Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#9


__ADS_3

Beberapa saat ia terdiam di tempatnya. Berusaha menata hati agar tidak terlihat begitu hancur karena kara-kata yang orang tua kandungnya ucapkan barusan.


Lalu, Merlin berjalan cepat menuju ruang tamu. Dengan senyum seadanya, dia menyapa kedua utusan keluarga Prasetya yang sedang duduk berhadapan dengan papanya sekarang.


"Maaf, aku Merlin. Aku langsung menghampiri ke sini karena di panggil kakak tiri ku barusan. Apakah kita bisa pergi sekarang, paman?" tanya Merlin langsung.


"Nona ini, nona Merlin?" tanya salah satu dari mereka berusaha memastikan. Mereka melakukan hal itu karena takut tertipu lagi.


"Ya, aku Merlin."


Laki-laki yang bertubuh besar itu lalu mengangkat ponselnya menghadap Merlin. Awalnya, Merlin bingung dengan tingkah laki-laki itu. Tapi, selanjutnya, dia malah terlihat santai, sedangkan papa terlihat begitu pucat.


Bagaimana tidak? Ternyata, kedua utusan itu sedang melakukan vidio call dengan majikan mereka tanpa sepengetahuan Bondan. Mereka sudah melakukan vidio call sejak awal kedatangan mereka. Hal itu membuat Bondan kaget sekaligus tidak punya muka lagi sekarang.


Dia malu. Karena tadinya, dia berniat menukar Merlin dengan Jenny. Karena dia pikir, Merlin sungguh tak pantas masuk ke dalam keluarga Prasetya yang terkenal dalam segi apapun. Hal itu juga karena saran dari Mita istrinya. Mita bilang, Merlin akan membuat ulah dan akan merusak nama baiknya jika masuk ke dalan keluarga Prasetya yang terkenal.


Maka dari itu, dia berniat membohongi kedua utusan dengan menukar Merlin dengan Jenny. Karena Bondan pikir, utusan itu pasti tidak tahu yang mana Merlin dan yang mana Jenny. Karena mereka belum mengenal Jenny dan Merlin.


Sayangnya, dia tidak berpikir soal vidio call atau semacamnya sebelum bertindak. Hasilnya, sekarang, Bondan benar-benar kehilangan muka di depan keluarga Prasetya saat ini.


"Tuan muda, bagaimana? Apa dia benar-benar, nona Merlin yang tuan muda maksudkan?"


"Ya, dia Merlin yang aku katakan. Cepat jalankan perintah sekarang juga!"


"Baik, tuan muda. Segera laksanakan tugas."


"Nona Merlin. Ayo pergi sekarang!" ucap salah satu dari mereka sambil beranjak.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo!"


Sementara Merlin mengikuti salah satu laki-laki yang beranjak meninggalkan ruang tamu rumah mereka, satu utusan yang lain masih duduk diam menatap Bondan dengan tatapan tajam. Merlin penasaran, tapi tidak ingin ikut campur.


Sampai di depan mobil, sopir sudah menunggu di depan pintu. Sopir itu dengan lihai membuka pintu mobil untuk Merlin, lalu, dia langsung mempersilahkan Merlin masuk ke dalam mobil tersebut. Sementara laki-laki yang Merlin ikuti barusan, juga ikut masuk di kursi depan mobil.


Beberapa saat lama Merlin diam di dalam mobil menunggu kedatangan utusan yang tinggal di rumahnya. Namun, belum kunjung terlihat. Hal itu membuat rasa penasaran dalam hatinya memuncak sehingga dia tak tahan lagi. Merlin pun akhirnya memilih bicara pada laki-laki yang ia ikuti tadi.


"Maaf, Om. Saya lancang bicara sama, Om. Kenapa kita masih belum berangkat juga?"


"Sebentar lagi kita akan berangkat. Tunggu pak Alek selesai menjalankan tugasnya."


"Pak Alek?"


"Ya. Pak Alek. Orang yang ada di dalam rumahmu saat ini. Tunggu dia keluar baru kita pergi."


"Maaf, Nona. Kalau soal itu saya tidak tahu. Karena saya cuma asisten tuan muda, bukan asisten tuan besar. Saya mana boleh ikut campur soal urusan kepala pelayan rumah tuan besar, Nona."


"Oh ... begitu? Maaf jika saya banyak tanya. Saya hanya ingin tahu saja," ucap Merlin agak kesal, namun juga merasa tidak enak hati karena terlalu banyak bicara.


"Tidak masalah, Nona Merlin. Nona orang baru, wajar jika banyak bicara. Karena nona ingin tahu semuanya. Benar bukan?"


"Tidak semuanya. Hanya ingin tahu beberapa saja," ucap Merlin membenarkan ucap sang asisten pribadi Dicky.


Asisten itu menarik sedikit senyum di bibirnya. Sekarang, dia merasa sedikit tertarik pada, Merlin.


"Nona, namaku Hero. Salam kenal dari aku," ucapnya sambil melihat Merlin dari kaca.

__ADS_1


"Salam kenal, Hero." Merlin berucap seadanya saja.


Sikap cuek itu semakin menambah rasa ketertarikan dalam hati Hero pada Merlin. Dia tertarik, bukan berarti dia suka. Tapi karena Merlin sangat berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui bersama Dicky.


Kebanyakan gadis-gadis itu terlalu banyak modus. Suka terlihat baik, padahal semua itu cuma palsu belaka. Manis di depan, namun buruk di belakang.


Terlihat manis karena berusaha untuk mengambil hati Dicky melalui orang-orang yang paling dekat dengan Dicky. Namun, Merlin berbeda. Dia sama sekali tidak terlihat sedang berusaha mencari dukungan pada siapapun. Dia terlihat elegan dengan gayanya sendiri. Bukan dengan sandiwara dan kepura-puraan.


Tak lama kemudian, pak Alek keluar dari pintu utama rumah Merlin. Dia di antar oleh Bondan sampai depan pintu dengan sikap yang sangat ramah dan manis. Lalu kemudian, mereka langsung meninggalkan rumah itu setelah pak Alek masuk ke dalam mobil.


"Nona Merlin, kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Prasetya. Untuk itu, mulai dari sekarang, kamu tidak lagi tinggal di rumah orang tuamu. Melainkan, tinggal di rumah keluarga Prasetya."


"Apa! Tinggal di rumah keluarga Prasetya? Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Merlin dengan nada kaget sekaligus kesal.


"Kenapa nona terlihat begitu kaget dengan keputusan ini? Apa ada yang salah?" tanya Hero penasaran.


"Bukan ada yang salah. Tapi ini sangat tidak sama dengan .... " Merlin tidak bisa melanjutkan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Karena saat itu dia ingat akan perjanjian mereka berdua. Perjanjian itu tidak ada yang boleh tahu, atau semuanya akan berantakan begitu saja.


"Dengan apa, Nona? Katakan saja!"


"Tidak ada. Apa aku bisa bicara dengan Dicky sekarang?"


"Nona bisa bicara nanti. Setelah kita sampai ke mansion utama. Karena tuan muda sedang berada di mansion saat ini."


"Lalu sekarang, kalian mau bawa aku ke mana?"


"Ke vila nyonya besar. Tetua keluarga Prasetya. Nona akan tinggal di vila selama satu hari satu malam bersama nyonya besar."

__ADS_1


"Hah! Tinggal satu hari satu malam bersama tetua keluarga Prasetya?"


__ADS_2