
Seharian Farah memikirkan perkataan Irwan, dia berpikir apakah Irwan benar-benar akan datang ke rumahnya! Apa mungkin malam ini ia akan benar-benar datang?.
Farah gelisah, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika nantinya lrwan beneran datang ke rumahnya. Sarah bolak balik di ruang televisi tanpa ia sadari bi Dedeh dari tadi sudah memperhatikan nya.
"Kenapa non? ada yang di pikirkan?" tanya bi Dedeh.
"Gak kok bi. Oh iya bi! bi dedeh bisa beli cemilan ke minimarket depan, soalnya malam ini akan ada tamu datang" Farah memberikan beberapa uang ke bi Dedeh.
"Baik non, tapi cemilan apa yah?" bi Dedeh bingung.
"Apa aja, yang penting enak" balas Farah. Bi Dedeh pun pergi ke minimarket.
______
Malam pun tiba
Farah semakin gelisah menunggu kedatangan Irwan, waktu sudah menunjukan puku 19.00 wib namun Irwan belum datang juga. Farah sudah berdandan sangat cantik untuk menyambut kedatangan Irwan.
Pukul 19.15 wib, bell pintu berbunyi. BI Dedeh segera membuka pintu dan benar Irwan baru saja tiba, lalu BI Dedeh mempersilahkan irwan untuk masuk karena Farah sudah menunggu.
"Malam Farah, maaf agak terlambat dari perjanjian. Tadi saya ada urusan sebentar" Irwan memberikan setangkai bunga mawar kepada Farah.
BI Dedeh datang membawa 2 cangkir teh hangat dan setoples cemilan.
"Silahkan mas, diminum dulu" ucap Farah.
__ADS_1
Irwan pun meminum tehnya sedikit dengan sangat gugup. Mereka berdua hanya terdiam untuk beberapa saat karena keduanya benar-benar bingung harus memulai obrolannya. Irwan pun berinisiatif membuka pembicaraan.
"Begini Farah, kau tahu kan kita pertama bertemu itu di pestanya Fajar!" ujar Irwan.
"Sebenarnya pada saat itu, saya merasa ada ketertarikan terhadapmu. Waktu kita kumpul mengobrol bersama, mungkin tanpa kau sadari aku selalu mencuri pandang ke arahmu. Saat itu di dalam mataku kau begitu cantik bahkan sampai saat ini kau malah lebih cantik. Bukannya aku berkata gombal tapi ini serius dari dalam Hatiku. Saat bertemu di kampus aku benar-benar tidak tahu jika kau berkuliah disana namun saat aku melihatmu di ruang kelas, aku senang dan ingin menghampirimu. Aku berusaha menahannya sampai jam pelajaran selesai, saat itu aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumahmu. Sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu malam ini. Farah, maukah kau jadi pendamping hidupku. Saya harus mengatakan itu, karena jika aku memintamu untuk menjadi pacarku. Aku takut akan kehilanganmu, maka aku ingin hubungan yang lebih serius daripada sekedar hubungan pacaran saja." Irwan mencurahkan perasaannya secara panjang lebar untuk meluapkan seluruh isi hatinya.
Farah tertegun sejenak tak bisa berkata apa-apa, perkataan yang Irwan ungkapkan begitu menyentuh hatinya. Ia sangat terkesan akan pernyataan cinta irwan yang tak di buat-buat. Tanpa harus menunggu lama hatinya sudah bisa memilih arahnya.
"Sejujurnya, saya pun merasakan hal yang sama dengan yang mas rasakan. Saya bersedia menjadi pendamping hidup mas, tapi bisakah mas menunggu sebentar saja untuk saya meyakinkan keluarga saya agar mengijinkan saya berhubungan serius. Untuk saat ini kita jalani sebisa kita" balas Farah yang secara tidak langsung menerima hati irwan.
"Terimakasih Farah, aku sangat senang mendengarnya" irwan tersenyum bahagia menatap Farah sambil menggenggam kedua tangan Farah.
Dan Farah pun tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia.
_________
Fajar sedang kerepotan memngulek bumbu rujak untuk istrinya. Di bantu oleh ke bi Minah asisten rumah tangganya yang memotong beragam jenis bahan untuk rujaknya.
Hari ini Fitri ngidam rujak yang di buat khusus oleh suaminya. Melihat seorang Direktur eksekutif sedang bergelut dengan cobek dan ulekan, membuat Fitri dan bi Minah tersenyum tak menyangka. Fitri pun pamit pergi ke ruang televisi.
"Bagaimana bi, apa sudah halus!" tanya Fajar.
"Iya den, udah cukup." balas bi Minah.
"Bibi bisa cobain rasanya!" pinta Fajar.
__ADS_1
Bi minah mencolek sedikit rujaknya dan dia melotot kepedasan, bibirnya terasa terbakar.
"Kenapa bi?" tanya Fajar Heran.
"Den ini sebenarnya pake cabe berapa biji?" bi Minah terus mengipas-ngipas lidahnya dengan tabgannya.
"10 biji, emang pedes banget yah!" Fajar pun mencoba mencolek rujaknya dan ternyata memang sangat pedas.
"Den Fajar coba tambahin gula dan garam lagi biar pedasnya sedikit berkurang" ucap bi Minah, Fajarpun menambau beberapa gula merah dan garamnya.
Bi minah mencobanya kembali dan hasilnya lumayan enak. Setelah itu Fajar dan bi Minah membawanya ke depan ruang Televisi karena Fitri berada di sana.
"Ya ampun mas, bikin bumbu rujaknya banyak banget" Fitri melongo melihat bumbu rujak yang begitu banyak.
"hehehe iya, mas tadi kebanyakan cabe jadi di tambahin gulanya hasilnya jadi banyak begitu" Fajar cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yaudah, karena banyak jadi mas dan Bi Minah harus ikut makan rujaknya yah" ucap Fitri.
"Tapi non, bibi gak enak" bi Minah menolak.
"Ingat ini bukan ajakan tapi perintah" ucap Fitri tersenyum.
Akhirnya mereka bertiga menikmati memakan rujak bersama, Fitri memang lebih banyak makan karena memang ia sangat ingin memakab rujak buatan suaminya.
Bersambung.....
__ADS_1
Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, terimakasih 😊