
Satu bulan berlalu terdengar kabar jika Syifa telah melahirkan putri cantiknya. Fitri janjian dengan Ria untuk menjenguk Syifa di rumah sakit ibu dan anak. Fitri dan Fajar mampir dulu ke Mall untuk membeli hadiah untuk kelahiran putrinya Syifa.
Mereka memasuki toko perlengkapan bayi untuk memilah milih kado apa yang cocok untuk putri sahabatnya tersebut. Pilihan Fitri jatuh kepada beberapa item, seperti beberapa baju bayi khusus bayi perempuan lengkap dengan topinya, sepatu pink dua pasang dengan model berbeda serta boneka yang menurutnya menggemaskan. Fitri meminta untuk di bungkus sebagai hadiah kepada pegawai disana. Fitri juga meminta Fajar untuk memilih beberapa baju bayi yang netral, yang bisa di pakai bayi lelaki ataupun perempuan. Karena memang Fitri dan Fajar belum tahu jenis kelamin anak mereka.
Butuh waktu satu jam dan akhirnya mereka berangkat menuju ke rumah sakit. Fitri masuk ke ruangan Syifa yang ternyata Bima dan Ria sudah berada di sana.
"Fit, katanya janjian jam 10 sekarang sudah jam 11.30 baru datang" gerutu Ria.
"Maaf, soalnya aku beli sesuatu untuk dedek bayinya" Fitri cengengesan.
"Ini Syifa, aku bawakan kado buat si kecil. Sikecilnya mana?" tanya Fitri sambil menyerahkan bungkusan kadonya dan Andi yang menerimanya.
"Terimakasih Fit, si kecil ada di ruangan bayi. Kalian bisa lihat di sana" ucap Syifa tersenyum.
"Yasudah kita ke ruangan khusus bayi dulu yah. Mau lihat si kecil" ucap Ria lalu Ria dan bima, Fitri dan Fajar keluar ruangan Syifa menuju ruangan tersebut.
Di balik kaca besar mereka melihat bayi kecil yang masih merah sedang tertidur lelap di ranjang bayi, di selimuti oleh kain agar tak merasa kedinginan. Terlihat tulisan dengan nama orangtuanya yaitu Andi dan Syifa.
"Mas, lihat deh. Bayinya cantik sekali, menggemaskan dan damai melihat wajah yang terlelapnya" ucap Fitri memegang lengan suaminya sambil terus memandang ke atah bayi kecil itu.
"Iya sayang, dia sangat menggemaskan. Nanti bayi kita juga akan seperti itu" balas Fajar tersenyum.
Ria malah hanya diam, dia tertegun dan terpesona dengan makhluk kecil yang masih merah di depan matanya. Hatinya juga sangat ingin memiliki bayinya sendiri namun apa dia sanggup merawatnya nantinya.
"Sayang, sepertinya bayi Syifa mirip dengan Syifa, iya kan sayang?" tanya Bima pada Ria namun Ria hanya diam saja.
"Sayang, hei... kok diam saja" ucap Bima yang melihat istrinya tak menjawab pertanyaannya.
"Eh... apa mas? maaf, aku hanya terpesona dengan bayi yang kecil mungil di sana. Aku berpikir ingin juga memiliki bayi kita sendiri" balas Ria yang tersadar dari diamnya.
__ADS_1
"Beneran kamu sudah siap? kalau aku sih siap kapan saja." ucap Bima yakin.
"Udah cepetan bikin aja Ria, Bima juga sudah setuju. Agar pernikahan kalian sempurna" celetuk Fitri.
"Iya Bim, biar anak kita gak beda jauh umurnya. Kan senang kalau reunian bawa buntut masing-masing" tambah Fajar.
"Aku sih sudah siap, tapi Ria yang belum siap" keluh Bima.
"Aku siap kok sekarang mas! Aku siap hamil anak kita" ucap Ria yakin.
"Beneran! Yakin!" tanya Bima meyakinkan. Ria pun menganggukan kepalanya untuk meyakinkan Bima, melihat jawaban istrinya Bima langsung memeluk Ria dengan erat " Terimakasih sayang" lalu mengecup kening Ria.
"Mas, lepasin. Duh aku gak bisa nafas nih" Ria mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Bima yang sangat erat. Setelah cukup Bima pun akhirnya melepaskan pelukannya. Fitri dan Fajar hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Ria dan Bima seperti orang yang masih pacaran.
__________
Fajar membawa 2 gelas es jeruk dan di letakkannya di meja depan Fitri. Ia melihat Fitri senyum-senyum sendiri sambil mengelus-elus perutnya.
"Ada apa sayang, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Fajar penasaran.
"Ini loh mas, si kecil sudah mulai bisa menendang-nendang perutku. Rasanya masih geli karena gerakannya masih lembut" ucap Fitri dengan tetap tersenyum.
"Benerkah sayang! mana, aku juga mau tahu" Fajar senang lalu mendekatkan telinganya ke perut Fitri.
"Sayang, kamu dengar papah kan! ini papahmu sayang, papah ingin tahu kamu dengar papah atau gak!" Fajar berbicara seolah ia sedang mengobrol dengan bayinya. Dan terasa oleh Fajar sebuah gerakan kecil di perut Fitri, itu membuat Fajar merasa bahagia.
"Wah ternyata kamu dengar papah yah! sehat terus dalam perut mamah yah sayang, sampai nanti kita bertemu saat kau lahir" Fajar sangat bahagia karena bayinya meresponnya.
"Sepertinya anak kita laki-laki, tendangannya cukup kencang" ucap Fajar yakin.
__ADS_1
"Benarkah! Untuk meyakinkan kita nanti USG lagi yah mas" balas Fitri.
"Ok sayang" Fajar duduk mendekat dengan istrinya, lalu Fitri meletakannya kepalanya di bahu suaminya.
"Emang sifat aslimu manja seperti ini yah sayang! mamah Elis juga bilang kau ini manja. Pas awal bertemu aku kira kau sangat mandiri ternyata itu bukan sifat aslimu" ucap Fajar.
"Yah memang aku itu manja apa lagi dengan orangtua, namun aku mencoba menyelesaikan masalahku sendiri terutama saat menghadapi perceraian dulu. Aku harus kuat untuk menjalani hidupku. Tapi sekarang beda, aku sudah punya mas, aku sudah bisa menggantungkan diriku kembali pada orang yang aku cintai. Mas itu orang yang sangat aku butuhkan hingga aku tak malu lagi untuk bermanja-manja denganmu" jelas Fitri panjang lebar.
"Tapi aku bahagia dengan sikapmu, bahkan setiap harinya membuatku ingin berada di sampingmu dan berada di dekatmu, aku bahkan ketagihan" ucap Fajar dengan senyuman manisnya.
"Apa maksudnya ketagihan?" Fitri langsung menatap wajah suaminya yang senyum-senyum.
"Ada aja, mau tahu aja" Fajar mencoba mengelak.
"Yasudah kalau begitu" Fitri cemberut.
"Ini nih yang mas suka dari kamu, gampang ngambek" ucap Fajar mencubit pipi istrinya. Fitri hendak membalas namun tak bisa karena Fajar menahannya. Secepat kilat Fajar mendaratkan kecupannya di pipi Fitri membuat Fitri tertegun.
"Ihhh... mas kebiasaan main sosor aja!" gerutu Fitri sambil memegang pipinya. Fajar hanya tersenyum lalu Fajar malah kembali mengecup Fitri dan sekarang di bagian bibir ranum Fitri sekali lagi Fitri tertegun.
Lalu Fajar menekan kepala belakang istrinya untuk lebih menikmati ciuman mereka, tanpa sadar bi Minah yang tak sengaja lewat melihat ulah kedua maiikannya. Bi Minah yang tadinya ingin ke depan rumah, mengurungkan niatnya dan kembali ke belakang dengan salah tingkah karena takut mengganggu kedua majikannya tersebut.
Fajar dan Fitri berhenti ciuman dan terlihat bibir Fitri basah lalu Fajar mengusap bibir istrinya hingga bersih, Fajar pun melap bibirnya sendiri yang juga basah. Mereka saling pandang lalu tersenyum malu satu sama lain.
Walau pernikahan mereka sudah mau 2 tahun tapi kemesraan mereka seperti pengantin baru. Rasa malu-malu masih saja selalu datang di antara mereka. Mereka sangat bahagia akan pernikahannya apalagi ditambah akan hadirnya buah hati mereka membuat kebahagiaan mereka berlipat ganda.
**Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 😊**
__ADS_1