
Malam harinya, polisi mendatangi rumah Tias. Tias yang tidak terima dengan penangkapan itu, berusaha untuk melawan polisi dengan menyangkal semua tuduhan yang polisi berikan padanya.
Namun, bagaimanapun penyangkalan itu, Tias tetap tidak bisa melarikan diri. Dia tetap dibawa ke kantor polisi sebagai tersangka. Meskipun semua tuduhan itu belum terbukti dengan jelas.
"Pak polisi ini gimana sih? Sudah saya katakan, kalau saya ini tidak bersalah. Saya cuma difitnah, pak." Tias berucap dengan nada tegas tanpa asa rasa takut. Dia terlihat begitu tenang dihadapan polisi yang sedang menatapnya dengan tatapan galak.
"Kalau saya emang bersalah, coba perlihatkan buktinya pada saya. Karena tidak adil jika menuduh saya, tapi tidak ada bukti yang jelas," ucap Tias lagi dengan nada sengit.
"Tidak perlu menyangkal, Bu Tias. Karena laporan tentang tuduhan ibu menyekap dan menganiaya orang itu tidak hanya datang dari satu orang saja. Melainkan, dari dua laporan."
"Dua ... dua laporan?" Tias mulai terlihat gugup sekarang. Dia di serang rasa bingung setelah polisi mengeluarkan kata-kata barusan.
'Siapa yang sudah melaporkan aku ke kantor polisi? Dua laporan? Itu tandanya, selain ... selain Intan, masih ada orang lain yang tahu perbuatan ku. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus tetap tenang dan harus terus membantah. Selagi tidak ada bukti, maka tidak akan bisa menahan aku.'
"Pak, saya benar-benar tidak bersalah. Saya hanya difitnah, Pak. Dua laporan itu mungkin mereka satu keluarga atau satu komplotan untuk mencelakai saya."
"Tapi sepertinya, tidak. Laporan tentang kejahatan ibu Tias ini datang dari orang terdekat ibu."
"Orang terdekat? Siapa dia?"
"Aku."
Suara yang tidak asing lagi bagi Tias menggema memenuhi ruang interogasi. Sontak, perhatian seketika tertuju pada gadis yang ada di depan pintu masuk. Dia tak lain adalah, Cindy.
"Cindy!"
"Maaf, Mama. Aku terpaksa melaporkan mama pada polisi biar mama sadar, apa yang mama lakukan itu salah. Aku juga bosan dengan ambisi mama untuk mendapatkan kekayaan yang jelas-jelas bukan hak kita."
__ADS_1
"Lancang kamu anak tidak tahu diri! Aku pungut kamu supaya kamu memberikan keuntungan buat aku! Tapi apa yang kamu lakukan, hah! Kamu malah bikin susah hidupku lagi dan lagi." Ucapan yang sangat keras memenuhi ruangan tersebut. Dengan tatapan amarah, Tias menatap wajah Cindy yang membulatkan mata mendengarkan ucapan mamanya barusan.
"Ap--apa? Mama bilang barusan apa, Ma? Mama pungut aku? Mama pungut aku dari mana, Ma?"
"Tidak. Jangan bilang kalau aku ini bukan anak kandung mama," ucap Cindy dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia begitu sedih, kaget, juga tak percaya. Semua rasa bercampur jadi satu dalam hatinya. Sementara Tias, dia diam membisu dengan tatapan yang tertunduk ke bawah. Ada sesuatu yang dia sesalkan dalam hatinya saat ini.
"Ma, katakan yang sebenarnya!" Cindy berucap sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.
"Apa yang ingin kamu ketahui, sudah kamu tahu. Jadi, apa lagi yang harus aku katakan. Kamu memang bukan anak aku. Jika kamu memang anak kandungku, mana mungkin kamu tega melaporkan aku ke kantor polisi, Cindy."
"Aku melakukan hal itu supaya mama sadar. Apa yang mama lakukan selama ini tidak benar. Mama menjadikan aku alat untuk mendapatkan apa yang mama inginkan. Tanpa mama tahu, sesulit apa jalan hidup yang aku tempuh. Lagipula, apa yang ingin mama dapatkan itu adalah hal yang tidak wajar, Ma. Jadi .... "
"Cukup, Cindy! Aku tidak ingin bicara dengan kamu lagi. Ternyata benar apa yang orang katakan, hanya darah daging sendiri yang akan memahami perasaan orang tuanya. Kamu anak angkat, tidak akan tahu kebaikan yang aku perbuat untukmu. Apa yang ingin aku dapatkan, itu untuk kebahagiaan kamu. Kamu tahu?"
"Oh ya, jika benar aku bukan anak mama. Siapa orang tua aku, Ma. Di mana mereka sekarang? Kenapa aku bisa ada sama mama?" Cindy berucap dengan mata yang terus menjatuhkan air mata sambil melihat Tias yang berjarak beberapa jengkal darinya.
"Kamu .... "
'Ah, sudahlah. Mungkin ini saatnya dia tahu siapa dia? Lagipula, aku juga tidak ingin punya anak yang tidak penurut seperti dia lagi. Aku lelah,' ucap Tias dalam hati.
"Katakan, Ma! Aku anak siapa? Siapa orang tuaku? Katakan!"
"Diam kamu. Tidak perlu bicara dengan nada tinggi seperti itu. Aku akan katakan tanpa kamu minta. Karena aku lelah punya anak yang tidak ada gunanya seperti kamu."
"Kamu itu anak majikan ku. Dia meninggal karena kecelakaan. Aku pungut kamu karena aku pikir, kamu bisa buat aku kaya dengan kekayaan yang orang tuamu miliki. Sayangnya, orang tuamu ternyata punya banyak hutang. Semua harta yang mereka punya habis disita oleh pihak yang berwajib. Lalu, aku hanya bisa mengandalkan uang asuransi yang tertulis atas nama kamu. Aku masih terpaksa merawat kamu karena harta yang tidak seberapa itu. Sekarang, uang itu sudah habis, dan kamu sama sekali tidak ada gunanya buat aku. Jadi, pergi sana."
__ADS_1
"Di mana makam orang tuaku? Katakan!"
"Cari saja sendiri. Kenapa tanya aku? Aku sudah lelah ngurus kamu dari kecil sampai sekarang. Aku juga sudah capek menjelaskan prihal orang tua kamu padamu. Jadi, tolong jangan susahkan aku lagi."
"Mama!"
"Apa kalian sudah puas bicaranya? Jika sudah, maka kini giliran aku."
Seketika, keduanya tersadar kalau mereka tidak hanya berdua di ruangan tersebut. Melainkan, ada polisi yang sedari tadi menunggu waktu yang diberikan pada Cindy habis.
"Su--sudah, pak polisi. Terima kasih atas waktu yang bapak berikan pada kami."
"Bapak dengar bukan apa yang kami bicarakan barusan? Dia itu anak angkat saya. Dia pasti punya dendam sama saya, pak. Jadi tolonglah, lepaskan saya. Karena saya benar-benar tidak bersalah."
Polisi itu tersenyum mengejek.
"Sayangnya, pembicaraan kalian barusan itu malah memperkuat tuduhan terhadap anda, ibu Tias. Cek-cek-cek, sayang sekali."
"Ap--apa? Ba--bagaimana bisa begitu, pak?"
"Karena dalam pembicaraan itu, mungkin anda tidak menyadari, kalau anda telah mengakui sendiri kesalahan yang telah anda perbuat. Anda tidak hati-hati, ibu Tias. Sayang sekali."
"Tidak. Tidak mungkin! Tidak ....!"
"Cindy! Anak kurang ajar kamu! Bia*dab! Tidak tahu diri! Tidak tahu di untung!"
Tias heboh sendiri dengan wajah panik yang luar biasa. Sejujurnya, dia sangat tidak menyangka hal ini akan terjadi. Dia benar-benar sangat marah pada Cindy sekarang. Jika Cindy masih ada di ruangan ini, mungkin Cindy akan dia pukul habis-habisan sebagai pelepas rasa sakit hati yang ada dalam hatinya sekarang.
__ADS_1