Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#68


__ADS_3

Tanpa pikir panjang lagi, Jenny langsung beranjak menuju kamar yang pelayan itu katakan. Dengan membawa hati yang sangat bahagia, dia melangkah cepat pergi ke kamar tersebut.


Sampai di kamar yang dimaksudkan, Jenny langsung mengetuk pintu kamar itu dengan senyum manis di bibirnya. Namun, sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi. Jenny tiba-tiba mencium aroma aneh yang menyengat.


Aroma itulah yang perlahan memudarkan kesadaran yang Jenny miliki. Sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya, langsung menghilang.


Pintu kamar itupun langsung terbuka setelah Jenny tidak sadarkan diri. Meskipun tidak pingsan, tapi dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan.


Dari pintu itu muncul seorang pemuda yang tak lain adalah Dika. Sebenarnya, Dika dengan Tio memiliki hubungan saudara. Mereka adalah sepupu jauh. Jadi, rencana ini juga berjalan karena campur tangan dari Dika sebagai saudara Tio.


"Tugasku sudah selesai. Aku pergi sekarang," ucap Dika pada Tio yang masih ada di dalam kamar.


"Yah ... terima kasih banyak atas bantuan mu ini. Tugasku jadi lebih gampang aku kerjakan. Oh ya, jika ada tugas lain kali, aku akan minta bantuan mu lagi yah."


"Tidak akan ada lain kali. Tolong jangan cari aku lagi. Kerjaan sulit begini, jika tidak mengingat kita saudara, aku tidak akan bersedia ikut campur."


"Cek-cek-cek ... dasar payah. Kerjaan ini kerjaan gampang tau gak? Kerjaan enak yang paling menyenangkan."


"Menurut kamu. Tapi tidak dengan aku. Aku pergi sekarang. Jangan cari aku jika ada masalah lagi."


Selesai berucap kata-kata itu, Dika langsung beranjak meninggalkan kamar tersebut. Dia tidak menunggu Tio memberikan jawaban untuk kata-kata yang dia ucapkan lagi.


Sementara Tio, dia hanya tersenyum menyeringai saja mengiringi kepergian sepupunya itu. Lalu kemudian, dia melanjutkan rencana selanjutnya untuk memberikan pelajaran pada Jenny.


Tio membawa Jenny ke ranjang kamar tersebut. Di atas ranjang itu sudah ada Yoga yang juga tidak sadarkan diri.


"Uh ... cewe kok berat banget sih? Berat dosa kali ya?"


"Nah ... sekarang, kalian bersenang-senanglah. Aku akan tinggalkan kamera pengintai untuk kalian. Tapi tenang saja, tidak akan aku awasi dengan seksama kok. Cuma buat bukti untuk mengancam kamu saja, perempuan."


Tio beranjak meninggalkan kamar tersebut. Efek obat yang dia berikan pada Jenny dan Yoga akhirnya berjalan sesuai keinginan. Merekapun melakukan hubungan terlarang bagi orang yang belum menikah.

__ADS_1


Pesta berakhir tanpa ada yang menyadari ketidakhadiran Jenny di tengah-tengah mereka. Semua yang telah di rencanakan Dicky ternyata berjalan dengan sangat lancar. Bahkan, orang tua Jenny juga tidak menyadari bahwa anak mereka sedang berada dalam masalah besar saat ini.


Pagi harinya, ketika Merlin turun dari lantai dua menuju dapur, dia melihat Dicky sudah ada di meja makan dengan segelas cokelat panas juga ponsel di tangannya. Tidak ada yang aneh dengan kehadiran Dicky itu sebenarnya, hanya saja, Merlin merasa ada sesuatu yang salah dengan Dicky pagi ini. Dicky terlihat begitu bahagia dengan ponsel yang ada di tangannya. Hal itu sangat menarik perhatian Merlin.


Dengan menyeret kaki yang masih terasa sedikit sakit, Merlin berjalan mendekat.


"Tumben bangun duluan? Kamu gak salah minum obat kan, Dic?"


Ucapan itu membuat perhatian Dicky teralihkan. Dia melupakan ponsel yang ada di tangannya untuk melihat wajah cantik Merlin yang ada di hadapannya saat ini.


"Kalau ngomong itu biasakan mikir dulu ya, nona muda. Aku gak salah minum obat, karena aku gak sakit sama sekali. Mengerti?"


"Kalau gak salah minum obat, berarti, masih dalam suasana mimpi dong ya."


Dicky menatap tajam Merlin.


"Apa maksudnya itu? Mau bikin masalah pagi-pagi begini?"


Mendengar ucapan dengan nada kesal yang Merlin ucapkan barusan, Dicky mendadak merasa bahagia. Dia menarik sudut bibir untuk mengukir senyum.


"Kamu cemburu dengan ponsel itu ya?" tanya Dicky dengan nada menggoda.


"Hah! Ap--apa? Cemburu? Hei ... ngomong itu mikir dulu tuan muda. Jangan karena mimpi kamu tadi malam, sampai pagi ini gak bagun-bagun juga ya."


"Jika bukan cemburu, kenapa kamu kesal dan gugup? Apa kamu bisa jelaskan alasannya padaku?" Dicky berucap masih dengan nada yang sama. Nada menggoda.


"Itu ... eh, siapa yang gugup? Aku? Nggak tuh. Kamu aja yang banyak berkhayal tahu gak. Orang gak cemburu kamu bilang cemburu."


"Lalu? Kenapa tiba-tiba ganggu aku pagi ini?"


"Aku gak ganggu kamu, Dicky. Cuma penasaran dengan wajahmu yang tidak terlalu tampan itu. Gak biasanya kamu terlihat begitu bahagia saat melihat ponsel itu."

__ADS_1


"Tunggu! Apa jangan-jangan, kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang sekarang? Lalu, kamu begitu bahagia karena sekarang sedang berkomunikasi dengannya lewat ponselmu itu."


Dicky menatap tajam Merlin akibat kata-kata yang Merlin ucapkan barusan.


"Bicara itu mikir dulu, mbak. Jangan main asal tebak aja. Aku bahagia bukan karena berkomunikasi dengan orang yang aku cintai lewat ponsel ini. Karena orang yang aku cintai itu adalah ka .... "


"Lupakan saja. Aku bahagia karena ada pertunjukan besar pagi ini. Cepat siap-siap jika ingin ikut."


"Pertunjukan apa? Bagaimana aku bisa ikut dengan kaki yang seperti ini? Jangankan jalan keluar, jalan di rumah aja sulit."


"Kan ada aku. Kamu bisa berpegangan dengan aku. Lagian, kita keluar juga karena ada hal yang sangat penting."


"Dari tadi, kamu hanya bilang kiasan-kiasan saja. Tidak bilang dengan jelas maksud juga tujuan penting apa. Bagaimana aku bisa pergi jika tidak tahu dengan jelas ke mana dan apa tujuan kita pergi sepagi ini."


"Baiklah, nona Merlin. Aku tahu kamu orang yang sangat hati-hati dan selalu waspada. Sampai-sampai, suami sendiri saja kamu curigai."


"Hei kita nikah sebatas .... "


"Oke, aku tahu. Tidak perlu bicara panjang soal itu. Kita akan pergi ke hotel. Aku pagi ini ada janji bertemu dengan pemilik hotel yang aku lihat kemarin. Aku akan melakukan serah terima hotel itu pagi ini."


"Lalu? Apa hubungannya dengan aku?"


"Tentu saja ada hubungannya dengan kamu. Karena hotel yang aku beli kali ini atas nama kamu, Merlin."


"Apa! Tidak benar itu. Jangan main-main kamu, Dic."


"Apa wajah ini terlihat suka main-main, Lin?" tanya Dicky sambil menunjuk wajahnya.


"Mm ... sebenarnya tidak. Tapi, bukan berarti itu benar-benar tidak. Karena kamu sangat pintar menyembunyikan keburukan dari wajahmu."


"Apakah aku seburuk itu di mata kamu, Merlin?"

__ADS_1


Dicky berucap dengan nada kecewa juga mimik wajah yang sangat jelas tidak senang.


__ADS_2