
Plak! Lagi ... sebuah tamparan kini kembali mendarat di pipi Dicky untuk yang kedua kalinya. Dicky kembali menyentuh pipi karena kini, bukan hanya hangat yang dia rasakan, melainkan, perih dan sakit.
"Kamu .... " Dicky menatap Merlin dengan tatapan tak percaya. Bagaimana tidak? Dia diberikan tamparan dengan orang dan tangan yang sama bukan hanya satu kali, melainkan, dua kali berturut-turut, di tempat yang sama lagi.
"Diam! Aku benci mulut manusia yang tidak tahu apa-apa, tapi malah menghakimi orang lain dengan seenaknya."
"Aku memang lancang telah memakai barang milikmu tanpa bicara terlebih dahulu. Tapi, aku melakukannya juga karena terpaksa."
"Aku datang ke sini tanpa membawa apa-apa dari rumahku. Uang juga tidak punya. Aku terpaksa meminjam barang milikmu karena keterpkasaan itu. Aku mengira, kamu bakal toleransi padaku karena hal itu. Tapi kenyataannya, tidak. Untuk itu, aku minta maaf. Aku akan kembalikan barang milikmu sekarang juga."
Merlin langsung beranjak menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Dicky lagi. Karena rasa geram, sakit hati tidak ia rasakan lagi sekarang.
Kurang lima menit di kamar mandi, Merlin kembali keluar dengan menggunakan pakaian basah miliknya. Dia menenteng dress milik Dicky di tangannya.
"Ini ... aku kembalikan padamu barang milikmu. Maaf sudah lancang," ucap Merlin sambil menyerahkan baju itu ke tangan Dicky yang sedari tadi diam mematung.
Lalu kemudian, Merlin beranjak pergi meninggalkan Dicky dengan cepat. Dicky masih diam mematung memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Merlin berjalan cepat. Rasa dingin tidak ia rasakan lagi meski tubuhnya sedang menggenakan pakaian basah. Perlahan, air mata jatuh dari pelupuk mata Merlin secara perlahan. Dia menyeka air mata itu secepat mungkin.
Saat melewati mobil yang Hero kendara, dia semakin mempercepat langkah kakinya. Berharap, Hero tidak melihat dia sekarang. Tapi kenyataannya, Hero malah melihat Merlin dengan sangat jelas.
Hero bergegas turun dari mobil, lalu menahan langkah Merlin dengan cepat.
"Tunggu, nona! Nona muda mau ke mana? Kenapa menggunakan pakaian basah ini, nona? Nona bisa masuk angin jika .... "
Merlin mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Hero.
__ADS_1
"Aku ingin sendiri, Hero. Tidak perlu mencemaskan aku. Karena aku bukan siapa-siapa sebenarnya."
"Oh ya, kamu tenang saja. Baju ini juga akan kering sendiri nantinya. Tidak perlu takut aku masuk angin, karena hati ini sudah kebal dengan angin." Lalu, Merlin kembali melanjutkan langkah kakinya beranjak dari tempat itu.
"Nona tunggu!" Hero berusaha menahan. Tapi, dering ponsel menghentikan langkah kakinya.
Hero memilih melihat ponselnya yang sedang berdering. Ternyata, yang sedang menghubunginya saat ini adalah Dicky. Hero memilih bergegas menjawab panggilan itu sekarang juga.
"Halo tuan muda."
"Kamu di mana?" tanya Dicky dari seberang sana.
"Saya di bawah. Masih di tempat sebelumnya tuan muda. Ada apa tuan muda?"
"Aku ingin kamu mencegah Merlin pergi jika kamu melihatnya lewat. Bawa dia kembali ke kamar apartemen sekarang juga."
"Maaf tuan muda, nona muda baru saja pergi."
'Ya Tuhan ... kenapa malah marah-marah dan menyalahkan aku sih?' Hero berucap dalam hati dengan perasaan tak habis pikir.
"Aku tidak mau tau bagaimanapun caranya, cepat cari dia sekarang juga. Bawa dia kembali!"
"Baik tuan muda. Akan saya lakukan tugas dengan baik."
Tut ... tut ... tut ....
Dicky langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Hal itu membuat Hero hanya bisa membuang napas dengan kasar. Lalu, dia segera menjalankan apa yang Dicky perintahkan padanya barusan.
__ADS_1
Hero berusaha mencari keberadaan Merlin di sekitar tempat itu. Namun sayangnya, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Merlin.
"Sial! Ke mana, nona muda sekarang? Mengapa dia pergi begitu cepat?"
"Ah, aku bisa kena omel sama tuan muda lagi nantinya," ucap Hero dengan kesal.
Berjam-jam Dicky menunggu Hero kembali membawa Merlin. Namun sayangnya, tidak ada tanda-tanda ke datangan Hero sama sekali. Dicky lalu memilih menghubungi Hero lagi, karena dia sudah merasa semakin gelisah dan tidak enak hati atas apa yang telah dia lakukan pada Merlin barusan.
"Halo, Hero. Di mana kamu? Kenapa masih belum membawa Merlin kembali?"
"Maaf tuan muda, saya masih belum menemukan keberadaan nona muda. Saya kehilangan jejak nona muda, tuan muda."
"Ya Tuhan ... kenapa kamu tidak menghubungi aku dan katakan kalau kamu kehilangan jejak Merlin sejak tadi sih Hero? Kamu tahu, aku sudah menunggu selama hampir dua jam di sini. Mana hari semakin siang lagi."
"Maaf tuan muda. Saya sedang berusaha fokus untuk menemukan, nona muda. Jadi, saya lupa untuk mengabari tuan muda."
"Ya sudah kalo gitu, minta bantuan anak buah untuk mencari keberadaan Merlin sekarang juga! Aku ingin Merlin ditemukan sebelum sore tiba."
"Siap laksanakan tuan muda."
____
Saat sore menjelang malam, anak buah Dicky baru menemukan keberadaan Merlin. Mereka segera menghubungi Dicky untuk mengabari hal itu.
"Tuan muda, kami sudah menemukan gadis yang tuan muda cari. Apa mau kami bawa ke tuan muda sekarang? Atau .... "
"Di mana kalian menemukannya? Biar aku saja datang datang ke sana," ucap Dicky cepat memotong perkataan anak buahnya.
__ADS_1
"Kami sekarang berada di TPU taman layu tuan muda. Di jalan Semangka."
"Baiklah. Tunggu di sana. Aku akan ke sana sekarang juga."