Terpikat Pesona Janda Kembang

Terpikat Pesona Janda Kembang
Keharmonisan


__ADS_3

Fitri sedang memasak bersama mamah Elis dan bi Minah. Mereka terlihat sudah sangat lihai membuat beberapa menu untuk sarapan pagi ini. Pak Heru sedang menikmati secangkir kopi dan sedang membaca koran di halaman belakang rumah fitri sementara Fajar sedang menyaksikan berita di televisi.


Masakan pun selesai dan telah ditata rapi di atas meja makan, bu Elis memanggil suaminya dan Fitri pun memanggil Fajar untuk segera sarapan. Setelah semuanya kumpul mereka pun sama-sama menyantap hidangan yang tersedia.


"Wah, ini cumi krispy manis pedas. Enak banget, siapa yang buat?" tanya Fajar yang sangat lahap memakannya.


"Itu mamah yang buat, nak Fajar" balas bu Elis.


"Pantas saja, aku tak pernah memakan masakan seenak ini." Ucap Fajar melirik Fitri.


"Aku juga bisa buatnya, cuma aku gak kepikiran buatnya" balas Fitri yang menjawab tatapan suaminya.


"Beneran" ucap Fajar sedikit meremehkan namun tak serius.


"Betul mas, nanti mas bilang aja kalau mas mau dimasakin" jawab tegas Fitri.


"Iya, iya mas percaya kok. Selama ini memang masakanmu itu kan enak. Makanya berat badanku mulai naik" ucap Fajar sambil melirik perutnya yang datar-datar saja.


"Masa sih, orang badan mas dari awal segitu-segitu saja kok." balas Fitri memperhatikan tubuh suaminya.


"Beneran sayang" ucap Fajar dengan senyuman manisnya.


Memang badan Fajar masih sama dengan waktu dulu, dia hanya ingin memuji masakan enak istrinya saja. Sebenarnya ia mengakui jika nafsu makannya bertambah semenjak menikah namun di barengi dengan olah raga rutin sehingga tubuhnya tetap sama.


Bu Elis dan pak Heru tersenyum bahagia melihat keharmonisan rumah tangga anaknya. Mereka sangat senang bahwa Fitri telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka jadi tak khawatir akan putri pertamanya yang sekarang mendapat suami yang baik dan perhatian.


"Oh iya Fit, nak Fajar. Mamah dan papah mau ke rumah Farah sekalian mau langsung pulang ke bandung" ujar bu Elis.


"Kok sebentar sih mah, pah. Fitri kan masih kangen" keluh Fitri.


"Papah ada pekerjaan yang harus di selesaikan, tak bisa di tinggal lama-lama" jelas Pak Heru.


"Yah... papah...." keluh Fitri bak anak kecil.


"Kau ini Fit, sudah mau jadi ibu kok masih manja." ejek bu Elis, Fitri hanya cemberut.

__ADS_1


"Iya mah, semenjak hamil. Manjanya bertambah sampai tak mau di tinggalin" setuju Fajar.


"Apaan sih mas? gak gitu juga kali" ujar Fitri dengan nada manja.


"Tuh, lihat kan mah, pah" Fajar melirik Fitri. Bu Elis dan Pak Heru hanya tersenyum melihat tingkah anaknya, memang karena Fitri anak pertama. Ia selalu manja pada orangtuanya, karena jarak Fitri dan Farah pun cukup jauh yaitu 5 tahun. Berbanding terbalik dengan Farah, walau usianya masih muda tapi ia lebih dewasa dan bisa mendiri di bandingkan dengan kakaknya. Jadi mereka bisa memaklumi jika Fitri pun akan manja kepada suaminya seperti sekarang.


Beberapa jam kemudian orangtua Fitri pamit untuk ke rumah Farah sekaligus nanti pulang ke bandung. Fitri memeluk mamah dan papahnya bergantian dengan wajah manja dan sedikit berkaca-kaca seperti tak ingin di tinggal.


"Hati-hati yah, mah, pah!" Fitri melambaikan tangannya begitupun Fajar.


Fajar melihat wajah Fitri yang sayu, lalu Fajar menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke rumah lalu duduk di sofa ruang televisi.


"Duh ini anak kecil cengeng banget sih" ucap Fajar dengan gemas memegang pipi Istrinya hingga bibirnya tertekan seperti bebek. Lalu Fajar mengecup sekilas bibir manyun Fitri.


Akhirnya Fitri bisa tersenyum dengan ulah suaminya. "Mas ini selalu bisa menghibur aku"


"Yah iya dong, buat istri manjaku apa sih yang gak bisa" ucap Fajar dengan bangga.


__________


Pak Heru dan bu Elis telah sampai di rumah Farah, mereka memencet bel pintu lalu bi Dedeh membuka pintunya.


"Ada nyonya, mereka sedang menonton televisi" balas bi Dedeh.


Bu Elis dan pak Heru pun masuk, mereka mendengar canda tawa terutama suara tawa Farah yang lumayan kencang. Mereka mendekat ke arah suara dan terlihat Irwan sedang menindih Farah untuk menggelitiki istrinya. Tak tahu apa sebabnya Irwan melakukan itu tapi Farah sampai terpingkal-pingkal dibuatnya menahan geli atas perlakuan suaminya. Irwan yang terus menggelitiki Farah hanya bisa menahan tawa senangnya mengerjai istrinya. Mereka tak sadar jika pak Heru dan bu Elis terus memperhatikan mereka dengan senyum.


"Ehem...ehemm...." suara deheman pak Heru menghentikan aktivitas mereka, seketika Irwan dan Farah menatap ke arah sumber suara. Tertegun sejenak karena terlalu terkejut, lalu menyadari posisi mereka saling tindih buru-buru Irwan bangkit dari atas tubuh Farah lalu berdiri, begitupun Farah langsung berdiri mengikuti suaminya.


Farah dan Irwan membereskan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan lalu mereka tersenyum malu ke arah orangtua Farah.


"Eh mamah, papah. Mau datang gak ngabarin dulu!" ucap Farah masih terlihat malu.


"Apa kabar mah, pah?" tanya Irwan sedikit canggung karena mereka datang pas waktu yang sangat tepat.


"Ah kami mampir sebentar karena mau pamit dengan kalian. Soalnya habis ini kami akan kembali ke bandung" ucap bu Elis masih dengan senyum menggelikan.

__ADS_1


"Yah.. kok mamah dan papah mau langsung pulang, kenapa gak menginap dulu di sini aja sih!" keluh Farah karena masih merindukan orangtuanya.


"Oh papah lagi ada kerjaan yang tak bisa di tunda, jadi harus cepat pulang. Lagian mamah dan papah juga gak mau mengganggu kemesraan pengantin baru" ucap bu Elis menggoda anak dan menantunya.


"Apaan sih mah! gak ada yang merasa terganggu kok. Benar gak mas?" ucap Farah melirik suaminya.


"Iya kok mah, pah. Menginap saja di sini" ucap Irwan yang mengerti maksud Istrinya.


"hehehe gak perlu nak, kami akan berangkat sekarang. Ini rekan papah sudah nelpon terus" ucap pak Heru.


Pak Heru dan bu Elis hanya mampir selama 2 jam, berbincang dengan Farah dan Irwan. Lalu mereka pamit untuk segera pulang ke Bandung. Irwan dan Farah mengantar bu Elis dan pak Heru hingga ke depan rumah mereka.


"Kayaknya mamah bakalan dapat cucu dari kamu nih Farah" ucap bu Elis menatap Farah.


"Nanti kita dapat double cucunya yah mah" senyum pak Heru.


"Apaan sih mamah dan papah? Farah kan masih mau selesaikan kuliah dulu. Farah menunda sampai lulus kuliah" balas Farah lalu memeluk kedua orangtuanya bergantian. Irwan hanya tersenyum lalu mencium kedua tangan mertuanya.


"Yaudah mamah dan papah berangkat yah sayang" ucap pak Heru.


"Iya mah, pah. Hati-hati di jalan" Farah dan Irwan melambaikan tangan mereka ke arah mobil yang melaju menjauh.


Farah dan Irwan pun masuk ke dalam rumah dengan tangan saling bergandengan.


"Beneran kamu akan menunda kehamilan?" tanya Irwan.


"Iya mas, aku ingin lulus dulu. Kan hanya 2 tahun lagi saja, boleh yah mas! sekalian kita nikmati waktu berdua dulu." Farah memelas kepada suaminya.


"Ok deh kalau itu maunya kamu, aku sih tak masalah. Yang penting aku selalu dapat jatah dari kamu" Senyuman genit dan pancaran mata menggoda dari Irwan.


"Apaan sih mas ini! padahal selama ini main tubruk aja gak ijin dulu" balas Farah.


"Yah soalnya kamu bikin nagih sih" ucap Irwan mencubit hidung istrinya.


Farah pun tersenyum lalu ia sedikit berlari menuju kamarnya di ikuti oleh Irwan yang tersenyum gemas dengan tingkah istrinya. Mereka berlari kecil menaiki tangga bak film-film india cuma tak ada iringan musiknya saja.

__ADS_1


**Bersambung.....


Masih ingin tahu kelanjutannya, jangan lupa Vote, Like dan Comen yah, Terimakasih 😊**


__ADS_2