
Dicky diam sambil menatap wajah serius Merlin yang ada di sampingnya saat ini. Karena sesungguhnya, dia memahami apa yang Merlin rasakan sekarang. Rasa benci yang teramat kuat. Sama seperti yang dia rasakan buat mama tirinya.
'Tuhan ... kenapa yang namanya tiri itu selalu menyakitkan dan membuat banyak masalah buat hidup kami?' Dicky berucap dalam hati sambil terus memandang Merlin.
"Lin, aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Karena apa yang kamu rasakan itu aku pernah merasakannya. Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan jawaban kamu saja. Kamu bersedia atau tidak. Karena sejujurnya, jika bukan karena memandang kamu sebagai istriku, aku dan keluarga Prasetya sudah memusnahkan perusahaan papamu sejak pertama bertemu."
"Kenapa tidak kamu lakukan saja sekarang? Tapi sepertinya, itu tidak perlu lagi kamu lakukan, karena perusahaan papa sudah berada diambang kebangkrutan bukan?"
"Kamu ternyata orang yang sangat kuat ya, Lin. Mampu menahan semua rasa dengan kata-kata."
"Apa maksudmu?" tanya Merlin sambil menghentikan langkah.
"Tidak ada maksud. Hanya ingin bilang, kamu mampu bicara berbeda dengan apa yang hatimu inginkan. Sudah. Jangan di bahas lagi, ayo jalan!"
Merlin masih diam di tempatnya. Dia melihat wajah Dicky yang sedang tersenyum sambil menatap wajahnya.
"Apa dia bisa baca isi hatiku?" tanya Merlin pada dirinya sendiri.
"Tidak." Dicky menjawab cepat sambil terus mempertahankan senyumannya.
Sontak saja, jawaban itu membuat Merlin jadi kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau Dicky malah menjawab apa yang dia tanyakan. Karena sebenarnya, apa yang dia ucapkan barusan itu ingin dia katakan dalam hati saja. Bukan ia tuturkan lewat lisan.
"Kamu ... barusan kamu ... bisa dengar?"
Melihat wajah tak percaya yang Merlin perlihatkan. Dicky malah tertawa.
"Tentu saja aku bisa dengar apa yang kamu katakan barusan, nona Merlin. Karena kamu bicara keras dan pendengaran ini masih berfungsi dengan baik. Jadi, sudah pasti bisa aku dengar dengan sangat baik."
"Ap--apa? Barusan aku bicara dengan keras?"
"Ya. Tentu saja. Kalo nggak, gimana aku bisa dengar?"
__ADS_1
Merlin terdiam. Dia tidak punya kata-kata untuk menjawab apa yang Dicky katakan. Karena sekarang, yang dia pikirkan adalah rasa malu yang sedang menyelimuti hati. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa menghilangkan rasa malu itu.
Lebih dari tiga puluh menit, semua urusan mereka telah selesai. Serah terima hotel berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Karena kedatangan Dicky dan Merlin hanya tinggal memberikan tanda tangan di atas surat jual beli saja. Sedangkan semua urusan, sudah di tangani oleh Hero sebelum kedatangan Dicky dan Merlin ke ruangan itu.
"Nah, sekarang, urusan kita sudah selesai. Adakah tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Dicky ketika mereka sudah duduk manis di dalam mobil.
"Sepertinya, tidak. Tapi ... ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu punya waktu?"
"Tentu saja aku punya waktu. Katakan saja kamu mau bicara apa dan di mana kamu ingin bicara."
"Di sini saja."
"Sebaiknya jangan di sini. Karena di dalam mobil bukan tempat yang tepat untuk membicarakan masalah."
"Lalu, di mana?"
"Suatu tempat. Pak sopir, jalankan mobil menuju vila Merak. Aku dan Merlin ingin menikmati suasana asri sekarang."
"Vila ... Merak? Di mana vila itu? Kenapa kita harus ke vila hanya karena ingin bicara saja?"
"Karena di vila udaranya sangat baik untuk ngobrol. Tidak ada suara berisik seperti di mobil."
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Mobil sudah berjalan hampir tiga puluh menit, namun tidak ada tanda-tanda kalau mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
Merlin ingin bertanya, tapi dia tidak meluluskan niat itu karena melihat Dicky sedang sibuk dengan ponselnya. Mereka terus diam dengan pikiran dan kegiatan masing-masing selama tiga puluh menit waktu perjalanan yang mereka tempuh.
Karena merasa bosan dengan suasana yang diam, Merlin memilih memejamkan mata agar dia tidak merasa semakin bosan dengan perjalanan yang sedang mereka lewati. Sayangnya, memejamkan mata membuat Merlin terlelap dalam tidur nyenyak dan tidak menyadari kalau mereka sudah sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.
"Tuan muda, nona muda sepertinya tertidur sejak dua puluh menit yang lalu."
"Iya, aku sudah tahu itu. Untuk itu, jangan terlalu berisik. Aku tidak ingin dia bangun."
__ADS_1
"Baiklah tuan muda. Tapi, apa tuan muda akan tetap berada di mobil ini sampai nona bangun?"
"Tidak. Aku akan pindahkan dia ke kamar sekarang. Tolong bukakan pintu mobilnya."
"Baik, tuan muda."
Pak sopir melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Berusaha membuka pintu mobil dengan sangat pelan agar tidak menciptakan bunyi yang bisa membuat nona mudanya bangun. Tapi sayangnya, Merlin tetap saja terbangun ketika tubuhnya diangkat oleh Dicky.
"Dicky!" Merlin berucap kaget saat dia melihat wajah Dicky yang berjarak sangat dengan dengan wajahnya. Meski itu bukan yang pertama kali bertatap mata dengan jarak yang sangat dekat, tapi tetap saja, Merlin kaget.
Rasa kaget itu tercipta karena jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Berusaha melawan hati agar tidak terhanyut, dia berusaha untuk menjauh dari Dicky meski dia tahu, itu sedikit sulit.
"Lepaskan aku! Jangan macam-macam kamu."
"Kamu sudah bangun? Macam-macam apanya? Aku hanya ingin memindahkan kamu yang tidur di mobil ini saja. Ya kali aku nungguin kamu bangun diam di mobil berjam-jam, padahal kita udah sampai ke tempat yang kita tuju."
"Hah? Ki--kita ... sudah sampai?" tanya Merlin dengan nada terbata-bata. Dia sebenarnya sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi. Bisa-bisanya dia tidur, kemudian marah-marah pada Dicky yang jelas-jelas hanya ingin membantu.
"Maaf ... maafkan aku yang sudah bicara sembarangan."
"Tidak perlu. Aku tahu siapa kamu, Merlin. Tidak perlu minta maaf. Ayo turun! Kita sudah sampai sejal tadi."
"Hah? Sudah sampai sejak tadi? Kenapa kamu gak bangunkan aku saat kita baru sampai."
"Karena aku kasihan. Sudah, jangan dibahas lagi. Ayo cepat turun!"
"Iy--iya."
Merlin mengikuti apa yang Dicky katakan. Turun dari mobil dengan cepat. Sementara Dicky sudah beranjak meninggalkan mobil duluan.
Merlin mengedarkan pandangan matanya ketika dia sudah turun sempurna dari mobil tersebut. Betapa kagetnya dia saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Sebuah bangunan vila yang sangat indah.
__ADS_1
Setiap dinding vila tersebut terdapat gambar burung merak yang dilukis persis seperti burung asli dengan bulu yang berkilau warna warni. Bukan hanya itu, ornamen dan patung yang ada di gerbang masuk juga terdapat patung butung merak dengan cat warna persis burung asli.