Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#47


__ADS_3

Intan terdiam untuk beberapa saat lamanya. Dia memikirkan apa yang Tias ucapkan barusan. Ucapan itu terdengar meyakinkan. Namun, hati kecilnya menolak untuk mengikuti. Karena sekarang, ketakutan akan suaminya lebih besar dari pada ketakutan akan kehilangan kedudukan di keluarga Prasetya.


"Apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga, Tias. Hanya saja ... aku tidak bisa bantu Cindy jadi nyonya keluarga Prasetya lagi. Karena sekarang, Bagas tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan. Dia bahkan pernah mengancam aku supaya tidak merusak kehidupan rumah tangga anaknya. Dia bilang, dia akan membuat perhitungan padaku, jika dia tahu aku telah berusaha merusak kehidupan Dicky."


Tias terdiam mendengarkan kata-kata yang Intan ucapkan. Benaknya berusaha mencerna apa yang Intan katakan.


'Ternyata benar apa yang Cindy katakan padaku. Intan ini sekarang sama buruknya dengan sampah di keluarga Prasetya. Jadi, tidak ada gunanya lagi buat aku dan Cindy.' Tias bicara dalam hati sambil melihat Intan dengan tatapan tajam.


"Ya sudah kalau gitu, Tias. Sepertinya, aku harus pulang sekarang." Intan bagun dari duduknya. "Oh ya, ingat dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Jangan coba-coba menjalankan rencana yang kita buat lagi. Karena kalian akan dapat akibatnya dari Bagas. Kalian harus tahu, mas Bagas itu tidak pernah main-main dengan apa yang dia katakan. Dia bisa bersikap kejam, bahkan sangat kejam pada orang yang tidak dia sukai. Atau ... pada orang yang sudah dengan sengaja mencari masalah padanya."


Tias masih tidak menjawab. Sementara Intan, tidak menunggu jawaban lagi, dia segera beranjak meninggalkan sofa ruang tamu rumah tersebut.


'Sepertinya aku memang benar-benar harus mengubah rencana yang sudah aku susun sejak lama. Aku tidak bisa mengandalkan Cindy menjadi nyonya besar keluarga Prasetya lagi jika ingin kaya. Tapi, aku terpaksa mengandalkan diri sendiri untuk maju ke medan perang agar aku bisa kaya dan punya kedudukan tinggi pada pandangan orang banyak.'


Tias bagun dari duduknya. Lalu meraih vas bunga yang terbuat dari batu yang ada di atas meja. Kemudian, dia berjalan cepat untuk mengejar Intan yang sedang berjalan pelan menuju pintu keluar rumahnya.


"Kak Intan."


Lalu ... plak. Saat Intan menoleh untuk melihat Tias, tangan Tias langsung memukul Intan dengan vas bunga tersebut.

__ADS_1


Pukulan keras yang tepat mengenai sasaran membuat Intan tidak bisa mengimbangi tubuhnya lagi. Dia langsung tersungkur dengan kepala berdarah ke atas lantai keramik yang keras.


Untuk sesaat lamanya, Tias memperhatikan tubuh Intan yang terbaring dengan darah segar mengalir perlahan. Ada rasa takut juga menyesal dalam hatinya. Namun, rasa itu dengan cepat disingkirkan oleh rasa serakah yang menguasai hati.


"Maafkan aku, kak Intan. Aku tidak bermaksud melukai apa lagi membunuh kamu. Hanya saja, aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu. Sekali lagi maaf."


Tias bicara pada Intan yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Namun, ketika Tias meraba denyut nadi di tangan Intan, denyutnya masih ada.


"Ternyata tidak mati. Barang kali cuma pingsan saja. Bagus deh kalo gitu. Aku juga tidak ingin membunuh kamu untuk saat sekarang. Cuma ingin menahan kamu di sini, sampai semua orang lupa dengan keberadaan kamu. Itu saja."


Tias lalu memegang kedua tangan Intan. Lalu, dia tarik sekuat tenaga tubuh Intan menuju kamar kecil yang tidak terpakai. Sampai di sana, dia ikat kaki dan tangan Intan dengan tali. Kemudian, dia bekap mulut Intan dengan lakban.


"Diam di sini dulu ya, kak Intan. Aku akan kirim kamu ke tempat lain jika aku sudah berhasil menggantikan posisimu sebagai nyonya besar di keluarga Prasetya. Aku janji, secepatnya aku akan gantikan posisi kamu agar kamu bisa cepat keluar dari sini. Doain ya, supaya cepat berhasil."


"Ah, kamu yang bodoh ini ada bagusnya juga. Kan bisa aku manfaatin. Lah sekarang, karena kamu tidak bisa aku manfaatin lagi, maka akan aku singkirkan."


"Ya sudahlah ... aku capek. Mau istirahat dulu. Capek bawa kamu ke sini. Kamu berat banget soalnya. Da ...."


Tias langsung meninggalkan Intan yang masih pingsan di kamar itu sendirian. Tanpa dia obati luka yang ada di kepala Intan terlebih dahulu.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di taman tak jauh dari tempat pemakaman umum, Merlin sedang duduk termenung sendirian. Dia merasa sedikit tenang setelah mendatangi juga bercerita di makam mamanya. Dan sekarang, dia hanya masih ingin sendiri. Makanya, dia duduk di taman itu sambil terus termenung.


Saat Merlin masih duduk termenung sendirian, seorang pemuda yang sedari tadi sudah memperhatikan Merlin dari kejauhan, datang mendekat. Pemuda itu tersenyum pada Merlin. Namun Merlin tidak meladeninya.


"Hai ... boleh aku duduk?" tanya pemuda itu setelah diabaikan oleh Merlin.


"Jika ingin duduk, ya duduk saja. Kenapa harus tanya padaku. Ini tempat umum. Bukan tempat pribadi." Merlin menjawab dengan nada sinis. Dia juga tidak menoleh sama sekali.


Mendapat perlakuan itu, pemuda tersebut bukannya marah, tapi malah tersenyum.


"Luar biasa pedas juga. Kayak cabe rawit rasanya."


Mendengar kata-kata itu, Merlin menoleh untuk melihat pemuda tersebut sesaat. Namun, tidak lama, dia kembali mengabaikan pemuda itu tanpa kata.


"Ada masalah berat ya? Aku lihat ... kamu sepertinya sudah termenung sejak tadi."


"Bukan urusan kamu. Lagian, kamu ini seperti orang kurang kerjaan saja. Ngapain memperhatikan aku? Gak ada kerjaan di rumah?"


"Jawabannya, tidak ada. Jika ada, mana mungkin aku datang ke sini. Lagian, aku datang ke sini juga sedang mencari kerjaan. Mana tahu, ada yang butuh tenaga kerja."

__ADS_1


"Terserah kamu saja," ucap Merlin sambil bangun dari duduknya. Dia merasa kesal karena tidak berhasil membuat pemuda yang menjengkelkan itu menjauh darinya. Bukannya menjauh, pemuda itu malah kelihatan semakin senang bicara dengannya.


"Eh ... mau ke mana?" tanya pemuda itu sambil menahan tangan Merlin dengan cepat.


__ADS_2