
Beberapa hari ini Fitri sedikit menghindar dari suaminya, entah kenapa dia selalu merasa sedikit emosi didekat suaminya mengingat foto-foto yang di terimanya.
Fajarpun bingung mengapa Fitri bersikap dingin kepadany, setiap dimintai kewajiban nya sebagai seorang istri dia selalu menolak. Fajar mencoba bertanya pada dua sahabat istrinya pun mereka tidak mengetahui nya. Fajar hanya mencoba tenang dan berharap Fitri kembali seperti sebelumnya.
*Dirumah
Hari ini Fitri menguatkan hatinya untuk mendengarkan penjelasan dari suaminya. Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk di tempat tidur sedang menonton televisi.
"Mas, aku mau bicara. Boleh?" tanya Fitri ragu.
"Yah boleh sayang, kenapa mesti nanya sih! bicara saja." jawab Fajar tersenyum.
Fitri memberikan foto-foto yang diterimanya seminggu yang lalu. Fajar yang melihatnya terkejut dengan adanya foto-foto itu.
"Ini dari siapa sayang?" tanya Fajar ingin tahun.
__ADS_1
"Tak tahu mas, seminggu yang lalu ada kiriman paket tanpa nama pengirim yang isinya foto-foto itu mas. Aku harap mas bisa jelasin kejadian sebenarnya" balas Fitri.
"Denger sayang, aku sudah tak pernah ada urusan lagi sama Lucy. Mas hanya kebetulan melihat dia terjatuh di taman hotel, lalu mencoba memapahnya hingga ke lobi hotel. Itu pun mas lakukan hanya karena ingin menolong bukan karena maksud lain. Masalah Lucy ada di hotel itu mas gak tahu, apalagi tentang foto-foto ini, mas benar-benar tak mengetahuinya. Jujur mas tak mau lagi punya urusan dengannya dan tak akan pernah berhubungan lagi dengan nya. Mas janji, mungkin ini akal-akalan nya Lucy untuk menghancurkan hubungan kita" jelas Fajar panjang lebar.
Untuk sejenak Fitri mencerna penjelasan suaminya dan mencoba percaya kembali pada suaminya.
"Maafkan aku mas, karena sudah meragukan kesetiaan mu. Maaf juga selama ini telah menghindari mu" sesal Fitri pada suaminya.
Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar merasa sedih sekaligus senang mendengar penjelasan suaminya tersebut. Fajar menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Menenangkan istrinya dan menghapus air mata dipipi istrinya.
Fitri dan Fajar turun dari mobil lalu berjalan menuju kearah pintu masuk perusahaan nya dengan bergandengan tangan mesra dan terlihat mengobrol sambil tersenyum satu sama lain.
Tanpa di sadari dari kejauhan terlihat sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Lucy melihat kemesraan mereka berdua dan merasa kesal akan rencananya yang gagal. Dia menggerutu emosi lalu pergi dengan penuh amarah.
Ria dan Syifa melihat Fitri sudah bisa tersenyum, karena seminggu ini mereka melihat Fitri hanya cemberut dan seperti banyak pikiran. Mereka tersenyum bahagia bahwa sahabatnya sudah ceria seperti semula.
__ADS_1
Fitri menghampiri ruang suaminya, Fajar senang melihat istrinya datang ke ruangannya. Fajar langsung memeluk tubuh istrinya, dia merasa sangat merindukan nya. Walau selama ini mereka berdekatan namun karena sebuah masalah terasa seperti berjauhan.
Fitri mengajak Fajar untuk makan siang, Fajarpun menyetujuinya. Merekapun pergi keluar kantor untuk mencari tempat makan yang enak.
Tibalah di sebuah restoran dekat kantor mereka.
"Mas, nanti kita coba pergi ke dokter yah, memeriksa kan diri kita, sudah saatnya kita memiliki keturunan" ucap Fitri pada suaminya.
"Boleh sayang, aku setuju. Aku juga ingin sekali memiliki anak dari mu" ucap Fajar semangat.
"Semoga bisa secepatnya yah mas, dari dulu aku ingin sekali memiliki seorang anak" ucap Fitri penuh harap.
"Mas siap melakukan lebih sering, kamu mau gaya apa? mau berapa lama? mau tiap hari, mas siap. Mas kuat kok sayang" ucap Fajar semangat sambil memperlihatkan otot lengannya.
Fitri yang mendengar ocehan Fajar mencubit perut suaminya dengan tersipu malu karena mereka berada di tempat umum. Sedangkan Fajar hanya tersenyum genit kepada istrinya, tak peduli dengan apa yang iya katakan. Fajar bahagia melihat istrinya sudah bisa tersenyum kembali.
__ADS_1