
3 hari sudah berlalu akhirnya Fitri bisa pulang dari rumah sakit begitupun dengan bayinya, Farrel. Fajar dan Fitri sangat bahagia dengan kehadiran putranya yang menambah lengkap keluarga kecil mereka.
Sesampainya di rumah mereka di sambut oleh keluarga besar mereka, orangtua Fitri dan orangtua Fajar begitu juga denga saudara-saudara mereka. Terpancar kebahagiaan di setiap wajah yang hadir terutama dengan baby Farrel yang masih sangat merah namun terlihat sehat.
"Selamat datang, kami sudah lama menunggu nih. Ingin segera bertemu keluarga baru kita. Fitri bagaimana keadaanmu?" ujar bu Elis.
"Baik mah dan Farrel juga sangat sehat" balas Fitri.
"Sini mamah bantu bawa Farrelnya, kamu berjalanlah perlahan dengan Fajar kekamar agar cepat istirahat" ujar bu Mira.
Fajar pun memapah Fitri menuju ke kamarnya dan di ikuti oleh keluarga mereka. Fitri duduk bersandar di tempat tidur sementara bu Mira meletakkan baby Farrel di tempat tidur bayi yang telah tersedia di samping ranjang Fitri.
"Wah, Farrel sudah nampak ganteng nih teh" ucap Farah yang menatap lekat baby Farrel.
"Beneran copy paste dari kakak ipar nih" ucap Irwan.
"Permisi, aku mau lihat. Aku kan belum lihat baby Farrel, kemaren sibuk gak bisa ke rumah sakit. Mas Fajar kayaknya kamu cinta banget sama mbak Fitri nih, wajah Farrel mirip banget mbak Fitri" ucap Farhan setelah melihat bayinya.
"Yah memang sih, aku cinta banget sama Fitri jadi kamu gak salah ngira" ucap Fajar tersenyum.
"Maya mana, kok gak ikut kesini?" tanya Fajar ketika tak melihat adik bungsunya.
"Dia sedang di jalan, kan dia di rumah nenek jadi perlu waktu untuk sampai" balas bu Mira.
"Penerus WT Advertising selanjutnya, ganteng banget, beda banget sama bapaknya" ucap pak Wisnu.
"Yey papah sudah mulai lagi ngejek anaknya nih" ujar Fajar cemberut.
"Ganteng banget, semuanya wajah Fitri. Nak Fajar cuma sama jenis kelaminnya aja" tambah pak Heru.
Dan semua orang yang ada di sana pun tertawa. Lalu terdengar tangisan khas bayi, sepertinya ia terganggu dengan suara di sekitar hingga baby Farrel terbangun dan menangis.
"Duh Farrel jadi nangis kan, kasih asi Fit agar bobo lagi. Biar kami tunggu di luar dulu" ucap bu Elis mengangkat Farrel dan memberikannya pada Fitri.
Semua orang yang tadinya berada di kamar Fitri akhirnya pada keluar untuk memberi ruang agar Fitri menyusui putranya. Fajar melihat putranya sangat kuat menyusu, mungkin seluruh isinya cepat di sedot habis.
"Wah... Farrel rakus banget nih" ucap Fajar gemas pada bayi kecilnya.
"Ya iyalah mas, namanya juga bayi yah makan dan minumnya cuma asi" balas Fitri.
"Kamu harus banyak minum susu, makan buah dan sayur juga agar produksi asinya juga banyak. Agar Farrel cepat besar dan sehat" ucap Fajar mengelus pipi bayinya yang sangat lembut.
"Pasti dong papah" balas Fitri dan membuat Fajar tersenyum karena sekarang ia akan di panggil dengan sebutan batu yaitu Papah.
__ADS_1
"Farrel, jangan di habisin semua yah. Sisain untuk papah juga, tadinya kan itu milik papah tapi sekarang papah rela berbagi denganmu" canda Fajar seolah berbicara dengan putranya.
"Ngomong apa sih kamu mas? punya papah apanya sih, kayak anak kecil aja yang rebutan mainan" ucap Fitri.
"Yah memang itu kan mainan kesukaan mas, sekarang harus berbagi jadi harus berbagi dengan adil" ucap Fajar sambil cengengesan.
Fitri memukul pundak suaminya cukup keras, ia sangat gemas dengan perkataan suaminya tersebut.
__________
Tengah malam baby Farrel nangis dengan sangat kencang, Fitri yang berada di sampingnya tetap terlelap karena kelelahan setelah seharian merawat baby Farrel. Fajar yang mendengar tangisan bayinya akhirnya bangun juga.
'Fitri masih saja tidur, apa ia gak mendengar tangisan kencang Farrel?' batin Fajar melirik Fitri yang terlelap.
Ia menggendong Farrel secara perlahan dan hati-hati namun setelah beberapa lama Farrel masih saja tak berhenti menangis. Hidung Fajar mengendus-endus seperti mencium sesuatu. Ia mencari tempat bau itu tercium dan ternyata berasal dari baby Farrel, ternyata ia poop.
Karena masih takut dan belum mahir mengganti diaper bayi, akhirnya Fajar mencoba membangunkan istrinya.
"Sayang, sayang... bangun sayang. Farrel poop nih, sayang bangun cepat" Fajar menggoyangkan tubuh Fitri perlahan masih dengan tetap menggendong Farrel di pangkuannya.
Fitri pun mwngerjapkan matanya, ia mencoba menyadarkan dirinya dan pandangannya. Fitri melihat Farrel di gendong Fajar dan masih tetap menangis.
"Farrel kenapa mas?" tanya Fitri.
"Oh... yasudah, mas letakkan saja Farrel di ranjang dan bisa tolong ambilkan diaper baru dan tissu basah" ucap Fitri sambil mencoba membuka kain di tubuh Farrel dan membuka diaper nya dan ternyata memang poop, pantas saja dia tak mau berhenti menangis mungkin karena tidak nyaman.
Fajar pun membawa apa yang di suruh Fitri tadi dan Fitri pun mengganti semuanya, Fajar memperhatikan kegiatan istrinya tersebut.
"Kau melakukannya seperti sudah lihai Fit." ucap Fajar.
"Yah ini sudah kewajiban seorang ibu, mas. Mungkin insting menjadi seorang ibu yang membuat aku dengan mudah belajar merawat bayi" balas Fitri yang menidurkan Farrel sambil menyusuinya. Seperti biasanya Farrel sangat kencang menyusu pada Fitri yang terkadang membuat Fitri meringis.
Fajar yang melihat itu bertanya, "Kamu kesakitan sayang?"
"Sedikit nyeri sih kalau di sedot terlalu kencang sama Farrel" balas Fitri.
"Lah tapi kalau aku yang sedot, kau malah belingsatan" ucap Fajar cengengesan.
"Ih dasar kamu mas, yah bedalah" balas Fitri merona.
"Apa bedanya sayang, sama-sama di sedot kan?" ucap Fajar terus menggoda Fitri.
"Udah ah jangan di bahas" ucap Fitri lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
"Bercanda sayang, sejarang itu milik Farrel. Biarkan dia sehat dan kamu juga harus makan makanan yang bergizi agar Farrel tumbuh dengan baik" ucap Fajar mengelus kepala istrinya, Fitri menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya dengan masih memejamkan matanya karena rasa kantuk sudah kembali menyerangnya.
Fajar masih menatap kedua belahan jiwanya yang sekarang sudah tertidur lelap, namun Farrel masih saja menyusu pada Fitri. Lama kelamaan Farrel melepaskan mulutnya dari dada Fitri dan Fajar mengangkat Farrel kembali ke ranjang bayinya. Setelah itu ia membenahi baju Fitri dan menarik selimut menutupi tubuh istrinya tersebut.
_________
Pagi hari, Fitri masih terlelap tapi baby Farrel kembali menangis dan Fajar sedang berada di kamar mandi. Orangtua Fitri dan orangtua Fajar mendengar tangisan cucunya dari luar kamar.
"Farrel nangis sudah cukup lama, pada kemana orangtuanya?" ucap pak Heru.
"Iya, dari tadi sepertinya belum ada yang merawat kayaknya" ucap pak Wisnu.
"Apa kita masuk saja ke kamar mereka?" ucap bu Mira.
"Iya, kita coba masuk saja. Kasihan juga kan Farrel nagis dari tadi" balas bu Elis.
Akhirnya bu Elis dan bu Mira menghampiri kamar anak merrka. Lalu bu Elis mencoba membuka ointu kamar tersebut dan ternyata tak di kunci. Akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar tersebut, dilihatnya Farrel menangis di ranjangnya sementara Fitri masih saja terlelap.
Bu Mira segera menggendong cucunya yang masih menangis lalu bu Elis mencoba membangunkan putrinya.
"Fit, bangun Fit. Ini bayimu menangis" ucap bu Elis.
Fitri pun mulai membuka matanya dan melihat bayinya tengah di gendong ibu mertuanya.
"Duh, maaf mah. Fitri ketiduran, semalaman Farrel sering bangun iadi Fitri ngantuk" balas Fitri. Lalu bu Mira menyerahkan Farrel ke gendongan Fitri.
"Gak apa Fit, wajar saja kamu ketiduran. Kami juga merasakan bagaimana waktu tidur kita berkurang akibat bayi yang sering bangun" ucap bu Elis.
"Fit, kamu susui dulu bayinya lalu habi itu biar mamah mandiin Farrel lalu di jemur sebentar mumpung masih pagi dan matahari masih hangat" ucap bu Mira, Fitri pun mengangguk.
Fajar keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia tak tahu bahwa ada mamah Mira dan mamah Elis di sana.
"Eh ada mamah" ucap Fajar yang malu dan kembali kedalam kamar mandi.
Kedua mamah itu hanya cengengesan melihat tingkah Fajar dan mereka pun akhirnya keluar dari kamar anak mereka. Fajarpun mengintip melihat keadaan dan ternyata mamah dan mamah mertuanya sudah keluar dan akhirnya Fajar keluar dari kamar mandi.
"Kenapa tadi masuk lagi ke kamar mandi mas?" tanya Fitri cengengesan.
"Yah malu dong sayang, mas kan cuma pake handuk" balas Fajar.
"Sama aku gak malu" canda Fitri.
"Yah gak lah sayang, dengan telanjang juga di depan kamu, aku gak akan malu" balas Fajar dengan mengedipkan sebelah matanya genit. Fitri hanya tersenyum dengan tingkah suaminya, walau sekarang ia sudah menjadi papah tapi tingkahnya masih saja sedikit kekanak-kanakan.
__ADS_1
Bersambung......