


__ADS_2