
Merlin menatap Dicky untuk beberapa saat lamanya. Lalu, dia tersenyum pada Dicky.
"Baiklah kalau gitu, aku setuju. Kamu yang mulai duluan."
"Baik."
Dicky mulai menceritakan tentang mamanya. Mama kandung yang melahirkan dia ke dunia ini. Cerita yang dia dengar dari orang yang paling dia percaya selama dia hidup. Sayangnya, orang itu juga sudah pergi meninggalkannya saat dia baru duduk di bangku sekolah menengah atas. Orang itu adalah pengasuh Dicky sejak dia masih bayi.
"Itulah mamaku. Dia cantik juga baik hati. Sayang, aku tidak bisa bertemu dengannya."
"Terkadang, aku merasa, aku adalah penyebab kepergian mama. Makanya, papa memilih menikah lagi dan mendengarkan semua yang istri barunya katakan. Ya meskipun istri baru itu tidak terlalu jahat padaku, namun, aku tidak suka padanya karena dia mengambil posisi mama dari hati papa. Dia juga mengatur hidupku sesuka hatinya. Dan papa, papa mendengarkan semua aturan yang istri barunya buat untuk aku. Tanpa tahu aku tersiksa atau tidak dengan semua keputusan yang istri baru itu ambil."
"Sejak itulah, jarak antara aku dan papa tercipta. Aku jarang bertegur sapa dengan papa sejak dia menikah lagi. Tapi ... akhir-akhir ini, aku merasa papa agak aneh. Dia begitu peduli padaku. Dia memihak padaku dan tidak mendengarkan lagi apa yang mama tiri ku katakan. Itu agak tidak masuk akal, tapi nyata."
"Mm ... mungkin papamu sudah sadar dengan kesalahan yang dia lakukan sebelumnya. Dan sekarang, dia sedang berusaha memperbaiki kesalahan dan berusaha merapatkan kembali jarak di antara kalian."
"Mungkin. Tapi rasanya, sangat tidak masuk akal jika papa tiba-tiba berubah tanpa adanya alasan yang kuat. Alasan itu yang membuat pikiranku merasa tidak nyaman jika berhadapan langsung dengan papa. Karena aku selalu memikirkan alasan itu setiap berhadapan langsung."
"Jadi, itu alasan kamu bersikap kasar pada papa barusan?"
Dicky mengangguk pelan sambil melihat wajah Merlin.
"Kalau gitu, kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada papamu apa alasannya?"
__ADS_1
"Ingin. Tapi tidak bisa."
"Kenapa?"
"Tidak tahu." Dicky berucap sambil mengangkat kedua bahunya.
"Aneh kamu."
"Hm ... lupakan saja soal aku. Sekarang, aku ingin dengar kisah hidupmu pula. Seperti yang sudah sama-sama kita sepakati sebelumnya, aku sudah bercerita, sekarang giliran kamu."
Merlin menarik napas panjang. Lalu melepas napas itu dengan kasar.
"Kisah hidupku tidak sebaik kamu. Meski sama-sama kehilangan orang yang paling di sayangi, kamu lebih beruntung dari aku. Kenapa? Ya karena aku tidak punya siapa-siapa setelah di tinggal mama. Aku punya papa, tapi sama sekali tidak peduli padaku. Dia bahkan lebih sayang pada anak tirinya dibandingkan aku."
"Setelah mama meninggal karena jatuh dari tangga, papa langsung membawa perempuan baru pulang ke rumah. Kamu tahu, itu hanya selang dua belas hari setelah meninggalnya mama. Papa langsung membawa perempuan dengan anak satu itu tinggal di rumah dengan kami."
Merlin menganggukkan kepalanya sambil menatap Dicky dengan tatapan penasaran.
"Iya. Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah. Hanya saja, aku merasa sedikit tidak meyakinkan kalau kepergian mamamu itu karena jatuh dari tangga. Itu terdengar sedikit mengganjal buat aku. Entah menurut aku saja atau memang ada yang tidak beres dengan penyebab itu. Tapi yang jelas, penyebab itu sedikit membuat hatiku merasa curiga."
"Maksud kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Ada yang tidak beres. Apa sudah diselidiki kebenarannya? Maksudku, apa itu benar-benar terjatuh, atau ada hal lain yang tidak kalian ketahui."
Merlin terdiam. Ucapan Dicky barusan memicu ingatan masa lalu di benak Merlin muncul kembali. Saat itu, ketika dia baru saja pulang dari sekolah, dia melihat rumahnya sudah sangat ramai dikerumuni orang.
Merlin yang capek pulang dari orientasi untuk masuk ke sekolah menengah akhir itu segera berlari masuk ke dalam rumah. Betapa kagetnya dia saat melihat sang mama yang terbujur kaku tanpa nyawa di ruang tamu.
Dia langsung berteriak histeris karena melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Papanya datang, lalu menjelaskan perihal sang mama. Saat itulah, pukulan berat itu tidak sanggup untuk dia tanggung. Merlin pingsan seketika.
Karena ingatan itu, Merlin menjatuhkan air mata perlahan dari sudut matanya. Dicky yang melihat Merlin sedang langsung menarik Merlin untuk dia bawa ke dalam pelukan agar gadis itu tenang.
"Hei ... jangan menangis. Bukankah kamu yang bilang padaku tadi, kalau aku jangan bersedih. Karena kita tidak sendirian bukan?"
"Aku tidak ... me .... Dicky. Bisakah kamu bantu aku untuk menyelidiki kebenaran alasan dari kepergian mamaku? Jika kamu bilang alasan itu mengganjal, maka tolonglah aku. Karena memang, sebab itu sepertinya sedikit tidak beres."
"Aku baru ingat kalau penjelasan papaku sepertinya tidak begitu jelas. Setelah aku bangun dari pingsan, aku bertanya soal mama. Papa bilang, mama meninggal karena jatuh dari tangga. Tapi, mama sebelumnya punya penyakit lain. Aku tidak tahu jelas apa penyakitnya, hanya saja, papa bilang, itulah peyebab kepergian mama."
"Dicky .... " Merlin berucap dengan nada memohon. Dia melihat wajah Dicky yang sedang memeluknya sekarang.
"Kamu tenang saja. Aku akan cari tahu kebenarannya. Karena aku merasa ada yang mengganjal dari penyebab itu. Aku akan urus semuanya. Kamu terima kabar saja dari aku."
"Oh ya, besok kamu sudah mulai masuk sekolah. Sebaiknya, kamu fokus dengan sekolah kamu. Soal lain, biar aku yang tangani."
"Terima kasih banyak, Dicky. Aku tidak tahu harus bayar hutang padamu dengan cara apa nantinya. Yang jelas, aku pasti akan bayar semua hutangku padamu suatu hari nanti. Doakan saja aku sukses dalam mengejar cita-cita. Pasti, semua hutangku akan aku bayar lunas."
__ADS_1
"Tidak perlu bayar, Merlin. Karena kita ... maksudku, tidak perlu dipikirkan soal itu. Yang penting, semuanya berjalan lancar ya."
"Hm." Merlin mengangguk sambil tersenyum manis pada Dicky.