
Merlin hanya bisa diam. Dia merasa tidak berhak menjawab apa yang Dicky katakan. Karena sekarang, dia merasa kalau papanya sudah menjual dia ke keluarga Prasetya dengan nilai dua puluh milyar. Sebagai orang yang dijual, dia mungkin tidak berhak bicara sama sekali pada orang yang sudah membelinya.
'Tuhan ... kenapa hidup begitu kejam padaku? Orang tua kandung saja rela berbuat seperti itu padaku. Bagaimana orang lain tidak tega melakukan hal yang lebih parah dari apa yang orang tua kandungku lakukan. Tidak adil. Benar-benar tidak adil,' ucap Merlin dalam hati.
Sementara itu, di mansion utama keluarga Prasetya, Intan sedang mengamuk di kamarnya. Dia yang dikurung bak tawanan, sekarang sudah dibebaskan. Itu tandanya, pernikahan Dicky sudah selesai.
Brak ... guci besar yang ada di samping pintu kamar di banding Intan hingga pecah berantakan. Itu adalah gucci kesayangan milik Bagas. Ia berani memecahkan guci itu karena hatinya sedang sangat kesal.
"Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar! Kenapa kalian tidak mengganggap aku ada, hah!" Intan berteriak keras sambil terus membuang barang-barang yang ada di dekatnya ke lantai.
"Kalian semua bia*dab! Aku akan balas kalian nanti dengan pembalasan yang sangat perih. Sial!"
____
Merlin diantar Dicky ke apartemen setelah urusan mereka di kantor KUA selesai. Dicky mengantar Merlin sampai depan pintu apartemen mewah miliknya.
Itu adalah apartemen pribadi milik Dicky. Dia sering ke sini jika sedang suntuk atau sengaja ingin menjauh untuk sementara waktu dari beratnya tekanan hidup sebagai ahli waris keluarga ternama.
Merlin tidak berucap sepatah kata pun selama mereka melalui perjalanan yang menghabiskan lebih dari tiga puluh menit, dari kantor KUA ke apartemen milik Dicky. Dia hanya diam sambil melihat lampu jalanan yang mereka lewati, hingga sampai depan pintu apartemen itu.
"Ini apartemennya. Kita sudah sampai," ucap Dicky sambil mengeluarkan kunci dari saku celananya.
"Kamu gak papa jika tinggal sendirian di sini? Gak takut, kan?"
"Gak. Aku gak papa."
"Bagus deh kalo gitu."
__ADS_1
"Oh ya, jika kamu memang merasa tidak nyaman untuk tinggal sendirian, maka aku akan bawakan pembantu untuk menemani kamu di sini."
"Tidak perlu. Aku gak papa sendirian di sini."
"Ya sudah kalo gitu. Terserah padamu saja."
"Masuklah! Kamu mungkin butuh istirahat. Aku lihat, wajahmu seperti orang yang kurang vitamin saja."
Dicky langsung membuka pintu apartemen itu. Merlin melirik wajah Dicky untuk sesaat, lalu kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke dalam saat pintu terbuka.
Di dalam apartemen itu terlihat sangat rapi. Tidak seperti kamar apartemen anak cowok pada umumnya, yang terlihat berantakan.
"Aku akan segera kembali ke mansion. Jika butuh apa-apa, hubungi Hero saja. Oh ya, ini kuncinya," ucap Dicky sambil menyerahkan kunci pada Merlin.
Merlin menerima kunci itu tanpa berucap. Setelah kejadian tadi, dia sepertinya begitu enggan untuk berucap walau satu patah kata saja.
"Oh." Hanya satu kata itu yang Merlin ucap saat tahu dia punya waktu libur selama satu minggu.
"Ya sudah, aku kembali sekarang. Maaf, aku tidak masuk karena aku buru-buru."
Dicky langsung memutar tubuh untuk meninggalkan Merlin. Namun, tiba-tiba Merlin menahan langkah Dicky dengan cara memegang tangannya dengan cepat.
Karena hal itu, mata keduanya saling pandang selama beberapa detik. Hanya beberapa detik saja. Karena selanjutnya, Merlin melepaskan pegangan itu dengan cepat.
"Maaf, aku hanya ingin bilang, bisa minta waktumu selama lima menit? Aku janji hanya lima menit saja. Tidak akan lebih."
"Untuk apa kamu minta waktu aku selama lima menit?"
__ADS_1
"Aku ingin bicara."
"Apa yang ingin kamu bicarakan lagi? Bukankah semuanya sudah jelas, dan sudah selesai kita bicarakan?"
"Aku hanya ingin ... minta maaf padamu atas apa yang telah terjadi barusan. Maafkan sikap papaku yang begitu serakah. Beri aku waktu untuk membayar uang yang papaku ambil dari keluarga kalian."
Mendengar kata-kata itu, Dicky tertawa lepas. Pesona Dicky yang berusaha Merlin tutupi, kini terlihat dengan sangat jelas saat Dicky tertawa. Namun, sekuat tenaga, Merlin menyadarkan dirinya tentang posisi dia saat ini.
'Bohong jika ada wanita sempurna yang bilang Dicky itu jelek atau biasa-biasa saja. Karena kenyataanya, dia lebih dari tampan untuk di ucapkan dengan kata-kata.' Setidaknya, itulah yang Merlin ucapkan dalam hati untuk memuji Dicky, saat melihat tawa lepas yang matanya lihat saat ini.
"Kamu terlalu lucu, Merlin."
"Lucu?" tanya Merlin dengan nada bingung.
"Ya."
"Apanya yang lucu?"
"Banyak."
"Pertama, kamu minta maaf atas kesalahan yang tidak kamu perbuat. Kedua, kamu bilang padaku minta waktu untuk menggantikan uang yang papamu rampok dari keluarga Prasetya. Kamu pikir, kamu bisa menggantinya dengan mudah? Mau ganti pakai apa coba? Uang dua puluh milyar itu gak sedikit lho, nona Merlin."
"Kamu meremehkan aku, Dicky." Merlin berucap dengan nada kesal.
"Bukan meremehkan. Tapi, aku bicara dengan dasar kenyataan. Orang bodoh saja tahu kalau dua puluh milyar itu tidak sedikit. Lah kamu, bilang mau minta waktu buat ganti uang itu. Mau berapa banyak waktu yang kamu butuhkan untuk mencari uang dua milyar itu, Merlin? Seumur hidupmu?"
"Kamu ternyata lebih buruk dari yang aku bayangkan ya, tuan muda Prasetya yang terhormat. Mentang-mentang kaya dan banyak uang, kamu seenaknya merendahkan orang lain. Lihat saja, aku akan buktikan padamu, jika orang miskin seperti aku bisa membayar uang yang kalian berikan. Permisi!"
__ADS_1