
Usia kandungan Fitri menginjak 8 bulan, ia sudah mulai sering capek karena perutnya sudah mulai membesar. Banyak keluhan yang ia rasakan, mulai dari susah tidur karena posisinya sudah tak membuatnya nyaman, nafsu makan jadi berkurang dan yang sering ia rasakan yaitu sakit pada punggung bagian bawah karena memang menopang beban berat bayi dalam kandungannya.
Fitri sering sekali meminta untuk di pijat sekedarnya oleh Fajar dan Fajar pun melakukan apa yang di inginkan istrinya. ia terkesan sangat memanjakan istrinya bukan hanya karena Fitri sedang hamil namun karena ia memang sangat mencintai Fitri dan calon buah hati mereka.
"Mas, boleh gak kalau mamah tinggal disini. Soalnya kehamilanku kan sudah besar, agar ada yang menemani aku dirumah" ucap Fitri.
"Boleh dong sayang, bagus kan ada yang standby di rumah. Dan mamah juga sudah sangat berpengalaman cara merawat bayi" balas Fajar setuju.
"Terimakasih mas, nanti aku telpon mamah deh buat datang kesini. Lagian aku juga sudah kangen banget sama mamah" Fitri terlihat senang mendapat ijin suaminya.
"Kamu istirahat yah sayang, mas mau ke ruang kerja, ada perkerjaan yang mesti mas cek dan mengirimnya ke Andi" Fajar mengecup kening Fitri lalu beranjak keluar kamar menuju ruang kerja.
Fitri yang masih duduk di atas ranjang sambilenyenderkan tubuhnya di ujung kepala tempat tidur, terus mengelus perutnya yang besar. "Sayang, sebentar lagi kita ketemu. Sehat terus di perut mamah yah sayang" ucap Fitri seolah berbicara dengan bayinya.
Mereka memutuskan untuk tak menanyakan jenis kelamin bayinya karena mereka ingin ketika lahir itulah dimana ia mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Makanya mereka membeli perlengkapan bayi secara netral agar bisa di gunakan untuk bayi mereka baik lelaki atau perempuan.
_______
Pagi hari Fitri segera menghubungi bu Elis untuk memintanya datang, untun menemaninya selama masa kehamilan sampai melahirkan. Bu Elis sangat setuju, ia antusias karena ia juga sangat khawatir atas pengalaman pertama putrinya dan ia memutuskan akan segera ke jakarta pada siang hari ini.
Fajar berangkat ke kantor karena memang ada beberapa meeting yang harus ia hadiri sementara Fitri memutuskan untuk tetap dirumah dengan beraktifitas seadanya yang ringan-ringan saja. Sekalian jalan-jalan sekitaran rumah agar kelahiran bayinya bisa lancar, ia berharap bisa melahirkan secara normal dan lancar.
Siang hari, bu Elis pun tiba pukul 2 siang. Ia segera memencet pintu rumah Fitri lalu bi Minah membukanya.
"Fitrinya ada bi?" tanya bu Elis seraya masuk ke dalam rumah.
"Ada di kamarnya nyonya, nanti saya panggilkan" ucap bu Elis.
"Tak usah bi, biar saya yang kesana" bu Elis pun hendak menuju tangga karena dikira Fitri masih di kamar atas namun bi Minah menahannya.
"Maaf Nyonya, nyonya Fitri ada di kamar sana. Beliau memutuskan untuk tinggal di lantai bawah karena kehamilannya" ucap bi Minah.
"Oh iya bi, makasih yah." bu Elis langsung menuju kamar yang dimaksud bi Minah. Ia mengetuknya perlahan namun tak ada jawaban.
__ADS_1
Lalu bu Elis memutuskan untuk masuk karena memang pintu kamarnya tidak dikunci. Terlihat Fitri sedang terlelap dengan memeluk guling, bu Elis tersenyum. Ia tahu pasti dengan keadaan hamil besar seperti sekarang Fitri pasti sulit tidur malam hari. Ia menghampiri putrinya tersebut lalu duduk di dekatnya dan mengelus kepala putrinya dengan sayang.
"Fit, anak manjanya mamah sekarang akan menjadi seorang ibu. Mamah senang karena kamu sudah diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menjadi wanita seutuhnya. Ini semua berkat doamu yang sungguh-sungguh dan perhatian dari suamimu yang sangat mencintaimu." Gumam bu Elis lalu beranjak dari duduknya dan keluar kamar Fitri untuk memberinya waktu istrirahat.
_________
Mata kuliah terakhir hari ini adalah matakuliah yang di ajarkan oleh Irwan, teman dekat Farah yang mengetahui akan status mereka berdua sedikit mendelik menggoda ke arah Farah.
"Cie cie pengantin baru, nih. Gimana rasanya?" teman 1.
"Ehem ehem di ajarin suami sendiri gimana yah rasanya?" teman 2.
"Di ajarin apa maksudnya?" tanya teman 1 melirik Farah.
"Yah di ajarin mata kuliah dan di ajarin sesuatu juga" kedua teman Farah langsung cengengesan.
Farah yang terus di ejek kedua temannya memerah, ia merasa malu akan ulah kedua temannya tersebut, "Udah udah, bentar lagi pak dosen masuk" ucap Farah.
Memang benar, tak berapa lama Irwan pun masuk. Seperti biasa Irwan selalu melemparkan senyuman manisnya terutama pandangannya terkadang tertuju ke atah Farah, istrinya. Farah hanya merona di tatap oleh suaminya padahal mereka sudah menikah lebih dari 4 bulan. Kedua teman Farah terus saja melirik Farah dengan tatapan menggoda atau mengejek cambil cengengesan.
90 menit sudah Irwan mengajar dan waktu mata kuliahnya pun selesai. Semua mahasiswa pun segera keluar dari kelas termasuk kedua teman Farah yang mengerti dan keluar meninggalkan Farah dengan Irwan.
Irwan menghampiri Istrinya dengan senyum yang mengembang. "Mau pulang sekarang sayang?"
"Iya mas, tapi mau makan dulu yah laper. Tadi gak sempat makan siang soalnya harus ke perpustakaan karena ada tugas" balas Farah.
"Okelah sayang, kebetulan mas juga tadi tak makan siang. Mau makan dimana?" tanya Irwan.
"Aku mau makan bakso aja deh yang langganan yah" balas Farah.
"Duh bakso terus nanti gendut loh" ucap Irwan menggoda.
"Kalau aku gendut emangnya kenapa? mas gak suka yah" gerutu Farah dengan wajah di tekuk.
__ADS_1
"Yah gak lah sayang, aku suka kamu apa adanya. Mau gendut atau gak juga mas tetap Cinta. Jangan ngambek gitu dong" Irwan mencubit gemas hidung istrinya.
"Hayo ah, kita pulang. Mas sudah lapar" ajak Irwan terus menggandeng tangan istrinya.
"Mas lepasin. Ini kan di kampus, gak enak dilihatin orang" ucap Farah yang terus di gandenga Irwan keluar kelas dan berjalan di lorong kampus.
"Kita kan suami istri, kamu gak usah malu" jawab Irwan santai.
"Bukannya malu mas, tapi gak enak aja dengan tatapan orang-orang" balas Farah yang mencoba melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
Memang benar, semua mata tertuju pada mereka berdua. Terutama pada mahasiswa yang tidak tahu akan status pernikahan mereka. Ada yang menatapnya nyinyir dan ada pula yang menatapnya romantis. Itu yang sangat membuat Farah risih namun Irwan terus saja berjalan santai dengan malah mempererat genggamannya pada tangan istrinya.
________
Fitri terbangun setelah tidur cukup lama, ia melihat jam didindingbkamarnya ternyata telah pukul 3 sore hari. Terdengar diluar suara orang yang sedang berbincang, suara mereka begitu familiar di telinganya. Fitri lalu merapikan rambutnya dan segera beranjak keluar ke sumber suara.
Terlihat di ruang televisi ada bu Elis serta Farah dan Irwan yang sedang asik mengobrol bersama.
"Eh mamah sudah datang. Farah dan Irwan juga ada " ucap Fitri menghampiri mereka.
"Iya Fit, mamah sudah datang dari tadi saat kamu tidur." Balas bu Elis.
"Kenapa tak membangunkanku sih mah?" ucap Fitri.
"Mamah gak enak, biar kamu istrirahat aja. Pasti malam susah tidur kan!" ucap bu Elis dan memang di benarkan oleh Fitri.
"Kamu juga nih Farah, jarang banget main ke rumah. Sekarang udah betah nih yah ada yang nemenin" ucap Fitri mendelik.
"Gak gitu teh, kan aku sudah mulai kuliah lagi jadi udah ada aktivitas lagi" balas Farah.
"Iya iya, teteh bercanda kok. Pasti Irwan perhatian yah, sampai Farah yang suka main ini jadi betah di rumah" usil Fitri.
"Yah pasti dong Fit, eh... kakak ipar. Farah selalu aku manjain" jawaban Irwan membuat semuanya tertawa. Farah hanya tersenyum malu karena perkataan suaminya.
__ADS_1
Mereka pun mengobrol satu sama lain, saling melepas rindu terutama Farah dan Fitri yang merindukan mamahnya mereka.
Bersambung.....