Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#24


__ADS_3

"Kesempatan apa lagi yang bisa aku dapatkan, Tante? Kak Dicky sudah menikah. Dia sudah punya istri. Yang benar saja ada kesempatan kedua. Aku tidak ingin menjadi perebut suami orang. Aku tidak ingin dicap sebagai pelakor , tante."


"Sayang, terkadang, kita harus mengabaikan apa yang orang pikirkan tentang kita. Jika kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan tentunya."


"Tante mu benar, Cindy. Apa pentingnya pendapat orang lain tentang kita? Yang penting, kita bahagia dengan apa yang kita punya. Persetan dengan pendapat mereka semua yang berpikiran macam-macam soal kita. Mereka itu iri pada kita. Makanya mereka berpikiran yang tidak-tidak terhadap kita."


"Tapi .... "


"Sudahlah. Jangan mikir yang nggak-nggak. Kamu gak akan dicap sebagai pelakor, cantik. Karena kamu gak merebut suami orang. Kamu hanya menggambil apa yang seharusnya jadi milikmu."


"Maksud, tante?"


"Ya kamu hanya mengambil Dicky dari perempuan yang sudah merebut Dicky dari kamu. Karena sebelumnya, Dicky itu memang harusnya kan jadi suami kamu jika tidak ada perempuan itu. Benar bukan?"


Cindy terdiam. Dia perlahan mencoba mencerna apa yang Intan katakan. Anehnya, pikiran itu membenarkan setiap kata yang Intan ucapkan barusan.


"Sayang, tidak perlu terlalu dipikirkan. Karena semua yang tante mu katakan itu benar adanya. Kamu tidak akan dicap sebagai pelakor. Karena kamu gak merebut suami orang lain. Kamu hanya merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu, kan?"


"Benarkah begitu, mama? Tante?"


"Tentu saja benar, Cindy. Orang yang dinamakan pelakor itu datang kemudian. Sedangkan kamu, kamu datang duluan dalam kehidupan Dicky, kan?"


"Iya. Apa yang tante dan mama katakan itu benar. Aku yang kenal kak Dicky duluan. Aku juga susah dipilih sebagai calon tunangan untuk kak Dicky sebelumnya. Atas dasar apa aku dicap sebagai pelakor jika merebut kak Dicky dari perempuan itu?"


"Nah, itu kamu tahu."


"Tapi ... bagaimana cara aku bisa merebut kak Dicky dari gadis itu, tante? Kak Dicky aja terlihat sangat menyukai gadis itu."

__ADS_1


"Soal itu, kamu tidak perlu pusing, Cindy. Karena tante mu ini sudah punya cara ampuh buat mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan."


"Benarkah? Gimana caranya?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri, sayang."


"Tante .... "


"Udah. Jangan manja gitu. Kamu hanya tinggal tunggu kabar baik dan perintah dari tante mu saja. Nanti, apa yang tante mu katakan, kamu lakukan dengan sebaik mungkin," ucap Tias pada anaknya.


"Baiklah. Aku akan tunggu dengan berat hati."


Mereka terus ngobrol dengan serius tanpa menyadari satu hal. Ada seseorang yang sedang mendengar obrolan itu dengan sabar dibalik taman hias yang rimbun. Orang yang tentunya akan menjadi penghambat buat rencana jahat yang akan mereka jalani. Mereka yang tidak waspada, melupakan di mana keberadaan mereka saat ini dan mengabaikan hal penting itu.


Di sisi lain, Dicky sedang sibuk mengambil apa yang ingin dia ambil di mall tersebut. Tentunya, dengan Hero sebagai penampung barang apa yang dia ambilkan.


"Lin, ayo pergi! Aku sudah selesai," ucap Dicky sambil menyentuh pundak Merlin yang berdiri sambil melihat ke arah depan.


"Oh." Merlin berucap sambil menoleh ke samping, di mana Dicky sedang berdiri.


Awalnya, dia biasa saja ketika melihat Dicky yang datang. Namun, ketika melihat ke arah Hero, Merlin ternganga dengan apa yang matanya lihat. Bagaimana tidak kaget coba? Hero sedang membawa timbunan baju di dalam gendongannya. Diperkirakan, ada puluhan pasang baju sampai terlihat menggung dalam gendongan tersebut.


"Tunggu, Dic! Kamu masih waras kan?" tanya Merlin masih dengan nada kaget dengan pandangan yang masih tetap melibat Hero.


"Apa yang kamu katakan? Sejak kapan aku tidak waras, hm?"


"Aku rasa, sejak kamu masuk ke dalam sana untuk membeli baju sebanyak itu. Ya Tuhan ... baju apa yang kamu beli sampai tinggi menggunung seperti itu, Dicky."

__ADS_1


"Oh, itu. Karena kamu tidak ingin milih baju mana yang kamu sukai, maka aku belikan semua baju yang aku rasa cocok untukmu. Jadinya ... ya sebanyak itu." Dicky berucap dengan wajah santai.


"Hah! Semua pakaian yang menggunung itu untuk aku? Kamu yang benar saja, Dicky." Merlin terlihat semakin kaget saat mendengar kata-kata Dicky barusan.


"Lho, tidak benarnya ada di mana. Jelas saja semua baju itu untuk kamu. Bukankah tujuan kita datang ke mall ini untuk berbelanja semua kebutuhan kamu? Masa iya aku beli baju untuk orang lain, atau yang tidak mungkinnya lagi, untuk aku. Apa kamu lupa .... "


"Sudah-sudah, aku tidak lupa. Tolong bayar sekarang, karena aku tidak suka dengan semua mata yang terus melihat ke arah kita. Aku juga tidak ingin melihat Hero pingsan di sini karena kelelahan membawa baju yang seperti gunung fuji milik jepang ini."


"Hm .... "


"Hero, bawa baju itu ke kasir. Aku dan Merlin akan langsung ke mobil."


"Eh, gak bisa gitu dong, Dic. Kita harus bantuin Hero buat bawa barang-barang ini nantinya. Kasihan dia. Sudah bawa baju yang menggunung ini sendirian. Masa dia juga harus bawa paper bag sendirian juga nanti."


"Saya gak papa kok, nona muda. Karena itu semua sudah menjadi tugas saya."


"Nah, kamu dengarkan apa yang dia katakan. Dia saja gak papa. Kenapa kamu yang sewot."


"Aku sewot karena masih peduli terhadap sesama manusia. Jika tidak peduli dengan yang lain, itu tandanya gak punya hati. Atau barang kali, hatinya ada cuma gak berfungsi."


"Ayo Hero! Aku temani kamu ke kasir," ucap Merlin sambil mendorong tubuh kekar milik sang asisten.


"Eh ... nona muda."


"Ayo, Hero! Jangan melawan."


"Tapi .... "

__ADS_1


"Jangan hiraukan dia. Dia gak akan ngerti dengan apa yang aku katakan barusan. Karena dia tipe orang yang punya hati tapi tidak berfungsi."


__ADS_2