
Fajar menuju rumah lama Fitri yang sekarang di tempati oleh Farah. Fajar memencet bell pintu rumahnya terus-menerus dan mengetuk-ngetuk pintunya dengan tidak sabar.
Farah pun membukanya dan dia terkejut melihat Fajar yang terlihat sangat gelisah. Fajar bertanya kepada Farah apa kakaknya ada di rumah, namun Farah menggelengkan kepalanya dengan bingung.
Fajar pun segera pergi lagi dengan tergesa-gesa, dia melajukan mobilnya tanpa arah tujuan.
Sementara di satu sisi Fitri sedang di dalam Taxi menuju ke suatu tempat yang bisa ia tuju.
Menjelang malam Fajar akhirnya pulang ke rumahnya dengan tampang kusut dan ekspresi yang sangat Frustasi. Dia terlihat bingung, khawatir dan gelisah. Bi Minah yang melihatnya juga terlihat sedih kengan ke adaan majikannya, Bi Minah menghampiri Fajar dengan membawa teh hangat.
Fajar pun meneguk tehnya walau hanya sedikit, dia bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya. Dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tak lama dia pun selesai dengan telah menggunakan pakaian santainya. Dia menjatuhkan dirinya di tempat tidur dan pikirannya masih saja tidak tenang karena belum mengetahui keberadaan istrinya.
Dia mencoba memejamkan matanya namun bukan tertidur tapi pikirannya terus melayang hingga akhirnya dia teringat akan mertuanya, mungkin saja Fitri pergi ke rumah orangtuanya.
Fajar segera meraih ponsel nya dan hendak menghubungi mertuanya namun dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, dia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu tidur mertuanya. Dia menunggu sampai waktu subuh tiba. Fajarpun terlelap sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya.
__ADS_1
Suara adzan terdengar berkumandang hingga Fajar pun terbangun dari tidurnya, dia melaksanakan shalat subuh dulu, setelah selesai dia meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi mertuanya. Tak berapa lama mertuanya menerima panggilannya.
"Halo.. Assalammualaikum, mah. Ini Fajar, apa Fitri ada di rumah mamah?" tanya Fajar dengan nada khawatir.
"Iya nak Fajar, Fitri ada di rumah mamah. Tadi sore dia sampai disini, Katanya dia sudah ijin sama nak Fajar" balas bu Elis di seberang telpon.
"Alhamdulillah.. Iya mah. Makasih mah, nanti Fajar jemput Fitri ke sana" balas Fajar yang merasa lega karena telah menemukan keberadaan istrinya.
Dia berpikir membiarkan istrinya untuk disana dulu beberapa hari agar emosinya mungkin bisa berkurang, jika sekarang dia temui takutnya dia tidak bisa menjelaskan karena istrinya masih emosi.
Benar saja, setelah sampai kantor, dokumen-dokumen sudah menanti di hadapannya. Langsung saja Fajar mengerjakan semua pekerjaannya, dia sangat fokus sampai lupa untuk makan siang.
Andi mengetuk pintu ruang Fajar dan Fajarpun mempersilahkannya masuk. Andi pun berinisiatif membawakan Fajar makan siang dan meletakannya di atas meja depan Sofa.
"Pak makan siang dulu, saya sudah bawakan. Sekalian makan bareng" ucap Andi menawarkan nya pada Fajar. Fajar pun bangkit menghampiri lalu ikut duduk di Sofa.
__ADS_1
"Wah, sepertinya ini makanan buatan rumah!" ucap Fajar.
"Iya pak, istri saya yang masak. Dia membawakan saya banyak, daripada gak kemakan, kita makan bareng aja" ucap Andi yang memang sekarang bukan hanya sekedar sekertaris tapi sudah menjadi teman bagi Fajar.
"Oh iya, Apa Syifa sudah hamil?" tanya Fajar sambil menyantap makanannya.
"Sepertinya belum. Syifa belum bilang apapun padaku" jawab Andi menggelengkan kepalanya.
"emm.. kalian sih memang baru 6 bulan menikah yah. Nikamati saja waktu berdua seperti pengantin baru" ucap Fajar tersenyum penuh arti.
"Terus bapak sendiri bagaimana, apa Fitri udah menunjukkan tanda-tanda kehamilan" tanya Andi.
"Belum, kami juga sudah konsul ke dokter. Mungkin belum di kasih rezki nya" ucap Fajar menundukan kepalanya.
"Sabar pak, semakin giat saja bikinnya. Biar segera dapet yah atau mungkin perlu pake suplemen pembantu!!" canda Andi hingga membuat Fajar tersenyum.
__ADS_1
"Yeh kamu ragukan aku, tanpa suplemen pembantu pun Fitri udah kewalahan" jawab Fajar percaya diri dan membuat mereka tertawa bersama.