
Malam hari akhirnya keluarga Fajar tiba di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruangan dimana Fajar di rawat. Bu Mira segera menghampiri putranya dan langsung menagis sambil meluk anaknya yang masih belum sadar. Sementara pak Wisnu, Farhan dan Farah pun terlihat sedih melihat ke adaan Fajar yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Bu Mira mendekati Fitri dan memeluk menantunya itu dengan air mata yang terus mengalir. Fitri pun menenangkan ibu mertuanya sambil membalas pelukannya.
Tak berapa lama Fitri melihat gerakan tangan Fajar, lalu perlahan Fajar membuka matanya. Fitri segera menghampiri suaminya dan menangis senang melihat suaminya sudah siuman.
"Mas, Alhamdulillah mas sudah sadar" senyum Fitri terhias di bibirnya walau dengan mata yang masih memerah dan linangan air mata yang masih tersisa di pipinya.
Semua yang berada di ruangan itu pun pada tersenyum bahagia karena melihat Fajar telah sadar dan semuanya merasa bersyukur atas kesadaran Fajar.
"Kalian kenapa ribut semuanya? aku kan jadi tidak bisa tidur" canda Fajar tersenyum dengan nada suara masih lemah.
__ADS_1
Fitri tersenyum lalu memeluk suaminya tersebut. "Mas ini masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini, Fitri minta maaf, Fitri pergi ke Bandung tanpa memberi tahu mas, Fitri menyesal mas. Kalau Fitri gak pergi begitu saja mungkin mas gak akan seperti ini" terisak kembali.
"Sudah lah sayang, ini semua bukan salah kamu atau salah siapapun, tapi ini semua sudah takdir. Udah kamu jangan mengis, lihat kan mas udah tidak apa-apa" Fajar mengusap airmata yang ada di pipi istrinya.
***
Tiga hari sudah akhirnya Fajar di perbolehkan pulang. Keluarga dari keduanya ikut mengantar Fajar pulang, mereka menuju kediaman orangtua Fitri. Karena untuk sementara Fajar dan Fitri tinggal di Bandung dulu sampai Fajar terlihat sehat lagi.
Fitri dan Farhan membantu Fajar turun dari mobil, Fitri memegang lengan suaminya menuju ke dalam rumah.
Para orangtua pun mengobrol bersama, Farah menuju kamarnya dan merebahkan dirinya karena lelah. Sementara Fitri membawa suaminya ke dalam kamarnya untuk istirahat. Fitri menumpuk bantal di kepala tempat tidur agar Fajar bersandar di sana. Fitri pun hendak beranjak mengambil minum dan obat yang dari rumah sakit. Namun Fajar menarik tangan Fitri sehingga Fitri terduduk di sampingnya.
__ADS_1
Fitri sedikit kaget dan memelototkan matanya pada suaminya dengan tersenyum penuh tanya. Tapi tiba-tiba Fajar mengecup bibir istrinya yang membuat Fitri terkejut, Fajar tersenyum ke arah istri nya dan berbisik di telinga istrinya "Aku merindukanmu". Fitri yang mendengarnya pun merona dengan ucapan siaminya. Lalu Fitri memeluk suaminya dengan penuh kerinduan dan rasa cintanya semakin bertambah akan suaminya.
Di sisi lain, Bu Mira, pak Wisnu dan Farhan pamit untuk pulang ke jakarta. Mereka menitip salam buat Fitri dan Fajar karena mereka tahu jika Fajar harus istirahat di kamarnya. Pak Heru dan Bu Elis pun mengantarkan besannya ke depan rumahnya.
Fitri melepaskan pelukannya karena ia hendak membawa makanan untuk di santap mereka berdua karena sudah lewat dsri waktu makan siang, "Sebentar yah mas" Fajarpun mengiyakan nya.
Fajar turun dari kamarnya menuju ke dapur di sana sudah tersedia beberapa makanan yang telah di masak Bi Siti. Fitri pun membawa 2 buah piring yang telah terisi nasi dan lauknya. Menyuruh bi Siti membawakan nya ke dalam kamarnya sementara dia membawa dua gelas teh manis di tangannya.
Fitri menyuapi suaminya karena tangan kanan Fajar masih di gif, Fajar menerima suapan istrinya dengan manja. Fitri melap sisa makanan di bibir suaminya, Fajar pun tersenyum manja pada istrinya.
"Mas kenapa sih? manja begini gak seperti biasanya" Fitri heran dengan tingkah suaminya.
__ADS_1
"Mas kan lagi sakit sayang, boleh kan manja-manja sedikit. Tapi nantinya Mas mau manja terus sama kamu ah, biar kamu gak pergi jauh lagi dari mas" ucap Fajar menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
Fitri hanya tersenyum dan menyuapi suaminya lagi yang sekarang tingkahnya sudah seperti anak kecil.