
"Merlin! Aku belum selesai bicara padamu! Kamu tidak bisa pergi sekarang," ucap Bondan dengan nada tinggi sambil terus menahan tangan Merlin.
"Anda jangan kurang ajar dengan istri saya, pak Bondan. Jangan berani-berani anda bentak istri saya di sini, atau di manapun. Karena istri saya adalah berlian bagi keluarga kami. Meskipun kalian cuma anggap dia batu kali yang tidak berarti. Itu karena anda tidak punya mata untuk menilai."
"Tuan muda Prasetya. Saya harap tuan muda mengerti. Saya bicara dengan istri anda, itu karena istri anda adalah anak saya. Wajar jika saya kasar bicara, karena saya ingin mengajarkan dia bagaimana caranya sopan santun dengan orang tua."
"Wajar anda bilang? Sepertinya anda sudah pikun ternyata. Haruskah saya ingatkan pada anda, anda sudah memutuskan hubungan keluarga dengan dia waktu itu. Jikapun hubungan darah itu tidak akan pernah bisa dihilangkan, tetap saja, anda harus berkaca sebelum bicara. Karena sebelum anda bicara, anda harus memperbaiki diri anda dulu. Istriku tidak salah. Jadi, jangan coba-coba bicara yang tidak baik padanya."
"Tuan muda, saya yakin kalau apa yang terjadi hari ini adalah ulah Merlin. Dia sengaja menjebak .... "
"Bukan ulah istriku. Melainkan, ulah aku. Aku yang melakukan semua ini karena aku ingin memberi pelajaran padanya, juga padamu dan istrimu. Aku ingin melihat kalian merasa malu seperti yang istriku rasakan waktu itu. Jadi, jika ingin marah, marahlah padaku. Karena semua ini, aku yang buat."
"Tu--tuan ... tuan muda. Ke--kenapa anda begitu tega pada kami?" Bondan bicara terbata-bata karena dia sangat kaget sekaligus tak berdaya dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
"Karena kalian begitu tega pada istriku. Kalian buat dia terpaksa menikah diusia yang masih muda. Lalu, kalian buat dia terluka dengan sikap rakus kalian. Dan yang paling tidak bisa aku terima, kalian buat dia kehilangan cita-citanya untuk meraih masa depan yang begitu ia impikan."
"Ya walaupun sebenarnya, aku sangat berterima kasih dengan apa yang anak tiri mu lakukan waktu itu. Jika dia tidak menjebak kami malam itu, maka kami tidak akan bertemu dan menikah seperti saat ini. Aku benar-benar berterima kasih. Tapi, pelajaran juga harus aku berikan atas nama istriku."
"Ee ... tuan muda, aku akan melupakan apa yang sudah tuan muda lakukan pada anak tiri ku juga keluarga kami. Tapi, aku minta tuan muda bersedia menjadi investor buat perusahaan ku. Karena saat ini, perusahaan kami sedang dalam masalah keuangan."
"Heh ... apa anda bilang? Minta aku jadi investor buat menyuntikkan dana untuk perusahaan anda yang berada diambang kebangkrutan? Yang benar saja jika ingin bicara pak Bondan. Jangan mimpi anda."
"Tuan muda, itu bukan hanya perusahaan saya. Itu adalah perusahaan keluarga yang saya dan almarhumah istri saya bangun bersama. Jika perusahaan itu bangkrut, maka tidak ada lagi peninggalan almarhumah istri saya."
__ADS_1
"Merlin, tolong bujuk suami kamu untuk menjadi investor buat perusahaan kita. Itu adalah hasil kerja keras mama kamu. Jangan biarkan perusahaan itu hilang. Nanti, tidak ada lagi peninggalan mama kamu untuk keluarga kita."
Merlin tersenyum mengejek.
"Perusahaan kita? Sejak kapan papa sadar kalau itu bukan perusahaan papa sendiri? Sejak papa butuh bantuan aku? Sayangnya, sekarang aku tidak merasa kalau perusahaan itu juga perusahaan almarhumah mama. Karena sejak mama pergi dan papa menikah lagi dengan janda anak satu itu, papa sudah lupa dengan hak aku, yaitu, bagian mama dalam perusahaan."
"Merlin, aku tidak pernah lupa dengan hak kamu. Buktinya saja, sekarang aku ingat bukan?"
"Iya, papa ingat. Papa ingat setelah papa susah berada diambang kebangkrutan dan tidak punya pilihan lain selain minta bantuan padaku. Maaf, Pa. Aku tidak bisa bantu papa. Permisi."
"Ayo, Dic! Pergi sekarang."
"Hei! Dasar anak tidak tahu diri. Aku rawat kamu dari kecil hingga seperti sekarang, setelah kamu hidup mewah dan kaya, kamu tidak memandang aku. Benar-benar jah*nam kamu!"
Bondan berteriak keras karena diabaikan oleh Merlin dan Dicky. Mendengar kata-kata kasar yang Bondan ucapkan barusan, Dicky merasa sangat kesal. Dia ingin kembali untuk memarahi Bondan. Namun, tangannya terhalang oleh rangkulan tangan Merlin.
"Tidak perlu memperpanjang masalah, Dic. Aku sudah cukup terluka dengan ucapannya. Jadi, tidak perlu menanggapi papa lagi. Lagian, tidak ada hasilnya bicara panjang lebar dengan orang yang tidak mau memahami. Kita akan capek bicara, tapi tidak ada hasilnya. Jadi, pilihan yang paling tepat adalah membiarkan. Biarkan saja dia bicara sesuka hati. Kita tidak perlu menanggapi."
"Tapi ... apa kamu benar-benar gak papa sekarang?"
"Kenapa tanya aku seperti itu, Dicky? Sudah pasti aku baik-baik saja. Kamu gak lihat wajah ini? Apa dia seperti orang yang sedang dalam situasi yang tidak baik?" tanya Merlin sambil menunjuk wajahnya.
Dia memaksakan senyum manis untuk dia perlihatkan pada Dicky sekarang. Padahal sebenarnya, dalam hati dia memang merasa tidak baik. Ucapan papanya yang sangat kasar itu, selalu saja mampu merusak juga meremuk hatinya.
__ADS_1
'Maaf, Dicky. Aku tidak bisa jujur padamu. Pura-pura baik-baik saja dihadapan kamu, itu adalah cara terbaik yang aku punya. Karena aku tidak ingin kamu membuang waktumu hanya untuk membela aku.'
Dicky menatap mata hitam Merlin yang sepertinya sedang menahan rasa sakit. Itu ia tebak dari tatapan sendu yang sedang berusaha menyembunyikan tangisan agar tidak tumpah keluar.
'Aku tahu kamu sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit, Lin. Karena matamu tidak bisa bohong. Bibirmu tersenyum, tapi matamu berkaca-kaca seperti sedang ingin menangis. Bagaimana kamu bisa sekuat ini di hadapanku, Merlin?'
"Mm ... Lin. Apa kamu tidak ingin aku jadi investor buat perusahaan itu?" tanya Dicky tiba-tiba.
Pertanyaan Dicky barusan sontak membuat Merlin memberikan tatapan tajam buat Dicky.
"Kamu ingin jadi investor buat perusahaan papa?"
"Tentu saja. Tapi jika kamu meminta."
"Bagaimana jika aku minta kamu jangan pernah melakukan hal bodoh dengan menjadi investor buat perusahaan papaku?"
"Akan aku ikuti. Tapi, berikan aku alasan untuk sesuatu yang kamu minta."
"Lalu, kenapa kamu tidak memikirkan alasan sebelum bertanya padaku untuk menjadi investor buat perusahaan papa yang hampir bangkrut?"
"Untuk hal itu, aku sudah punya alasan, Lin."
"Apa? Katakan padaku kenapa kami bisa mikir hal yang tidak masuk akal itu."
__ADS_1
"Yah ... aku pikir, kamu ingin mempertahankan perusahaan yang almarhumah mamamu bangun. Jadi .... "
"Tidak. Aku tidak ingin mempertahankannya. Karena semua jerih payah yang mamaku berikan buat perusahaan itu sudah lenyap ikut bersama kepergiannya. Aku tidak ingin bersikap bodoh dengan mempertahankan sesuatu yang hanya di atas namakan. Tidak dengan kenyataan yang sebenarnya."