
Fitri menghubungi orangtuanya untuk mengabarkan kabar kehamilannya pada mereka.
Fitri : " Halo! Aslammlaikum..."
Bu Elis : "Wa'alaikum salam, Fit. Apa kabar kamu nak? mamah kangen banget sama kamu."
Fitri : "Alhamdulillah sehat mah, bagaimana keadaan papah dan mamah?"
Bu Elis : "Mamah dan papah juga sehat."
Fitri : "Mah, Fitri mau ngasih kabar gembira buat mamah dan papah"
Bu Elis : "Kabar gembira apa sayang?"
Fitri : "Alhamdulillah saat ini Fitri sedang hamil".
Bu Elis : "Benarkah! Alhamdulillah, mamah senang banget dengarnya. Pah... papah... anak kita Fitri hamil, kita akan dapat cucu"
Terdengar suara bahagia kedua orangtuanya di seberang telepon, itu membuat Fitri tersenyum bahagia dengan masih memegang ponselnya.
Pak Heru : "Halo... Halo Fit, selamat yah nak. Tolong jaga kesehatanmu, jaga calon cucu papah. Ini benar-benar membahagiakan buat kami. Jangan kecapean yah nak."
Fitri : "Iya pah, pasti. Yasudah nanti Fitri hubungi lagi. Assalammualaikum"
__ADS_1
Fitri terus mengembangkan senyumnya, ia menjadi tambah bahagia ketika mendengar orangtuanya begitu bahagia.
Terdengar pintu kamar di buka ternyata Fajar yang masuk dengan tergesa-gesa membawa 2 kantung plastik besar di tangannya.
"Fit, ini mas bawakan susu hamil buat kamu. Mas bawakan yang berbagai rasa soalnya mas gak begitu yakin kamu suka rasa yang mana" ucap Fajar dengan nafas yang terengah-engah karena berlari.
"Tarik nafas dulu mas, kenapa sih harus lari-lari seperti itu! dan ini apa beli nya banyak banget" Fitri tersenyum pada suaminya.
"Yah gak apa sayang, buat persediaan juga kan. Apapun akan mas lakukan biar kamu dan anak kita tetap sehat" ucap Fajar tersenyum lebar.
"Yasudah, kita bawa ke dapur aja dan di bereskan di sana. Sini Fitri bantu bawa" Fitri hendak mengambil salah satu kantung yang di bawa Fajar.
"Gak perlu sayang, biar mas saja yang bawa. Mas kan kuat, mas gak mau kamu capek" Hardi dan Fitri pun segera turun menuju ke dapur.
Bi Minah pun menyeduh susunya dan menyerahkannya kepada Fitri. Lalu Fitri pun meminumnya sedikit tapi tiba-tiba perutnya terasa mual, ia berlari ke arah kamar mandi yang ada di dapur dan Fajarpun mengikutinya.
Fitri memuntahkan semua susu yang di minumnya dan sisanya hanya muntahan kosong yang membuat Fitri sungguh tidak nyaman. Fajar membantu mengelus punggung istrinya, dia sungguh terlihat khawatir akan keadaan istrinya.
"Kamu gak apa-apa Fit?" tanya Fajar.
"Iya mas, aku baik-baik saja. Cuma mual-mual tapi kan wajar sih karena ngidam" balas Fitri.
"Yaudah lebih baik kita kembali ke kamar yah, biar kamu bisa istrirahat" Fajar membawa istrinya ke kamar mereka.
__ADS_1
Fitri disuruh berbaring di tempat tidurnya agar bisa lebih enakkan. Fajar pun tetap setia mendampingi di sampingnya.
"Apa mungkin lebih baik kamu cuti dulu bekerjanya, sampai anak kita lahir sayang!" ucap Fajar yang merasa khawatir.
"Tapi kan mas, ada proyek yang harus segera di selesaikan, aku gak bisa berenti" ucap Fitri.
"Bukannya berhenti, mas bilang kan cuti sayang. Sementara waktu saja habis itu mas ijinin kamu kerja lagi" ucap Fajar.
"Yaudah kalau begitu, tapi Fitri gak mau bosan di rumah. Bagaimana kalau Fitri mengerjakan pekerjaannya di rumah. Biar sisanya di urus oleh Ria sebagai ketua tim" saran Fitri berharap.
"Ok...ok.. kalau kamu tak merasa lelah, kamu boleh mengerjakannya di rumah. Tapi ingat jangan terlalu di memaksakan diri yah, agar tak terjadi apa-apa" pinta Fajar.
"Siap sayang" Fitri bangkit mencium pipi suaminya.
"Yaudah kamu tidur, mas mau ke ruang kerja. Ada file yang harus di kirimkan pada Andi" Fajar pun hendak beranjak dari duduknya namun tangannya di tahan oleh Fitri.
"Aku minta sun dulu donk, di sini saja" rengek Fitri menunjuk ke pipinya.
"Kamu tuh yah, semenjak hamil manjanya minta ampun" Fajar mengecup Fitri namun tak di pipinya melainkan di bibirnya.
"Udah kan, mas ke ruang kerja dulu" Fajar pun siap pergi ke ruang kerjanya. Fitri tersenyum melihat Fajar keluar dari kamarnya dengan wajah merona merah.
Bersambung.......
__ADS_1