Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#60


__ADS_3

"Tapi aku tidak melakukan apa-apa pada tante Intan kan, Ma. Aku sudah katakan pada mama, jangan ganggu dia lagi. Juga jangan jalankan rencana yang macam-macam. Tapi mama gak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Sekarang .... "


"Diam ....! Aku bilang diam! Sekarang, pergi cari dia. Jangan pulang sebelum menemukannya."


Tias berucap keras sambil mendorong tubuh Cindy keluar dari rumah. Tubuh kecil itu pun terjatuh karena Tias mendorongnya terlalu keras.


"Ma .... "


"Jangan panggil aku mama jika kamu tidak ada gunanya bagi aku. Sekarang pergi! Jangan buang-buang waktu lagi."


Selesai berucap kata-kata itu, Tias langsung masuk kembali ke dalam rumah. Dia juga menutup pintu rumah dengan membanting pintu tersebut. Juga tidak lupa mengunci pintu itu dari dalam.


Cindy yang tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Tias katakan, bagun segera dari jatuhnya. Dia memilih beranjak menjauh dari rumah. Dia memilih terus berjalan meski tidak tahu arah yang akan dia tuju.


Di sisi lain, tepatnya di kamar Dicky. Merlin masih duduk di tepi ranjang ketika Dicky mulai diam karena terlelap dalam tidur. Namun, sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam ingatan Merlin, membuat Merlin tidak ingin menahan apa yang sedang dia pikirkan. Dia langsung menyentuh lengan Dicky untuk membangunkan Dicky yang baru saja ingin jalan-jalan ke alam mimpi.


"Dic ... Dicky. Jangan tidur dulu dong, Dic. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu ini."


"Dicky ... ih .... " Merlin merasa sedikit kesal dengan Dicky yang tidak bagun juga walau dia sudah menggerak-gerakkan tubuh itu dengan keras.


"Dia beneran tidur atau cuma bohong-bohongan ya?"


Merlin ingin memastikan kalau Dicky beneran tidur atau cuma pura-pura. Dia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Dicky. Itu Merlin lakukan agar dia bisa melihat bulu mata Dicky yang masih bergerak atau sudah diam. Karena yang dia tahu, jika seseorang sudah terhanyut ke dalam alam mimpi, maka bulu matanya tidak akan bergerak lagi.


Belum sempat Merlin melakukan penelitian untuk memastikan kebenaran dari tidurnya Dicky. Dia malah dikagetkan dengan rangkulan yang tiba-tiba merangkul tubuhnya. Dalam kepanikan itu juga, Dicky langsung membuka mata. Hasilnya, kedua mata mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat untuk beberapa saat lamanya.


"Dic--Dicky! Lepaskan aku!" Merlin berucap dengan nada tinggi sambil memberontak berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Namun, hasil dari usaha itu malah sebaliknya. Bukannya lepas dari pelukan Dicky, Merlin malah semakin berada dalam pelukan Dicky sekarang. Bahkan, dari posisinya yang ada di samping Dicky, kini malah sudah berada di atas tubuh Dicky sekarang.


"Kenapa minta aku lepaskan? Yang mulai duluan bukan aku, kan?"


"Jangan macam-macam kamu, Dicky. Cepat lepaskan aku, atau aku akan teriak keras supaya semua yang ada di mansion ini pada berdatangan ke kamar kita."


"Hah? Ingin teriak? Silahkan saja, Merlin. Aku tidak akan melarang. Tapi, malahan mendukung. Jika kamu memang benar-benar ingin mereka berpikiran yang tidak-tidak tentang kita, silahkan saja berteriak. Lagian, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan dari luar. Karena kamu di kamar ini sedang bersama suamimu, bukan pacar atau orang lain. Jadi, mereka tidak akan peduli dengan teriakan yang kamu buat."


Merlin terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Dicky katakan barusan.


'Ah! Yang Dicky katakan itu benar. Siapa yang akan peduli dengan teriakan yang aku buat? Karena Dicky ini adalah suamiku yang sah.


Yang ada, bukannya ditolong aku nantinya, melainkan, di pandang dengan pandangan yang mengejek. Aduh ... kurang ajar banget kamu Dic. Enak banget kamu mempermainkan aku sekarang ya.' Merlin mengutuk dalam hati dengan perasaan yang sangat kesal.


"Kenapa diam, istriku sayang? Katanya ingin teriak. Ayolah .... "


"Cuman apa? Jika bisa memberikan penjelasan yang bisa aku terima dengan akal sehat, maka aku akan memaafkan kamu."


"Kamu makin hari makin gila aja kayaknya. Lepaskan aku dulu, nanti baru aku jelaskan."


"Tidak akan aku lepaskan. Sesuai perjanjian, kamu akan aku lepaskan jika alasannya tepat, menurut aku."


"Dicky."


"Tidak ada tawar menawar. Kamu sudah banyak buat salah padaku untuk hari ini. Yang pertama, kamu tinggalkan aku saat masih sarapan. Yang kedua, kamu tampar aku di dalam lift karena aku buat kamu malu di depan semua orang. Padahal, yang aku lakukan itu hal yang wajar."


"Wajar apanya? Wajar menurut kamu, tapi tidak menurut aku."

__ADS_1


"Ya jelas wajar. Karena kamu adalah istriku. Aku ingin memperlihatkan pada semuanya, betapa manisnya hubungan kita. Aku melakukan hal itu karena ada sebabnya. Bukankah itu wajar, Merlin?"


Merlin tidak langsung menjawab. Tangannya terasa sedikit melemah.


"Kita ini suami istri sebatas kontrak saja, Dic. Sebatas bohongan, bukan yang sesungguhnya. Jadi, aku rasa kamu tidak perlu terlalu berlebihan seperti yang kamu lakukan tadi."


Merlin berucap dengan suara tidak bersemangat. Dicky merasakan hal itu, tapi tidak memahami apa yang membuat Merlin tiba-tiba kehilangan semangat yang sebelumnya terlihat biasa saja.


Karena hal itu, Dicky melepaskan Merlin dari pelukannya.


"Aku lepaskan kamu. Sekarang, berikan aku alasan yang tepat untuk hal yang baru saja kamu lakukan. Kenapa kamu ganggu aku tidur barusan? Katakan alasannya dengan baik!"


Merlin segera menjauh dari Dicky. Dia memilih duduk di tepi ranjang sekarang. Sedangkan Dicky, dia masih tetap berbaring seperti sebelumnya.


"Aku ingin tanyakan satu hal, apakah kamu benar-benar tidak dekat dengan mama tiri mu, Dic?"


"Hanya hal itu yang menjadi alasan buat kamu ganggu aku yang hampir saja tidur? Itu sama sekali bukan alasan buat aku, Merlin. Karena itu sama sekali tidak penting bagi aku."


"Dic, kenapa kamu tidak perhatian sedikit saja pada mama tiri mu? Kasihan dia tau gak? Aku temukan dia saat jalan-jalan di .... "


"Apa! Apa yang kamu katakan barusan? Kamu temukan dia?"


Dicky terlihat sangat kaget. Sangking kagetnya, dia sampai bagun dari baring sambil terus melihat Merlin dengan tatapan yang tidak bisa Merlin pahami maksud dan tujuan dari tatapan itu.


"Iya, aku temukan dia saat kami salah jalan saat ingin datang ke suatu tempat. Aku temukan mama tiri mu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tangan dan kakinya terikat, kepalanya berdarah kering akibat bekas pukulan yang mungkin sudah beberapa hari. Sedang tubuhnya .... "


"Cukup. Aku tidak ingin mendengarkan apa yang kamu bicarakan tentang dia. Sekarang aku tanya, apa kamu biak-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi padamu, bukan?"

__ADS_1


__ADS_2