
Fitri sedang di kamar mandi, ia merasa pusing dan mual. Fajar memijat tengkuknya yang mungkin bisa membantu untuk meringankan rasa mual istrinya.
Fajar membimbing Fitri menuju ke atas tempat tidur, Fitri berbaring dan Fajar menyelimutinya. Fajar mengambil minyak angin untuk Fitri agar mualny bisa berkurang dan terasa hangat di tubuhnya.
"Fit, lebih baik kamu makan dulu buburnya yah. Biar perutmu enakan dan bayinya sehat" ucap Fajar menyendok buburnya dan menyuapi Fitri.
Fitri menerimanya walau dia hanya memakannya sedikit. Fajar sangat telaten merawat istrinya, ia sangat memanjakan Fitri bak tuan putri di sebuah kerajaan.
"Mas, sudah 2 hari gak ke kantor apa gak masalah?" tanya Fitri.
"Gak apa sayang, mas bekerja juga kok walau di rumah. Mas kirim ke Andi, dan sisanya Andi yang mengurusnya. Kamu jangan memikirkan hal lain, kamu fokus saja menjaga tubuhmu" jelas Fajar.
"Mas! bisa belikan aku sop buah. Aku ingin makan yang manis dan segar." pinta Fitri.
"Tak usah beli, biar bi Minah saja yang bikin. Kan banyak buah juga di rumah" balas Fajar lalu Fitri pun mengangguk.
__________________
Bu Elis dan pak Heru datang ke kediaman Fitri mereka membawa beberapa Asinan yang mungkin anaknya suka karena mereka tahu jika perempuan ngidam biasanya suka yang segar-segar.
"Mamah, papah." Fajar menghampiri mertuanya lalu membantu membawakan barang yang di bawa mertuanya, lalu meletakanny di meja makan.
Kebetulan Fitri pun turun dari kamarnya, ia melihat orang tuanya. Fitri melangkah agak cepat menuruni anak tangga. Dia hilang keseimbangan karena kehilangan arah pijakannya, Fitri hendak jatuh. Untung saja refleks Fajar segera meraihnya kedalam pelukannya, semuanya terlihat terkejut dan panik.
"Hati-hati dong sayang, untung aku ada di dekatmu" Fajar memperingatkan istrinya.
"Maaf mas!" sesal Fitri tersenyum tipis.
"Kamu tuh yah, bikin orangtua panik" ucap bu Elis lalu memeluk putrinya.
"Lain kali lihat pijakanmu dan melangkah perlahan" ujar pak Heru yang bergantian memeluk putrinya.
Fitri hanya tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Mamah dan papah kok gak bilang-bilang kalau mau datang" Fitri mengerucutkan bibirnya.
"Dasar anak manja, udah mau jadi ibu tapi tingkahnya masih kayak anak kecil" ucap bu Elis, Fitri duduk di tengah di antara kedua orangtuanya.
"Mah, melahirkan itu sakit tidak" Fitri menyenderkan kepalanya di bahu mamahnya.
"Sakit atau gak, tapi kebahagiaan itu lebih besar daripada rasa sakitnya" jelas bu Elis mengelus kepala putrinya.
Fajar yang melihat Fitri sangat manja pada orangtuanya hanya menatap Fitri dengan senyuman. Fitri pun mengajak orangtuanya untuk istirahat di kamar tamu, Fajar membantu membawakan tas milik mertuanya.
________
Farah sedang makan malam bersama irwan, ia tidak mengetahui jika orang tuanya berada di jakarta. Ponselnya berdering lalu Farah mengangkatnya.
"Halo teh! ada apa?"
"Kamu datang ke rumah, mamah dan papah ada di rumah teteh"
"Beneran, yaudah sebentar lagi aku kesana" Farah menutup telponnya.
"Orangtua aku ada dirumah teh Fitri" balas Farah lalu menyedot minumannya.
"Orangtuamu, aku ikut yah. Sekalian ingin kenal dekat dengan orangtuamu, sekalian aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka" ujar Irwan.
"Mau bilang apa?" Farah penasaran.
"Ada aja! nanti juga kamu akan tahu" Irwan tersenyum lalu menyeruput minumannya.
Setelah makan, mereka pun beranjak dari duduknya untuk segera datang ke rumah Fitri. Tak berapa lama mereka pun tiba disana.
Fajar melihat Farah datang bersama Irwan, lalu Fajar menghampirinya.
"Lo udh siap ketemu calon mertua!" bisik Fajar, Irwan hanya tersenyum.
__ADS_1
Farah dan Irwan menghampiri orangtua Farah yang sedang mengobrol dengan Fitri di ruang tengah.
"Mamah, papah. Farah kangen" Farah memeluk kedua orangtuanya secara bersamaan. Orangtuanya menatap Irwan dengan penuh tanya.
Irwan, berinisiatif langsung memperkenalkan dirinya. "Malam om, tante. Saya Irwan, saya dosennya Farah sekaligus......"
"Sekaligus dia pacar Farah, mah, pah" potong Farah tersenyum pada kedua orangtuanya.
"Benarkah! kalian mahasiswa dan dosen, berapa beda usia kalian?" tanya bu Elis.
"Saya seumuran dengan Fajar karena saya temannya Fajar" balas Irwan canggung.
"Begitukah? jauh juga jarak usia kalian" pak Heru menatap datar.
Farah dan Irwan sangat gugup apalagi melihat sikap kedua orangtua Farah yang dingin.
"Iya pah, kita cuma beda 8 tahun saja gak jauh kan" Farah terlihat khawatir.
"Begini om, tante. Saya sebenarnya tak ingin berlama-lama untuk pacaran. Saya sangat serius ingin menjadikannya pendamping hidup" Irwan memberanikan diri.
Semuanya terdiam, keheningan dan keadaan terlihat dingin tanpa suara sedikitpun. Tiba-tiba pak Heru membuyarkan keheningan itu.
"Bawa orangtuamu, lamar anakku dengan resmi, dalam waktu cepat kalau tidak saya akan berubah pikiran" pak Heru mengagetkan Farah dan Irwan.
Fitri dan Fajar malah cekikikan, melihat keadaan yang dilihatnya. Sementara Farah dan Irwan malah terus saja melongo tak percaya dengan ucapan pak Heru.
Irwan tersadar ketika Fajar menyenggol bahunya.
"i...iya... Om, saya akan secepatnya membawa orangtua saya datang melamar, terimakasih om tante" Irwan meyakinkan dan terlihat sangat bahagia.
Lalu semua yang ada di sana pun pada tertawa dengan yang terjadi terutama melihat Irwan yang bahagia namun bersikap salahtingkah.
Bersambung......
__ADS_1
selalu dukung Author dengan Like, vote dan komen
terimakasih 😊