
Akhir minggu ini Fitri tetap di kamarnya, memang tubuhnya sudah baikan namun dia malas untuk bangun. Terlihat suaminya keluar dari kamar mandi menuju ke lemari untuk mengambil pakaian.
Fitri terus mengarahkan pandangannya ke arah suaminya. Menyadari bahwa istrinya terus menatapnya, Fajar menghampiri istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Fajar pada istrinya.
"Tak apa-apa" kilah Fitri.
Fajar hanya tersenyum gemas, mencubit pelan kedua pipinya. Kemudian Fajar keluar kamar, menuju dapur dan kembali ke kamar membawa sepiring buah apel yang telah dikupas dan dipotong serta segelas susu putih untuk iatrinya.
Fajar mengambil potongan apel lalu menyuapi istrinya. Fitri pun menerima dan menggigit setengah lalu mengunyahnya. Fajar pun memakan sisa apel gigitan istrinya.
Fitri pun bersikap manja pada suaminya, meminta terus menyuapinya walau sebenarnya dia bisa melakukannya sendiri. Fajar pun menuruti keinginan istrinya, dia malah bahagia melakukan nya.
"Fit, kamu udah mendingan?" tanya Fajar sambil pengarahan kan punggung tangannya ke dahi Fitri.
"Udah baikan mas, cuma aku ingin malas-malasan saja" jawab Fitri.
__ADS_1
Dia memeluk suaminya dengan erat, Fajar hanya menerimanya dan membalas memeluk istrinya. Tak seperti biasanya, hari ini Fitri sungguh manja kepadanya.
"Mas, apa mas masih mencintai ku?" tanya Fitri tiba-tiba dengan tetap memeluk suaminya.
"Kenapa tanya begitu sayang? yang jelas mas sangat mencintamu, sekarang dan selamanya" jawab Fajar dengan yakin.
"Gak mas, cuma ingin dengat lagi aja" balas Fitri.
"Kita menikah hampir satu tahun, apa mas sudah mendambakan hadirnya seorang anak?" tanya Fitri menatap suaminya.
Fitri senang mendengar kata-kata suaminya. Dia hanya takut kejadian yang dulu terulang kembali, dia di tinggalkan suami karena menikah dengan perempuan lain sebab dirinya belum bisa memberinya keturunan.
Pikiran tentang Foto yang di terimanya masih mengganggu nya. Sebenarnya ia sangat ingin mencari tahu yang sebenarnya. Namun untuk sekarang dia belum berani menanyakan pada suaminya, dia takut akan kenyataan yang sebenarnya. Dia hanya ingin menenangkan diri dan pikirannya, menguatkan hatinya sebelum mengetahui kenyataan nya.
***
Malam hari, Fitri memang sudah sangat segar. Wajahnya kini sudah tak pucat lagi, nafsu makan pun sudah normal seperti semula. Fajar melihat istrinya sudah bugar pun mencoba mendekati istrinya. Dia mencium leher samping istrinya dengan lembut, menyusuri setiap incinya hingga sampai di telinga istrinya. Fajar menggigit lembut telinga istrinya dan menciumnya dengan halus.
__ADS_1
Rasa geli menjalar di tubuh Fitri, dia tahu akan seperti apa kelanjutannya. Sebenarnya dia sedang tidak ingin melakukannya, maka dari itu dia sedikit mendorong suaminya. Fajar yang mendapatkan perlakuan itu tersentak kaget, merasa aneh karena tak sekalipun Fitri menolak keinginannya.
"Fit, kamu kenapa?" tanya Fajar terkejut.
"Tak apa-apa mas, cuma lagi tak ingin melakukannya, badan ku masih perlu istrahat" kilah Fitri berbohong pada suaminya.
Fajar pun mengerti dan dia menyuruh istrinya untuk tidur terlebih dahulu, sebab ia belum mengantuk. Dia akan duduk di kursi mengecek file-file untuk dia kerjakan.
Fitri menyesali perbuatannya, menolak hak suaminya akan dirinya. Tapi dia tidak bisa melakukannya dalam keadaan hatinya yang sedang tak karuan.
"Maafkan aku mas, sebelum aku tahu yang sebenarnya tentang foto itu, aku tidak bisa memberikan kewajibanku padamu" batin Fitri.
***
Jangan lupa like dan vote untuk mendukung Author. Serta komen jika ada saran dan kritik.
Terimakasih 😊😊😊
__ADS_1