Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#52


__ADS_3

"Tidak perlu lagi, Pa. Aku akan fokus dengan kantor pusat. Sementara Hero akan aku tugaskan mengurus kantor cabang. Karena sekarang, aku memilih berhenti sekolah."


"Apa! Yang benar saja kamu kalo ngomong, Dicky. Berhenti sekolah hanya gara-gara mau ngurus perusahaan yang kamu miliki. Itu gak benar tau gak? Meskipun kita orang kaya, punya perusahaan banyak, tapi sekolah kamu harus tetap jalan."


"Malu tahu gak, kalo orang-orang ngomong, pemilik perusahaan gak tamat sekolah. Mau bimbing karyawan kek mana? Sekolah aja gak selesai."


"Aku berhenti sekolah punya alasan kuat, Pa. Bukan hanya karena mau ngurus perusahaan saja. Tapi, karena kasihan sama Merlin. Dia dikeluarkan dari sekolah karena tahu sudah menikah. Aku gak enak hati buat lanjutin sekolah karena dia."


"Lagipula, kalau soal ijazah, kan bisa kita dapatkan dari sekolah di rumah. Kalau soal pelajaran bisnis, sejak kecil aku sudah meluluskan pelajaran itu bukan?"


"Ah, terserah kamu saja kalau gitu. Papa jadi pusing mikirnya. Karena papa rasa kamu susah lumayan dewasa. Maka papa yakin, kamu tahu apa yang terbaik untuk hidup kamu kedepannya. Apa yang kamu pilih, mungkin itu yang terbaik buat kamu."


Tanpa terasa, obrolan mereka mengantarkan mereka sampai ke depan pintu ruang kerja Bagas dengan cepat. Obrolan terhenti, mereka pun langsung masuk ke dalam.


"Dic, kamu ingin tahu alasan papa membela kamu dan menentang semua keputusan mama kamu kan? Alasannya adalah, karena papa sudah tahu semua rencana mama kamu. Waktu itu .... "


Bagas menceritakan pada anaknya saat pertama kali dia tahu kalau Intan sang istri sedang merencanakan rencana besar. Sebenarnya, itu bukan murni rencana Intan, melainkan, rencana Tias. Rencana itu dia dengar dari obrolan Intan dengan Tias di taman saat dia pulang kerja secara tiba-tiba.


Intan karena hasutan dari Tias, berencana untuk menguasai seluruh harta kekayaan yang keluarga Prasetya ini miliki. Jalan satu-satunya itu ya dengan menikahkan Dicky dengan Cindy.


Saat tahu hal itu, Bagas langsung memikirkan kejahatan-kejahatan lain yang Intan buat tanpa dia sadari. Bagas segera bergerak dengan membuat semua pekerja menjadi mata-mata di kediaman tersebut. Dia juga menyewa orang untuk mencari informasi tentang apa saja yang Intan lakukan selama menikah dengannya.


Hal itulah membuat Bagas tidak suka dengan istrinya lagi. Meski dia tahu Intan melakukan semua itu karena pengaruh dari orang lain, tapi tetap saja, Bagas tetap marah pada Intan.

__ADS_1


"Itulah alasannya, Dic. Setelah itu, papa juga menyadari hal lain. Papa menyadari kesalahan papa yang tidak terlalu banyak peduli padamu. Papa menyesali hal itu. Papa minta maaf."


"Tidak perlu minta maaf. Karena semua itu sudah terjadi. Apa yang sudah terjadi, tidak akan bisa kembali seperti semula lagi."


"Kamu tidak marah sama papa, Dicky?"


"Tidak. Kenapa aku harus marah sama papa? Papa tidak salah, karena semua itu memang harus terjadi agar manusia sadar, di mana letak salahnya, dan di mana letak benarnya di kemudian hari."


Bagas tersenyum mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Dicky barusan. Dia merasa sedikit bangga akan sikap dewasa yang anaknya tunjukkan sekarang.


"Ternyata, kamu banyak berubah ya, Dic. Sepertinya, kamu semakin dewasa saja sekarang."


"Tidak juga, Pa. Sebenarnya, aku banyak belajar dari Merlin. Dia perempuan yang luar biasa ternyata. Dia kuat dan tegar. Mampu menanggung beban hidup dengan cara yang tegas." Dicky berucap sambil senyum-senyum sendiri. Bagaimana tidak? Saat membicarakan Merlin, dia membayangkan gadis itu di benaknya. Makanya dia bisa senyum-senyum sambil bicara.


Dicky tersentak mendengarkan ucapan papanya barusan. Dia melihat papanya dengan tatapan tak percaya.


"Apa yang papa katakan barusan? Cinta?"


"Hm ... iya." Bagas bicara sambil menganggukkan kepalanya.


"Ee ... sepertinya, aku harus segera pergi. Aku harus minta anak buah buat nyari mama secepatnya," ucap Dicky sambil bangun dari duduknya. Dia berusaha menghindar dari papanya sekarang.


Bagas yang sudah banyak makan asam garam, tentu saja tahu apa yang anaknya rasakan saat ini. Dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala melepaskan kepergian Dicky meninggalkan ruang kerja tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, Merlin sedang berada di dalam mobil bersama bi Imah. Mobil mereka berjalan pelan melintasi perkomplekan sederhana. Perkomplekan yang tergolong sepi karena tidak banyak rumah yang dihuni oleh pemiliknya.


"Kita ini mau ke mana sih sebenarnya, Non? Kok ke jalan sepi kayak gini?" tanya bi Imah penasaran.


"Kita mau ke taman spesial, bik. Kata temanku yang ada di media sosial, tempatnya di sini. Itu namanya ... mm ... kalau gak salah, taman budaya. Ya ... taman budaya."


"Apa nona yakin di sini tempatnya? Maksud bibi, benar gak nih alamatnya di sini?"


"Benar kok, bik. Aku udah lacak lokasinya. Katanya benar. Hanya saja, kita sepertinya salah masuk jalan. Harusnya, taman itu lewat jalan raya, bukan perumahan kek gini. Tapi, sama saja kok jalannya. Akan sampai ke tempat yang kita tuju juga."


Karena jalan perkomplekan itu tergolong tidak rata, maka mobil juga tidak bisa berjalan cepat. Mobil itu harus berjalan pelan untuk mengimbangi agar tidak terjadi goncangan kuat.


Merlin terus melihat sekeliling. Dia menikmati pemandangan yang mereka lalui sekarang. Saat itulah, mata Merlin melihat sesuatu yang tidak benar. Itu adalah seseorang yang susah payah sedang menyeret tubuhnya dengan menarik-narikan tubuhnya di atas batu jalanan yang tidak rata. Orang itu harus bergerak dengan menarik tubuh karena tangan dan kakinya sedang terikat.


Melihat hal itu, Merlin segera meminta sopirnya untuk menghentikan mobil.


"Ada apa, nona?" tanya sopir penasaran.


"Ada orang yang butuh pertolongan. Ayo cepat, pak! Kita tolong orang itu."


"Jangan, nona! Nona tidak boleh menolong orang sembarangan. Di sini tergolong tempat sepi. Bagaimana jika itu tipuan."


"Ya Tuhan. Bagaimana jika itu memang orang yang sedang membutuhkan pertolongan, pak? Kita bisa membuat orang itu celaka jika tidak menolong."

__ADS_1


__ADS_2