
Sementara Merlin. Dia berusaha menahan gejolak yang sama seperti yang Dicky rasakan. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona agar Dicky tidak melihat.
"E ... aku ... aku ke kamar mandi dulu. Sudah tidak tahan." Merlin berucap sambil bagun dari duduknya dengan cepat. Yang ada dalam pikiran Merlin sekarang hanyalah menghindar. Menjauh dari Dicky, sejauh mungkin.
Hampir dua puluh menit lamanya, Merlin berdiam diri di kamar mandi dalam kamarnya. Dia berdiri mematung sambil melihat diri di depan cermin.
"Ternyata tidak mudah untuk aku bersikap biasa-biasa saja di hadapan Dicky. Uh ... itu mudah diucapkan, tapi tidak mudah dilakukan."
Merlin menarik napas panjang, lalu melepaskan dengan berat.
Setelah merasa bisa menguasai hati. Barulah Merlin beranjak keluar dari kamarnya. Dia memilih langsung turun ke bawah untuk melihat Dicky yang dia tinggali selama dua puluh menit tanpa kata yang pasti.
Setelah sampai ke bawah, Merlin sama sekali tidak menemui Dicky di sana. Yang ada hanya ruangan kosong tanpa orang. Meja makan juga sudah bersih.
"Bik .... "
"Ya, non." Bi Imah datang dari arah dapur dengan tangan basah.
"Bibi sedang apa tadi?"
"Cuci piring, non."
"Oh. Maaf, aku sudah ganggu bibi yang sedang bekerja. Oh ya, aku hanya ingin bertanya, di mana Dicky sekarang, Bik? Apa bibi tahu di mana dia?"
"Hm ... tuan muda sudah pergi kurang lebih lima belas menit yang lalu, nona. Tuan muda tidak bilang mau pergi ke mana. Cuma, dia titipkan kartu yang ada di saku celemek bibi ini untuk nona. Dia juga titip pesan sama bibi, minta bibi ajak nona keluar jalan-jalan. Katanya, biar nona gak bosan terus-terusan di rumah."
"Oh, dia bilang gitu bik?"
"Iya, non. Itu semua pesan tuan muda sebelum keluar."
"Mm ... dasar Dicky. Ya sudah. Tunggu apa lagi? Ayo berangkat bik!" ucap Merlin sambil menarik tangan bi Imah.
__ADS_1
"Eh, bibi belum siap beres-beres, non."
"Gak papa. Bisa dilanjutkan nanti beres-beresnya. Sekarang, kita jalan-jalan dulu. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang selama ini ingin aku kunjungi."
"Ah, yasudah kalo gitu. Tunggu sebentar. Bibi siap-siap dulu ya, non."
"Iya, bik. Aku tunggu di mobil ya."
"Baik, nona."
Sementara itu, di kediaman keluarga Prasetya, Dicky baru saja tiba di depan gerbang kediaman mewah tersebut. Karena sudah terbilang lama tidak pulang, dia di sambut dengan kebahagiaan oleh semua pekerja di kediaman itu.
"Tuan muda, akhirnya, tuan muda kita pulang juga." Salah satu pekerja berucap dengan nada sangat bahagia.
"Iya. Tuan muda kita terlihat semakin tampan saja ternyata. Oh ya, apa tuan muda pulang sendirian? Atau ... apa dia bawa istrinya pulang sekarang? Aku sangat ingin sekali melihat seperti apa isteri tuan muda. Karena hampir dua bulan tuan muda menikah, tuan muda belum pernah sekalipun membawa pulang istrinya ke kediaman ini."
"Jangankan kamu, aku juga ingin melihatnya. Bahkan, seluruh kediaman ini, semua pekerja yang bekerja di kediaman ini juga ... aku rasa ingin melihat istri tuan muda seperti apa. Sayangnya, kali ini juga sepertinya, tuan muda masih tidak membawa pulang istrinya. Lihat saja dia berjalan sendirian menuju pintu utama."
"Ah, sampai kapan kita harus menahan rasa penasaran ini ya? Sampai kapan tuan muda harus menyembunyikan istrinya dari kita?"
Sontak, ucapan itu membuat beberapa pekerja yang berkerumun kaget bukan kepalang. Meski majikan mereka tidak galak, namun rasa kaget itu tentu saja tetap akan ada.
"Tu--tuan ... tuan besar. Maaf ... maafkan kami tuan besar. Kami hanya ... hanya penasaran dengan istri tuan muda," ucap salah satu dari mereka yang berani.
"Tidak masalah. Aku tidak marah pada kalian. Karena sama seperti kalian, aku juga sangat ingin membawa menantuku pulang ke kediaman ini. Ya meskipun hanya pulang untuk bertamu, tidak menginap. Tapi sayangnya, belum ada waktu yang tepat. Karena Dicky masih belum bersedia untuk membawa istrinya pulang ke sini."
"Heh ... aku juga tidak menyalahkan Dicky sebenarnya. Karena kekhawatiran dia atas istrinya itu memang tepat. Apalagi saat seperti ini, saat Intan menghilang tanpa kabar. Itu semakin menambah kekhawatiran Dicky untuk membawa pulang istrinya."
"Ah, sudahlah. Kalian lanjut saja bekerja. Aku akan temui anakku sekarang."
"Baik, tuan besar." Mereka berucap serentak sambil sedikit membungkuk hormat pada majikan mereka.
__ADS_1
Bagas berjalan cepat untuk menyambut kedatangan anaknya. Tepat saat Dicky berada di ruang tamu, Bagas juga sampai di sana.
"Dicky. Kamu beneran datang sendiri?" tanya Bagas sekedar basa-basi. Padahal dia sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya itu.
"Tentu saja aku datang sendiri. Kalau tidak, dengan siapa lagi?"
"Hm ... iya-iya. Papa tahu kamu orangnya tidak suka bikin kejutan. Tapi ... ya sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Ayo duduk dulu! Tunggu bibi membuatkan minuman kesukaan kamu."
"Langsung saja, Pa. Bicarakan langsung apa yang perlu kita bicarakan. Tidak perlu terlalu banyak basa-basi."
"Kamu seperti sedang bicara dengan musuh saja, Dicky. Ini rumah kamu, aku papa kamu. Jadi, kenapa terlalu formal rasanya saat bicara."
"Aku banyak urusan di luar, Pa. Tidak bisa terlalu banyak basa-basi di sini. Banyak hal yang harus aku urus sekarang."
"Hm ... baiklah kalau kamu memang benar-benar sibuk. Kita bisa langsung bicara soal mama kamu saja. Ayo ikut papa ke ruang kerja. Bicara di sana lebih nyaman."
"Hm."
Dicky pun mengikuti langkah papanya dari belakang. Mereka berjalan perlahan menuju ruang kerja sang papa yang ada di lantai dua.
"Oh ya, Dic. Bagaimana masalah di kantor cabang yang kamu miliki? Apa sudah ditangani sekarang?"
"Sudah. Aku sudah minta Hero menangani semuanya. Semuanya sudah beres."
"Kamu sudah mendatangi kantor cabang belum selama masalah terjadi?"
"Belum. Aku tidak punya waktu untuk datang ke kantor cabang. Jangankan kantor cabang, kantor pusat saja tidak aku datangi selama satu bulan terakhir ini."
"Ya Tuhan ... kamu ini pemilik perusahaan itu lho, Dic. Jangan limpahkan semua tugasmu pada Hero sendirian. Kasihan dia. Dia pasti sangat kewalahan dalam mengurus semuanya."
"Mau bagaimana lagi? Aku sibuk."
__ADS_1
"Gini aja. Papa sarankan kamu buat nambah satu asisten lagi untuk mengurus salah satu perusahaan kamu. Dengan begitu, tugas kamu dan tugas Hero bisa sedikit ringan, bukan?"
"Tidak perlu lagi, Pa. Aku akan fokus dengan kantor pusat. Sementara Hero akan aku tugaskan mengurus kantor cabang. Karena sekarang, aku memilih berhenti sekolah."