Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#74


__ADS_3

Mereka menikmati makan siang dengan tenang. Tapi, tidak ada yang dibicarakan sama sekali. Karena Merlin tiba-tiba lupa dengan apa yang ingin dia bicarakan.


Selesai makan siang, Merlin diantar ke kamar atas tanpa diizinkan membuka jendela. Entah apa alasannya, namun, dia tidak ingin membantah. Dia mengikuti apa yang pelayan itu katakan. Sudah menjadi sifat Merlin untuk menghormati larangan yang diberikan padanya. Karena sebenarnya, dia adalah anak yang patuh.


Dia sendirian di kamar itu. Sementara Dicky, tidak tahu entah pergi ke mana. Merasa ngeri sendirian di tempat yang baru pertama kali dia datangi, itu tidak bisa ia pungkiri. Namun, dia coba untuk tidak menghiraukannya.


Berharap waktu cepat berlalu, Merlin berusaha memejamkan mata dengan posisi bersembunyi di bawah selimut. Bagaimanapun, dia seorang perempuan yang sudah pasti punya rasa takut akan hal-hal yang tidak nyata.


'Semoga tidak terjadi apa-apa. Ya Tuhan ... di mana Dicky. Semoga dia datang ke kamar ini. Aku tidak ingin sendiri.'


"Tapi ... ah, kenapa aku mendadak bego gini ya? Kenapa aku mau-maunya Dicky ajak ke tempat seperti ini? Bagaimana kalau ... kalau ... ah, tidak-tidak. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi padaku."


Merlin terus bermain dengan pikirannya tanpa dia sadari, mata lelah itu tiba-tiba terpejam dengan sendirinya. Namun, saat kesadaran itu mulai memudar, sebuah sentuhan membuat Merlin tersentak kaget bukan kepalang.


Dia bagun dari baringnya sambil menjerit kuat.


"Aaaaagggh! Ampun ....! Tolong!"


"Lin. Kamu mimpi ya?"


"Dicky. Dicky .... "


Dengan perasaan haru bercampur bahagia, Merlin segera menghambur ke dalam pelukan Dicky. Tangisan bahagia tak lupa ia perlihatkan sambil mendekat erat tubuh Dicky sekarang.


"Lin, ada apa sih? Kamu barusan tidur, terus mimpi buruk ya?"


"Apaan? Aku gak tidur, juga gak mimpi buruk. Kamu tempatkan aku sendiri di kamar ini. Aku takut tahu gak. Lalu, kamu entah ke mana. Bukannya temani aku, tapi malah keluyuran tak tau arah." Merlin ngomel sambil menyeka air matanya yang jatuh perlahan.


"Hei ... apa-apaan sih kamu anak manja? Masa gitu aja udah kangen sama aku. Aku bukannya keluyuran gak jelas, tapi ada hal penting yang harus aku kerjakan tadi. Makanya datang belakangan. Jika kamu takut, kenapa gak minta pelayan itu teman kan sebentar tadi?"


"Ini lagi ... ngapain nangis sih? Gitu aja nangis. Ih ... cengeng kamu."


"Cengeng-cengeng. Kamu gak tahu sih apa yang aku rasakan saat tinggal sendirian di kamar ini. Aku takut tahu. Terus .... "


"Makanya, jangan mikir yang nggak-nggak. Kamu takut pasti gara-gara mikir yang macam-macam kan? Hayo ... jujur sama aku."


"Ngg--nggak kok. Nggak mikir yang macam-macam."

__ADS_1


"Aku tahu siapa kamu. Karena kita sudah bersama beberapa saat. Itu sudah cukup buat aku memahami bagaimana kamu, Merlin."


"Sayangnya, kamu masih belum bisa memahami isi hati aku, Dic."


"Apa?"


"Ee ... tidak ada. Kapan kita kembali? Sudah jam berapa sekarang. Aku tidak ingin nginap di sini. Kita pulang malam inikan?"


"Hm ... lihat saja nanti. Kita pulang, atau nginap?" Dicky berucap dengan nada menggoda. Hal itu membuat Merlin memperlihatkan wajah kecutnya pada Dicky.


"Jangan main-main kamu ya, Dic. Aku ingin pulang."


"Bagaimana jika aku melarang?"


"Dicky!"


"Iya-iya. Kita akan pulang walaupun kemalaman sampainya. Kamu tenang saja. Kita gak akan nginap. Oh ya, ayo pergi ke suatu tempat."


"Pergi ... ke suatu tempat? Ke mana?"


"Ikut saja! Maka kamu akan tahu ke mana aku akan membawa kamu." Dicky berucap sambil menarik lembut tangan Merlin.


"Gak ada tapi-tapinya. Harus ikut jika tidak ingin menyesal."


"Jangan macam-macam tapi."


"Tidak akan."


Merlin mengikuti langkah Dicky yang berjalan duluan dengan penuh semangat. Sementara Merlin, dia melangkah dengan perasaan sedikit takut juga hati yang dipenuhi dengan berbagai tanda tanya.


'Uh ... semoga Dicky tidak melakukan hal yang tidak-tidak.'


Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Merlin sama sekali tidak memperhatikan sekeliling. Dia hanya menunduk sambil memasang kewaspadaan akan Dicky yang ada di hadapannya sekarang.


"Kita sudah sampai," ucap Dicky sambil menghentikan langkah kakinya.


Bruk ....

__ADS_1


Berhentinya Dicky melangkah, malah membuat Merlin menabrak dada bidang milik Dicky yang baru saja memutar tubuh.


"Aduh .... " Merlin berucap sambil menggosok pelan dahinya.


"Kamu kok berhenti tiba-tiba sih, Dic?"


"Siapa yang berhenti tiba-tiba, nona Merlin? Kamu yang jalannya sambil melamun. Makanya gak dengar apa yang aku katakan."


"Kamu katakan apa padaku? Aku gak dengar tuh."


"Makanya jangan melamun. Jika gak melamun, sudah pasti kamu akan dengar apa yang aku katakan."


"Emang kamu bilang apa tadi?"


"Kita sudah sampai nona Merlin Prasetya. Ah, kamu gak ada romantis-romantisnya jadi cewek."


"Romantis?" tanya Merlin sambil melebarkan mata untuk menatap Dicky.


Namun, tatapan itu segera teralihkan saat bunyi sesuatu mengalihkan perhatian Merlin. Ketika Merlin melihat ke arah sumber bunyi, dia langsung tertegun sambil menutup mulut karena tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.


"I--ini ... ini burung merak?"


Merlin berucap dengan mata yang berbinar-binar sambil terus memperhatikan beberapa ekor burung merak yang sedang berkeliaran tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Tidak ada jawaban dari Dicky. Merlin segera melihat ke arah Dicky berdiri sebelumnya.


"Dicky."


Lagi, tatapan Merlin kembali dibuat kaget dengan apa yang dia lihat. Sekarang, Dicky sedang berlutut di hadapannya dengan mengangkat sebentuk cincin berlian.


"Di--Dicky. Apa ... apa yang kamu lakukan?"


"Merlin. Aku mencintai kamu. Maukah kamu menikah denganku?"


"A--apa? Apa yang kamu katakan? Jangan bercanda, Dicky. Aku ... aku tidak suka main-main."


"Aku tidak sedang main-main, nona Merlin. Aku serius. Aku mencintai kamu sekarang. Jangan tanyakan kapan cinta itu muncul. Karena aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi, aku sekarang telah menyadari kalau aku mencintai kamu. Aku mencintai gadis yang selama beberapa bulan ini hidup bersamaku. Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk selama-lamanya."

__ADS_1


"Dicky."


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kita menikah hanya karena sebuah ketidaksengajaan. Tapi, apakah salah jika cinta muncul diantara kita? Apakah aku tidak berhak mencintai kamu, Merlin. Selama ini, aku selalu ingin mengatakan kalau aku cinta padamu, tapi aku takut. Aku takut kamu tolak cinta ini. Karena kamu sungguh berbeda dari semua gadis yang pernah aku temui. Tapi hari ini, di sini. Aku memberanikan diri. Menurunkan ego tinggi yang aku miliki selama aku hidup di dunia ini. Tolong, berikan aku jawaban agar hidup ini lebih tenang. Jangan gantung jawaban apapun yang kamu punya. Karena mengutarakan isi hatiku hari ini, aku sudah siap dengan jawaban apapun yang kamu punya."


__ADS_2