
Esok harinya Bu Elis dan pak Heru pamit pulang, Fitri dan Fajar menyalami tangan keduanya bergantian. Tak lama merekapun pergi pulang ke Bandung.
Fitri dan Fajar pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian karena hari ini mereka harus segera bekerja setelah dua hari tidak masuk kerja.
Fitri menyiapkan keperluan suaminya, walaupun dia juga sedang bersiap siap. Terakhir seperti biasanya Fitri membantu memasangkan dasi suaminya dengan rapi. Semua sudah siap dan mereka pun pergi bersama ke perusahaan mereka.
Mereka bersama-sama masuk ke kantor dan berpisah untuk pergi ke ruangan masing-masing.
Di meja Fajar sudah banyak dokumen yang menumpuk karena memang di tinggal selama dua hari. Andi datang membawa beberapa dokumen tambahan.
"Ya Ampun cuma di tinggal hari aja kerjaan udah numpuk kayak gini" keluh Fajar melihat di mejanya banyak sekali dokumen.
"Wajar pak, ini saya tambahin biar tambah banyak" Andi tersenyum ke arah bosnya.
"Makasih pak sekertaris" jawab Fajar tersenyum jengkel.
"Oh iya gimana kabar pak Wisnu, pak?" tanya Andi kepada bosnya.
"Alhamdulillah udah baikan, mungkin sebentar lagi udah bisa pulang. Oh iya, kaku banget gak sih, kamu tuh manggil aku bapak terus" Fajar merasa tak nyaman dengan panggilan Andi karena sekarang mereka telah bersahabat.
__ADS_1
"Yaudah aku ganti bos aja gimana" balas Andi.
"Terserah kamu aja lah, gimana nyamanya" ucap Fajar tersenyum.
"Ok siap bos" Andi pun keluar sambil terkekeh.
Fajar menggelangkan kepalanya tersenyum tak habis pikir dengan tingkah Andi. Lalu dia mulai Fokus dengan pekerjaan yang harus ia kerjakan begitu banyaknya.
Tak terasa sudah memasuki waktu makan siang, namun Fajar masih saja bergelut dengan pekerjaannnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, Fajar menghentikan pekerjaannya lalu mengangkat ponselnya ternyata dari Fitri.
"Halo sayang, ada apa? tumben nelpon" tanya Fajar.
"Kayaknya gak bisa deh sayang, soalnya kerjaan mas masih numpuk" tolak Fajar dengan halus.
"Mas udah gak sayang aku lagi yah, dasar suami gak perhatian" gerutu Fitri di seberang telepon.
"Gak sayang, bukan begitu. Yaudah deh, hayo kita makan siang di luar" Fajar mengalah pada istrinya dari pada nanti jadi marahan.
"Asyik... Aku tunggu di lobi yah. Jangan lama-lama" Fitri girang lalu menutup telponnya.
__ADS_1
Fajar heran dengan tingkah Fitri, gampang banget berubah emosinya. Sedikit ngambek sedikit senang tak seperti biasanya.
Sesampainya di lobi Fitri langsung merangkul lengan suaminya, semua karyawan yang ada di sana menatap ke arah mereka. Fajar sih biasa saja karena karyawannya sudah tahu mereka sepasang suami istri, tapi kan Fitri biasanya jaga jarak dengannya karena masalah kerjaan dan pribadi harus di pisahkan. Tapi sekarang dia nempel terus seperti takut berjauhan.
"Mas, aku mau asinan buah. Siang-siang gini kan seger, rasanya pengen cepet makan" pinta Fitri setelah mereka di dalam mobil.
"Apa gak makan nasi aja sayang? kamu kan tadi sarapan cuma sedikit" saran Fajar pada istrinya.
"Gak mau mas, aku maunya makan asinan buah. Please" Fitri memelas pada suaminya membuat Fajar menuruti apa kata istrinya.
"Kamu tuh yah, kalau ada maunya udah kayak anak minta permen. Ngegemesin" gas Fajar lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
Setelah sedikit berkeliling akhirnya mereka menemukan penjual asinan, Fitri membelinya satu porsi dan di bungkus untuk di makannya di kantor sekalian dengan kerupuk khasnya. Sementara Fajar mencari rumah makan padang untuk dia makan siang.
"Mas jangan makan di tempat yah, aku benar-benar tak suka baunya, aku eneg jadinya" pinta Fitri, akhirnya Fajar membungkus pesanannya. Lalu mereka kembali ke kantor.
***
Nantikan up selanjutnya 😁
__ADS_1