
Tak berapa lama sampailah merrka di rumah sakit. Terlihat Fitri semakin tak berdaya dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya, wajah yang sedikit pucat dan tubuhnya terlihat lemah.
Fajar yang melihatnya segera menggendong Fitri dan membawanya ke arah ruangan IGD rumah sakit. Segera ia di baringkan di atas ranjang, perawat beserta dokter segera membawanya ke ruang bersalin. Fajar pun ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Perawat dan dokter menyiapkan semuanya yang di perlukan, Fitri ingin melahirkan secara normal. Ia yakin bahwa ia akan sanggup dan kuat melakukannya. Fajar terus menggenggam tangan Fitri erat guna membantu menguatkan Fitri dalam proses persalinannnya.
Semua telah siap dan air ketuban Fitri pun sudah pecah, Fitri mencoba menarik dan mengeluarkan nafas secara perlahan.
"Siap yah bu!" kata dokter.
"Tenang Fit, yang kuat yah sayang. Aku ada di sini" ujar Fajar.
Fitri pun mengejan sekuat tenaga ketika kontraksi mulai terasa menyakitkan, ia mencoba kuat dan tetap sadar agar bayinya segera lahir. Fitri terus melakukannya, ia sedikit berteriak karena sakit yang dirasakannya namun ia menahannya demi buah hati tercinta.
"Aakkkkhhhzzz" teriakan Fitri ketika mengejan mencoba sekuat tenaga agar bayinya lahir.
"Terus bu Fitri, kepalanya sudah terlihat. Tinggal sedikit lagi, terus bu. Tarik nafas dan buang, jika terasa lagi lakukan lebih kuat" ujar dokter ketika sudah melihat ujung kepala bayi yang hendak keluar.
Fajar yang terus mendampingi istrinya ikut berkeringat, ia pun ikut menarik dan mengeluarkan nafas. Wajahnya tegang dan ia terus menggenggam erat tangan Fitri yang mana Fitri bukan hanya menggenggam tapi pencengkram kuat tangan dan lengan Fajar. Sebenarnya itu membuat Fajar cukup kesakitan namun ia tetap menahannya karena ia tahu Fitri lebih kesakitan daripadanya.
Dengan ejanan terakhir, Fitri berteriak kencang "aakkkkhhhzzz" dan lahirlah bayi mereka dengan menangis kencang. "owwekkkk ooowwweekkk ooowwweekkk" akhirnya semuanya merasa lega.
Fitri tersenyum melihat bahwa buah hati tercintanya telah lahir, ia bahagia walau nafas masih memburu dan keringat di sekujur tubuh.
"Selamat, bayi kalian berjenis kelamin laki-laki" ucap dokter ketika memperlihatkan bayi yang masih berlumuran darah.
Fajar pun ikut tersenyum dan senang bahwa jenis kelamin bayinya sesuai dengan ke inginannya. Namun tiba-tiba pandangannya kabur, kepalanya pusing dan akhirnya Fajar tersungkur tak sadarkan diri.
"Pak Fajar, bangun pak. Bangun... bapak kenapa?" semua yang ada di ruangan itu panik.
Fitri pun terlihat terkejut dengan suaminya yang tiba-tiba pingsan begitu saja di sampingnya.
________
Fajar mencoba membuka matanya, ia berada di sebuah sofa. Fajar melihat ke arah kanan dan terlihat Fitri tengah mengobrol dengan orangtuanya di atas ranjang rumah sakit.
"Udah sadar kamu Fajar?" suara pak Wisnu menyadarkan Fajar.
"Papah!" ujar Fajar kearah pak Wisnu.
__ADS_1
"Kamu ini jadi lelaki payah banget sih, nemani istri lahiran malah pingsan" ujar pak Wisnu cengengesan, Fajar pun terlihat malu.
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih, bisa pingsan begitu?" tanya bu Mira.
"Aku juga gak tahu sih mah, pas lihat banyak darah, kepalaku langsung pusing dan pandanganku langsung kabur begitu aja. Sisanya aku gak ingat" balas Fajar lalu bangun dan duduk.
"Dasar cemen" ejek pak Wisnu dan bu Mira pun cengengesan.
"Oh iya, aku mau ke Fitri dulu" Fajar bangkit dari duduknya menuju ranjang Fitri.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Fajar sambil mengusap kepala Fitri.
"Aku baik-baik saja mas. Kamu baik-baik saja kan! aku kaget ketika kamu tiba-tiba pingsan" ujar Fitri.
"Iya aku gak apa-apa, mungkin aku hanya syok melihat banyak datah" ucap Fajar cengengesan.
Tiba-tiba perawat masuk mendorong tempat bayi yang disana ada bayinya Fitri dan Fajar.
"Permisi bu, pak. Saatnya minum asi untuk dede bayinya" ujar perawat lalu mengangkat bayi Fitri.
Fitri memposisikan dirinya untuk duduk dengan dibantu Fajar memposisikan tempat tidurnya untuk posisi duduk. Perawat pun akhirnya memberikan bayi tersebut ke tangan Fitri. Fitri sangat senang namun ia masih takut dan khawatir karena baru pertamakalinya ia menggendong bayi baru lahir.
Melihat itu, bu Elis menaruh bantal di pangkuan Fitri untuk menopang tubuh bayi yang hendak menyusu. Fitri pun menyusui putranya di saksiakn oleh Fajar dan keluarga. Fitri sedikit meringis ketika bayinya mulai menyedot dengan kuat.
"Gak apa-apa mas, cuma bayi kita menyusunya sangat kuat" balas Fitri.
"Memang wajar sih Fit, biasanya bayi laki-laki itu lebih kuat menyusu di banding bayi perempuan. Mamah juga merasakan ketika menyusui Fajar dan Farhan, beda sengan Maya" ujar bu Mira sesuai pengalamannya.
"Bayi kita ganteng banget yah, kayak aku" ucap Fajar bangga.
"Mana ada miripnya sama kamu, bayi ini mirip istrimu yang cantik" ujar pak Wisnu mengejek Fajar.
"Hadeuh papah ini, anak papah kan genteng begini" ujar Fajar menunjuukan wajah sok tampan.
"Iya iya, anakmu ganteng tapi bapaknya gak" ujar pak Wisnu masih saja menggoda anaknya.
"Mau dikasih nama siapa bayi kita mas?" tanya Fitri.
"Mas udah siapkan nama dari awal. Namanya Farrel Wisnutama. Yang artinya anak pemberani" balas Fajar dan Fitri pun setuju begitupun keluarganya.
__ADS_1
_________
Sore hari Fitri sedang di suapi oleh Fajar, ia sangat dimanja oleh suaminya. Fajar semakin perhatian dan memperlakukan Fitri dengan sangat baik karena ia jadi tambah menghargai dan menyayangi istrinya tersebut yang telah berjuang melahirkan buah hati mereka.
Tak berapa lama Farah dan Irwan pun datang dan memasuki ruang rawat Fitri.
"Sore teh, wah semakin disayang nih sama mas Fajar" ucap Farah ketika melihat Fajar tengah menyuapi kakaknya.
"Iya dong Farah, kakakmu ini kan telah berjuang jadi harus dimanja dong" ujar Fajar.
"Anak lo ganteng banget bang, pasti mirip kakak ipar" ucap Irwan.
"Gue juga kan genteng, kenapa sih pada bilang cuma mirip Fitri doang" ucap Fajar sambil menekuk wajahnya.
Tingkah Fajar itu membuat seisi ruangan tertawa garing melihatnya. Fajar terlihat seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Udah jangan ngambek, jadi tambah jelek tahu." ujar Fitri yang malah semakin membuat Fajar cemberut.
"Emang kalian sudah melihat bayinya?" tanya Fitri pada Farah dan Irwan.
"Sudah teh, tadi sebelum kesini kami mampir dulu ke ruang khusus bayi" balas Farah.
"Kalian gak mau punya bayi?" tanya Fajar.
"Bukan gak mau bang, tapi Farah mau menyelesaikan dulu kuliahnya baru rencanain punya anak. Lagian kami masih mau menikmati waktu bulan madu dulu bang, biar gak ada yang ganggu" ujar Irwan sambil tersenyum ke arah Farah.
"Apaan sih mas! bikin malu aja" ucap Farah dan memukul lengan Irwan lalu beranjak untuk duduk di sofa yang disana ada orangtuanya.
"Benar itu wan, nikmati waktu berdua dulu kayak aku. Jadi bisa menikmati istri lebih lama, kalau sudah punya anak pasti perhatian istri terbagi dua. Benar kan!" bisik Fajar ke telinga Irwan dan Irwan pun tersenyum setuju dengan ucapan abang iparnya.
"Kalian ngomongin apa sih? sampai bisik-bisik segala kayak gitu" tanya Fitri heran melihat kedua lelaki di depannya.
"Gak apa-apa kakak ipar. Ini hanya omongan antar lelaki" kilah Irwan masih dengan senyuman di wajahnya.
Fitri menatap penuh tanya pada Fajar, "Beneran sayang, ini omongan anatar lelaki jadi perempuan tak harus tahu" ujar Fajar sambil mencubit ringan pipi Fitri.
Irwan ikut duduk bersama istrinya dan mertuanya begitu juga dengan orangtua Fajar. Sementara Fajar menatap istrinya yang kini sudah terlelap di ranjangnya.
"*Terimakasih sayang, kau telah berjuang mengorbankan tenaga dan nyawamu demi melahirkan buah hati kita. Melihat itu, aku jadi semakin mencintaimu dan menghargaimu. Benar, anak kita sangat tampan dan memang ia sangat mirip denganmu. Sekali lagi terimakasih sayang, kau telah menjadi pahlawan di keluarga kecil kita ini" batin Fajar sambil mengelus kepala istrinya.
__ADS_1
**Bersambung.......
jangan lupa Vote, like dan komen yah 😊***