Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#84


__ADS_3

Plak ....


Sebuah tamparan mendarat di wajah Tora. Wajah bahagia itu mendadak memerah akibat amarah.


"Perempuan *******! Berani-beraninya kamu menampar aku!" Tora berteriak sambil tangannya ringan mendorong tubuh mungil Nining dari hadapannya.


Bruk ....


Tubuh itu jatuh ke bawah tanpa bisa di cegah. Nining pun meringis kesakitan, tapi tidak bisa berucap apa-pa selain berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.


Tora turun dari ranjang, lalu mendekat untuk menghampiri tubuh yang masih diam dengan pose jatuh sebelumnya. Dengan lincah, tangan Tora yang kasar menjambak rambut Nining yang sudah cantik dengan sanggul bunga sekuntum berwarna emas tersebut.


"Aggh ... sakit Tora. Lepaskan aku." Nining berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Tora. Walaupun itu sepertinya tidak akan berhasil.


"Tahu kamu sakit, bukan? Jadi, kenapa kamu terlalu berani untuk menampar aku, hah? Kamu bukan bidadari yang aku dambakan. Kamu bukan ratu yang aku inginkan. Tapi kamu adalah sampah yang aku ambil karena aku rasa akan mampu menarik tukang sapu mendekat. Tapi sayangnya, kamu bukan sampah yang tukang sapu inginkan. Jadi, jangan berlagak tangguh dihadapan ku. Paham!"


"Aku minta kamu lakukan apa yang aku mau. Maka kamu harus lakukan. Karena selayaknya sampah, dia harus tahu diri."


Nining menatap tajam Tora dengan berani.


Lalu, dia mengukir senyum manis di bibirnya. Senyum manis penuh tantangan juga ejekan.


"Heh ... aku memang sampah. Tapi, aku bukan sampah yang tidak bisa didaur ulang, Tora. Kamu ingin memanfaatkan aku untuk menyakiti hati dia. Sayangnya, kali ini kamu tidak akan berhasil. Lihat saja perempuan yang ada di sampingnya. Sepertinya, perempuan itu cukup tangguh. Dan, yang paling penting, dia sama sekali tidak tertarik padamu. Sayang sekali .... "


"Nining!"

__ADS_1


Tora terdiam. Dia seperti sedang memikirkan apa yang Nining katakan barusan. Lalu, dia menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskan napas itu secara kasar.


"Baiklah. Sepertinya, kamu sekarang sudah menjadi sampah daur ulang. Kamu terlihat sangat berani padaku. Mm ... aku tahu kamu masih punya rasa cinta pada Dicky, benar bukan? Untuk itu, aku ingin kita menjalani kerjasama kita sebagai satu tim. Misi kita sama, kamu mendapatkan orang yang kamu cintai, sedangkan aku juga sama. Kita sama-sama mengejar cinta. Kita pisahkan mereka berdua. Apa kamu setuju?"


"Aku yakin kamu pasti setuju, Ning. Karena aku tahu, kamu masih sangat mencintai Dicky. Ini kesempatan kamu buat kembali bersamanya."


Nining tersenyum sambil menatap Tora dengan tatapan tajam.


"Kamu terlalu percaya diri, Tora. Bagaimana jika aku tidak bersedia mengikuti keinginanmu untuk bekerja sama?"


"He ... aku tidak akan percaya kalau kamu begitu bodoh. Mana mungkin kamu menolak kesempatan bagus untuk bersama dengan cinta sejati mu ketika punya kesempatan bagus seperti yang aku tawarkan barusan."


"Sayangnya, aku bukan kamu, Tora. Aku tidak akan menyakiti hati orang yang aku cintai untuk yang kedua kalinya. Jika dia sudah bahagia dengan orang yang dia cintai, maka aku juga akan bahagia. Karena cinta sejati itu bukan bagaimana cara bisa memiliki, tapi ... bagaimana cara agar bisa terap membuat orang yang kita cintai bahagia."


"Untuk itu ... korban rasa demi cinta juga tidak masalah."


"Tolong ....! Tolong aku!"


Tora yang masih tidak mengerti dengan apa yang Nining katakan, kini dibuat kaget bukan kepalang dengan teriakan itu. Nining yang tiba-tiba menggila, bukan hanya berteriak sekarang. Tapi, dia juga mencabik-cabik kebaya mahal yang sedang dia pakai.


"Perempuan ******! Kamu sudah gila! Apa yang kamu lakukan, ha?"


Nining tidak menjawab. Dia malah terus melakukan aksi brutalnya yang membuat Tora semakin panik. Dari arah luar terdengar sibuk-sibuk beberapa orang yang sedang berjalan mendekat. Nining semakin memperkuat aktingnya dengan meringkuk ketakutan sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"******! Bangun kamu! Apa .... "

__ADS_1


Kata-kata Tora tertahan di kerongkongan saat pintu kamar tersebut terbuka. Dari balik pintu itu muncul ayah Nining, bersama kedua orang tuanya. Mereka menyaksikan ulah brutal Tora barusan dengan mata berbinar marah.


"Tora ....!"


Buk! Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Tora. Pemuda itu terhuyung akibat pukulan yang begitu keras dari calon mertuanya.


"Laki-laki biadab! Berani sekali kamu menyentuh anakku." Cerca ayah Nining.


"Pak, tolong tahan. Jangan terbawa emosi. Tidak baik," ucap papa Tora berusaha menenangkan calon besannya.


"Anakmu yang tidak punya akhlak! Bagaimana kalian mendidik anak seperti ini, ha? Kalian orang kaya, memang tidak tahu cara sopan santun juga tidak punya adab!"


Kata-kata kasar yang berasal dari kemarahan, terus saja keluar dari mulut ayah Nining. Sedangkan papa Tora, dia berusaha menenangkan amarah calon besan itu dengan berbagai cara. Sementara itu, Tora masih diam terduduk dengan sudut bibir yang pecah juga mengeluarkan darah. Sedangkan Nining, dia sudah di bawa keluar oleh calon mama mertuanya dengan menyelimuti dia dengan baju jaket milik Tora yang ada di sana.


Sebenarnya, Nining enggan untuk memakai jaket tersebut. Tapi, tidak ingin merusak aktingnya yang sudah sangat bagus hanya dengan mempermasalahkan jaket yang tidak tahu apa-apa itu.


'Dicky, semoga kamu bahagia dengan gadis kuat dan cantik itu. Dia adalah pasangan yang sangat cocok buat kamu. Dan ... hanya ini yang bisa aku lakukan buat menebus rasa sakit hati yang pernah aku gores kan di dalam hatimu. Maaf, aku tidak bisa berbuat banyak. Kamu cinta sejati yang pernah hadir dalam hidupku. Aku rela kamu bahagia bersama dengan perempuan cantik yang kamu pilih. Selamat bahagia, Dicky.'


Perlahan, buliran bening itu jatuh dari sudut matanya yang ayu. Dia menangis bukan karena menyesal telah melakukan hal besar hanya untuk memberikan kebahagian pada orang yang dia cintai. Tapi, dia menyesal karena pernah menoreh luka di hati orang yang dia sayang.


______


Dua hari setelah acara pertunangan tersebut, Dicky dapat kabar kalau Nining dan Tora dinikahkan dengan cara ijab kobul saja. Tidak ada pesta pernikahan sama sekali. Itu dilakukan karena Tora dianggap telah menodai kesucian calon istrinya sebelum waktu yang tepatnya. Karena itu, mereka dihukum dengan dinikahkan tanpa resepsi maupun pesta kecil sebagai syukuran.


Dicky tertegun. Dia tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Karena yang dia tahu, Tora itu sebenarnya tidak berniat untuk menikah dengan Nining. Tora hanya ingin membuat dia terluka saja.

__ADS_1


Namun, dibalik semua itu, dia merasa cukup lega. Karena dengan menikahnya Tora, dia berharap, tidak ada yang bisa menganggu kehidupannya lagi.


__ADS_2