Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
65


__ADS_3

Sementara itu, Cindy menangis sambil berjalan meninggalkan kantor polisi. Dia menyesali semua yang telah terjadi selama ini.


"Ternyata, aku ini bukan anak kandung mama. Pantas saja mama memperlakukan aku sebagai alat untuk kesenangan hidupnya selama ini. Mama meminta aku melakukan segala hal demi memikat cowok kaya."


Cindy bicara sendiri sambil terus melangkah. Meski sebenarnya, dia tidak tahu ke mana arah langkah kaki itu akan pergi.


Cindy terus berjalan sambil mengingat semua perlakuan sang mama padanya kemarin-kemarin. Yah, meskipun itu masih dalam batas yang wajar, hanya saja, semua yang dia lakukan, dia sangat tidak menyukainya.


Mamanya meminta dia bersikap manja untuk memikat Dicky. Dia melakukan hal itu meski hatinya merasa sangat malu dengan sikap manja yang dia tunjukkan. Karena sejujurnya, Cindy masih sangat tahu diri. Dicky terlalu ganteng dan terlahir dari keluarga kaya rasa. Sedangkan dirinya, hanya anak dari keluarga sederhana.


Berpuluh-puluh kali mendapat penolakan dari Dicky, dia merasa begitu bosan untuk berhadapan. Hanya saja, sang mama tidak mengizinkan dia menyerah. Dia harus terus melakukan hal yang sangat dia benci setiap bertemu Dicky.


Ingatan demi ingatan, terus saja bergulir dalam benar Cindy. Sampai, bunyi klakson mobil membuyarkan lamunannya. Awalnya, dia ingin mengabaikan, namun, sebuah panggilan membuat dia harus memutar tubuh untuk melihat mobil tersebut.


"Tio." Cindy berucap kecil sambil berusaha menghapus semua air mata yang sebelumnya membahasi pipi.


"Cind, kamu kok bisa ada di sini sih? Mau ke mana? Eh, tunggu. Apa mama kamu masih tidak menerima kamu pulang ke rumah?"


"Ti--tidak. Tidak-tidak. Aku sudah pulang ke rumah kok. Aku ke sini, ikut mama. Ya ... ikut mama jenguk seseorang di ... di sana." Cindy berucap sambil menunjuk lapas yang berada di seberang sana.


"Kantor polisi? Kalian jenguk siapa? Siapa yang masuk penjara?"


"A--aku tidak kenal. Aku hanya menemani mama saja."


"Oh, gitu ya?"


"Sekarang, di mana mamamu, Cind?"


Cindy terdiam untuk beberapa saat lamanya. Dia memikirkan apa yang harus ia katakan pada Tio sekarang. Pertanyaan itu membuat ia kebingungan untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Cindy."


"Kamu gak papa, kan?" tanya Tio sambil menyentuh pelan lengan gadis itu.


"Eh, iy--iya. Aku ... aku gak papa kok. Oh ya, aku harus lanjut jalan lagi sekarang. Permisi."


"Tunggu! Kamu tidak jawab pertanyaan ku barusan. Di mana mamamu?"


"Dia ... masih di jalam sana. Mama minta aku pulang duluan. Soalnya, dia lupa mengunci rumah sebelum ke sini. Takut kemalingan jika di tinggal lama."


"Oh ... ya sudah kalo gitu. Ayo naik! Aku akan antar kan kamu pulang."


"Tidak perlu. Aku pulang sendirian saja."


"Cindy, tidak baik jika kamu jalan sendiri malam-malam begini. Kamu seorang gadis, masih sangat muda lagi. Akan banyak mata jahat yang mengintai kamu nantinya. Ayolah naik saja ke mobilku, kamu akan aman."


"Meski kita baru bertemu tadi siang, tapi setidaknya, kamu sudah kenal dengan aku. Seharusnya, kamu akan merasa aman jika pulang bersamaku malam-malam begini. Lagipula, wajah tampan ini tidak akan berani menyakiti orang lain bukan?"


"Tampan? Siapa yang pernah bilang kamu tampan?" tanya Cindy dengan nada mengejek.


"Tentu saja mamaku."


"Ah, pantas saja dia bilang kamu tampan. Karena kamu adalah anaknya."


"Lalu, jika aku bukan anak mamaku?"


"Ya tidak akan bilang tampan."


"Aku tersinggung dengan kata-kata itu."

__ADS_1


"Biarkan saja. Jika kamu tersinggung, itu tandanya, kamu masih punya hati mas Tio."


Mereka saling tertawa. Untuk sesaat, Cindy melupakan keresahan yang ada dalam hatinya. Dia terhanyut dalam candaan yang Tio buat. Dan pada akhirnya, dia bersedia pulang diantarkan Tio ke rumahnya.


Sementara itu, Dicky sedang berada di ruang tamu sendirian. Sedangkan Merlin berada di kamarnya. Mereka tidak saling bicara setelah pulang dari mansion. Mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


Dicky terlihat resah dengan kesendirian itu. Sementara Merlin, tetap santai meski sebenarnya, dia juga merasa tidak enak hati dengan kondisi diam yang mereka jalani sekarang.


"Sial! Mengapa rasanya seperti ada yang kurang sih sekarang? Ah! Bikin tidak enak hati saja," ucap Dicky menggerutu pada dirinya sendiri.


Kebetulan, ucapan itu didengar oleh bik Imah yang tak sengaja lewat. Merasa punya tangung jawab sebagai penengah, meski dia berasal dari orang luar, bi Imah memberanikan diri untuk menyela perkataan Dicky.


"Ada apa, tuan muda? Sepertinya, ada yang tidak mengena di hati tuan muda sekarang? Apa ... apa masalah dengan nona? Maaf, bibi tidak ingin ikut campur urusan majikan. Hanya saja, jika memang merasa tidak enak di hati, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Karena di dalam hubungan itu harus ada kata mengalah. Tidak boleh membanggakan ego."


"Bik. Apa aku terlalu meninggikan egoku selama ini?"


"Maaf, tuan muda. Pertanyaan itu hanya tuan muda sendiri yang tahu jawabannya. Jika tuan muda merasa iya, maka sekarang harus berusaha memperbaikinya."


"Oh ya, satu hal yang tuan muda harus ketahui. Perempuan itu suka yang namanya kelembutan juga perhatian. Jika ingin memenangkan hati perempuan, harus dengan kasih sayang yang tulus. Dalam hal ini, mengalah adalah kunci yang paling utama."


"Semoga tuan muda mengerti apa yang bibi katakan. Bibi permisi dulu. Sekali lagi maaf. Bibi tidak berniat mencampuri urusan pribadi tuan muda ataupun nona. Permisi, tuan muda."


Dicky tidak berucap. Namun, benaknya membenarkan setiap ucapan yang bi Imah katakan. Bukan hanya itu, dia juga ingat apa yang Merlin katakan tadi siang. Karang saja bisa terkikis oleh ombak, apalagi hati manusia.


Beberapa menit memikirkan semua itu, Dicky bergegas menuju kamar Merlin. Dia ingin mengaku salah atas apa yang dia lakukan tadi siang. Dia tidak ingin Merlin mendiamkannya lagi sekarang.


Dua kali ketukan, si pemilik kamar akhirnya muncul dengan piyama tidur berwarna hijau pekat. Dengan rambut diikat satu di belakang. Tampilan yang sangat sederhana namun terlihat begitu cantik dengan kecantikan yang sangat natural.


Untuk sesaat, mereka saling diam dengan mata yang saling tatap. Dicky mengagumi kesederhanaan yang memancarkan aura kecantikan natural dari wajah Merlin. Sementara Merlin, dia diam karena kaget. Jantungnya juga tidak bisa ia ajak kerja sama saat bertatapan dengan Dicky. Selalu saja bertindak sesuka hati tanpa bisa dia cegah.

__ADS_1


Kalaupun bisa, itu akan memakan waktu yang terkadang lumayan lama untuk kembali membuat detak jantung itu normal dan ingatannya sadar akan dunia sekeliling. Karena pesona mematikan yang Dicky miliki, itu sangat luar biasa ampuhnya.


"Dic--Dicky. Ada perlu apa?" tanya Merlin masih setengah gugup. Namun sudah bisa sadar dari pengaruh berbahaya Dicky.


__ADS_2