Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#61


__ADS_3

"Cukup. Aku tidak ingin mendengarkan apa yang kamu bicarakan tentang dia. Sekarang aku tanya, apa kamu baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi padamu, bukan?"


Pertanyaan itu membuat Merlin mendadak kebingungan. Dengan memasang wajah yang benar-benar bingung, dia melihat Dicky yang ada di sampingnya sekarang.


"Hah? Kenapa kamu malah menanyakan aku? Aku tentulah baik-baik saja. Apa yang perlu kamu cemaskan dari aku? Sekarang, yang harus kamu cemaskan itu sebenarnya adalah mama tiri kamu, Dic. Dia baru saja terluka. Kamu perlu mencari tahu siapa yang telah tega menyakiti dia."


"Dia disakiti atau tidak, itu bukan urusan aku, Merlin. Jika memang dia di sakiti oleh seseorang, aku yakin, itu karena dia yang mulai duluan."


"Kenapa pikiranmu tentang mama tiri kamu semuanya hal buruk sih, Dic? Aku kok merasa, kamu jadi orang terlalu kejam sekarang."


Kata-kata itu langsung membuat Dicky memberikan tatapan tajam pada Merlin.


"Kamu pikir aku kejam padanya? Kamu salah, Lin. Yang kejam duluan itu dia. Aku hanya bersikap sewajarnya saja untuk membalas perlakuan dia padaku, juga pada keluarga ini."


"Apakah saat dia benar-benar membutuhkan, kamu juga akan tetap bersikap kejam padanya, Dicky?"


"Tentu saja. Karena yang mulai duluan itu dia."


"Itu namanya tidak adil, Dicky. Jika kekerasan di balas dengan kekerasan, maka selamanya tidak akan ada yang namanya kedamaian. Terkadang, kita juga harus mengalah untuk menciptakan suasana yang baik."


"Kamu bisa bilang seperti itu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Kamu adalah kamu, sedangkan aku adalah aku. Kita berbeda, Merlin."


Selesai berucap kata-kata itu, Dicky langsung beranjak meninggalkan Merlin. Dia berjalan cepat keluar dari kamar tersebut tanpa melihat kebelakang lagi.


Setelah Dicky hilang dari pandangannya, Merlin mengukir senyum miris sambil terus melihat pintu kamar.


"Kamu bilang aku tidak pernah mengalami hal buruk dari mama tiri seperti yang kamu rasakan sekarang, Dic? Sayangnya, apa yang kamu katakan itu salah besar. Perlakuan mereka lebih buruk lagi dari pada perlakuan mama tiri mu padamu sekarang. Tapi, ya sudahlah. Mungkin aku memang tidak seharusnya ikut campur dalam urusan pribadi dia."


Merlin juga berniat untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun, saat dia membuka pintu, dia dikagetkan dengan keberadaan Intan yang sedang berdiri tegak dihadapannya.

__ADS_1


"Tan--tante? Kok ... tante ... ada di sini?" Merlin berucap sedikit gugup. Dia merasa sedikit tidak enak hati juga kasihan pada Intan.


"Anak baik, em maksud tante, Merlin. Bisa tante bicara sama kamu sekarang, Nak? Ada yang ingin tante bicarakan. Tidak penting sih, hanya sekedar ingin ngobrol aja."


"Boleh, tante. Ayo masuk ke dalam saja. Kita ngobrol di kamar ini saja."


"Eh, tidak usah di kamar. Kita ngobrol di taman saja. Tante ... tante gak enak jika ngomong di tempat tertutup."


"Oh, ya sudah. Kita ke taman sekarang."


"Ayok!"


Intan dan Merlin berjalan beriringan menuju taman. Selama perjalanan berlangsung, ada banyak mata yang memperhatikan mereka. Terutama, pelayan mata-mata yang Bagas tugaskan untuk mengawasi Intan.


Sementara itu, Dicky yang berada di lantai atas mansion empat tingkat itupun ikut memperhatikan gerak-gerik mama tiri juga istrinya dari kejauhan. Tidak sedikitpun ia bisa mengalihkan pandangannya dari mereka. Karena dalam hati, dia tentu merasa takut jika mama tirinya berulah. Meski dia menikah bukan karena cinta, tapi Merlin begitu berharga bagi hatinya sekarang.


Saat Dicky terus memperhatikan gerak-gerik mama tirinya, tiba-tiba, ponsel yang ada dalam saku celananya berbunyi. Seketika, perhatian Dicky teralihkan karena bunyi ponsel tersebut.


"Tio?" Dicky berucap dengan nada penasaran.


Tanpa menunggu lama lagi, Dicky langsung menggeser layar ponsel tersebut untuk menjawab panggilan dari Tio.


"Ya, ada apa?" tanya Dicky langsung setelah telepon mereka sama-sama tersambung.


"Ya Tuhan tuan muda, bisakah kamu sedikit manis padaku? Aku ini sahabat kamu tau gak?"


"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan kamu, Tio. Jadi, langsung katakan apa alasan kamu menghubungi aku."


"Mm ... seperti biasa, tuan muda kita ini masih sama. Tidak sedikitpun berubah walau sudah punya istri."

__ADS_1


"Tio, aku langsung tutup saja panggilannya. Karena kamu sepertinya tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan aku."


"Terserah kamu saja, Dicky. Jika kamu tutup panggilan ini, maka kamu akan kehilangan berita penting yang ingin aku sampaikan padamu."


"Berita penting? Katakan langsung!"


"Baiklah, aku tahu kamu orangnya tidak asik jika diajak ngobrol. Aku cuma ingin katakan, dua hari lagi adalah hari ulang tahun Jenny. Aku tahu kamu ingin bikin perhitungan padanya, karena dia yang telah menyebar berita sehingga istrimu harus dikeluarkan dari sekolah."


"Hm ... ini baru kabar bagus, Tio. Kenapa gak bilang dari tadi aja sih?"


"Yang penting aku sudah bilang kan, Dic."


"Oh ya, aku juga punya info lain tentang Jenny untuk kamu."


"Apa? Jika infonya benar-benar berkesan, dua puluh persen saham perusahaan Dicning grup akan aku berikan padamu."


"Oh, tuan muda yang baik hati. Sayangnya, aku tidak ingin saham yang kamu miliki. Karena aku tidak tertarik untuk jadi pembisnis."


"Lalu, apa yang kamu inginkan dari aku sebagai imbalan dari info yang akan kamu berikan padaku?"


"Aku ingin pacar, Dic. Aku ingin sama seperti kamu. Menikah dengan perempuan yang tepat. Lalu, menjalani kehidupan rumah tangga di usia muda. Itu terdengar sangat indah."


"Gila. Kamu pikir aku gudangnya perempuan? Atau, kamu pikir, aku ini aplikasi penemu jodoh yang tepat buat kamu. Ah, jangan aneh-aneh kami, Tio."


"Lebih baik aku berikan kamu saham yang aku miliki, dari pada kamu minta aku temukan perempuan buat kamu jadikan istri. Karena itu lebih gampang buat aku."


"Yah ... lalu, aku harus nyari di mana calon istri?"


"Mana aku tahu? Kamu itukan juga tuan muda keluarga yang cukup ternama. Tampang juga lumayan okelah. Lagian, juga banyak perempuan yang ngantri buat jadi pacar kamu selama ini. Kenapa gak milih salah satu dari mereka saja? Terus ajak nikah."

__ADS_1


"Itu namanya gila, tuan muda. Perempuan yang selalu mengelilingi kita itu semuanya tidak tulus. Mereka hanya pintar manis di depan. Terus saat di belakang, busuk tak terkira. Aku tidak ingin mereka."


"Terserah kamu. Cari sendiri dan jangan minta padaku. Aku bukan biro perjodohan. Sekarang, cepat katakan apa info yang kamu miliki. Jangan buat aku semakin kesal padamu."


__ADS_2