
Fitri dan Fajar berada di rumah lama Fitri, untuk membantu menyiapkan acara untuk malam nanti. Karena pada malam hari ini Irwan akan datang bersama orangtuanya yang secara resmi akan melamar atau bertunangan dengan Farah.
Fitri ikut membantu dan mengarahkan dekorasi hiasan rumah untuk acaranya. Didominasi dengan warna silver kesukaan Farah, agar terkesan mewah dengan banyaknya dekorasi yang di tambah dengan permata-permata berwarna putih.
Farah di kamar sedang berbicara dengan Irwan di telpon.
Irwan : "Bagaimana Farah sudah siap nanti malam?"
Farah : "Siap sih mas, cuma aku gugup aja"
Irwan : "Gak perlu gugup ini kan hanya bertunangan. Padahal sih aku inginnya langsung nikah saja hehehe"
Farah : "Ih... mas ini. Sudah pengen langsung halal saja"
Irwan : " Yah mending langsung halal aja yah, mau ngapa-ngapain aja kan gak dosa".
Farah : " Bener sih mas, tapi kan orangtuaku ingin aku lulus dulu".
Irwan : "Bersrti kamu ingin kita nikah yah, emang udah siap?". Beberapa lama tak ada jawaban dari Farah.
Irwan : "Halo! Farah masih ada di situ kan! Farah!".
Farah : " Iya mas, kalau di bolehin aku sih inginnya langsung nikah saja"
Irwan : " Iya, yasudah selama kita nanti menjalani pertunangan, kita berusaha untuk meyakinkan orangtuamu kalau kita sudah siap menikah!"
Farah : "Iya mas, semoga bisa secepatnya terwujud"
Irwan : "Maaf yah Farah, mamah dan papah sudah manggil, aku tutup yah"
Farah : "iya mas"
__________
"Irwan, cepat kita harus siap-siap sekarang" ujar mamahnya irwan.
"Apa mah? ini juga kan masih siang, kan acaranya nanti malam." balas Irwan.
"Udah cepetan kamu berpakaian dengan yang sudah mamah siapkan" ujar mamahnya Irwan.
Irwan pun segera masuk kedalam kamarnya dengan malas karena yang ia tahu acaranya malam hari dan sekarang baru pukul 2 siang.
Namun ia sedikit terkejut dengan pakaian yang di lihatnya yang terletak di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Mah, apa aku harus pakai baju ini?" tanya Irwan sedikit berteriak.
"Iya nak, itu pakaiannya. Agar kamu samaan sama Farah" balas mamahnya irwan dengan sedikit berteriak pulan.
Irwanpun memakai pakaiannya itu, ia bercermin. Ia merasa baju ini bukan untuk orang bertunangan tapi ini seperti baju untuk pernikahan. Mengabaikan pikirannya ia pun tetap mengenakan bajunya.
Terlihat banyak sekali barang yang di bawa keluarganya dan Irwan tak mengetahui bahwa barang bawaannya akan sebanyak ini.
"Mah, pah. Cuma buat lamaran saja barang bawaannya banyak banget.!" Irwan bingung.
"Tak apa lah nak, kan untuk calon istrimu juga" balas papahnya Irwan.
Akhirnya mereka menuju rumah lama Fitri, Irwan merasa aneh dan bingung dengan keluarganya. Apalagi dengan barang bawaan yang banyak serta hampir keluarga besarnya ikut dalam rombongan.
Butuh waktu 1 jam untuk sampai di tempat tujuan, di depan rumah sudah ada Fajar, mertuanya dan keluarganya menyambut kedatangan Irwan beserta rombongannya.
Irwan turun dan melihat bahwa pakaian dari pihak keluarganya dan dari pihak sarah pun berwarna senada seakan sudah di rencanakan sebelumnya. Membuat ia tambah bertanya-tanya.
Irwan dan rombongan pun langsung di sambut dengan ramah oleh keluarga Farah. Lalu mempersilahkan mereka masuk semuanya. Irwan sangat yakin kalau acara lamaran tak akan seperti ini setelah melihat dekorasi ruangan seperti layaknya akan melangsungkan pesta pernikahan.
Semuanya duduk untuk mendengarkan kata sambutan dari pihak perempuan maupun dari pihak laki-laki. Setelah saling menyampaikan sambutan masing-masing. Lalu ada yang membawa meja kecil dan di letakkan di atas karpet serta datang beberapa orang yang seperti penghulu serta khalifahnya.
"Maksudnya apa ini" batin Irwan Terkejut.
Irwan menatap kedua orangtuanya dengan penuh rasa heran. Orangtuanya menyuruh Irwan untuk duduk di hadapan penghulu. Dengan masih dengan wajah bingung, Irwan menghadap ke penghulu. Lalu melirik Fajar dan sekitaran, mereka tersenyum penuh arti.
"Baiklah, bisa kita mulai. Ijab Qobul ini tidak di wakilkan. Pak Heru selaku ayah kandung dari mempelai wanita yang menikahkannya langsung" ujar khalifah.
"Baiklah, kita mulai ijab qobulnya" ucap penghulu.
Pengucapan ijab qobulnya pun dimulai, walau masih heran namun Irwan mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan jelas, sekali tarikan nafas dan semua yang hadir ramai berteriak Syah. Irwan merasa lega dan bahagia, ternyata hari ini adalah hari pernikahannya yang tanpa ia ketahui.
Farah datang bersama Fitri, berjalan menghampiri Irwan yang diam terpaku menatap kedatangan pengantinnya. Wajahnya sumringah tatkala Farah duduk di sampingnya. Farah mencium punggung tangan Irwan yang sekarang telah menjadi suaminya. Senyum kebahagiaan dari keduanya terpancar jelas.
Mereka pun menandatangani berkas-berkas yang dibutuhkan dan memegang buku nikah di tangan mereka. Acara di lanjutkan dengan foto bersama kedua belah pihak. Selain keluarga semuanya juga hadir termasuk Ria, bima, Andi, Syifa dan teman-teman lainnya. Mungkin hanya sang pengntin yang tidak di beritahu sebelumnya.
Acara pun selesai tepat pukul 10 malam. Farah dan Irwan di persilahkan untuk menuju kamar mereka, tepatnya kamar pengantin mereka. Setelah semua tamu kembali pulang termasuk keluarga Irwan. Yang tersisa hanya orangtua Farah serta Fajar dan Fitri.
________
Farah dan Irwan merasa canggung di dalam kamarnya, dengan senyum malu-malu mereka kadang saling tatap. Irwan pun membuka pembicaraan.
"Far, apa kau tahu kalau hari ini adalah hari pernikahan kita? sejujurnya aku tidak mengetahui sama sekali" ucap Irwan.
__ADS_1
"Aku juga sama mas, tidak tahu sama sekali. Bahkan saat di dandani seperti ini" balas Farah.
"Berarti kita di kerjai sama keluarga kita. Tapi tak apa sih. Mas malah senang sekarang sudah sah jadi suamimu" senyum bahagia menghias bibir Irwan.
"Mas, bantuin aku membuka hiasan kepala ini" pinta Farah.
Irwan pun mencoba membantu membuka jepitan rambut yang sangat banyak guna menahan sanggul kecil kepala Farah. Dengan menarik hiasan kepala istrinya.
"Mas, pelan-pelan yah"
"Iya sayang"
"Aw.. Sakit mas, kataku juga pelan-pelan"
"Tapi gak kelihatan, makanya lampunya nyalain semua biar terang"
"Gak mau, masa dengan lampu tidur gak kelihatan sih"
"Yasudah, mas coba lagi"
"Aw... Mas ini, jangan keras-keras, tekan dulu baru di tarik. Aku kan jadi sakit"
"Mas harus gimana lagi sayang. Susah banget soalnya"
Tanpa Farah dan Irwan sadari, suara mereka cukup bisa di dengar dari luar kamar. Fitri, Fajar dan kedua orangtuanya mendengar itu semua membuat mereka cengengesan. Tapi orangtua Fitri langsung pergi dari sana sementara Fajar dan Fitri masih senang mendengarkan percakapan pengantin baru yang di kamarnya entah sedang berbuat apa.
"Farah di apaain yah mas?" tanya Fitri.
"Kayaknya Irwan itu pengen buru-buru deh jadi kayak gitu" balas Fajar.
"Tapi omongan mereka kenceng banget, tak tahu apa yah di luar ada orang yang mendengarnya" Fitri cengengesan.
"Seneng banget kamu, ayok kita kekamar!" ajak Fajar.
"Mau ngapain?" tanya Fitri.
"Yah tidurlah sayang, sekalian mau nengok si kecil" genit Fajar.
"Ayo kita tidur aja, udah capek. Gak ada nengok-nengok segala" Fitri melengos begitu saja di ikuti Fajar yang terus menggodanya.
Bersambung......
Selalu dukung Author dengan Vote, like dan komen ...
__ADS_1
terimakasih 😊