
Karena usia kandungan Fitri telah berusia 4 bulan, di dalam keluarganya filakukan selamatan 4 bulanan bukan 7 bulanan. Karena dalam agama islam, saat kandungan usia 4 bulan di saat itulah ruh di tiupkan atau di masukan kedalam janin itu dan di sana telah tertulis rezkinya, jodohnya, takdirnya bahkan ajalnya. Maka waktu 4 bulan adalah waktu yang lebih baik di lakukan selamatan syukuran agar sang bayi sehat, sempurna dan selamat sampai lahir ke dunia.
Orangtua Fitri dan orangtua Fajar telah hadir di sana juga telah datang teman-teman Fajar dan Fitri, Ria dan Bima, Syifa dan Andi, Farah dan Irwan serta Farhan yang masih saja asik sendiri. Beserta ibu-ibu pengajian hadir untuk mendoakan kehamilan Fitri.
Acara pengajian pun di mulai, di pimpin oleh ustadz, mereka mengikutinya dengan sangat Khusu. Mengaji, sholawatan serta doa yang di panjatkan untuk keselamatan sang bayi dan ibunya. Acara berlangsung selama 1 jam dan di akhiri dengan pembagian bingkisan kepada para ibu-ibu pengajian yang hadir.
Sementara keluarga dan teman-teman Fitri dan Fajar makan bersama sekalian bercengkrama satu sama lain.
"Wah Syifa, hamilmu sudah besar pasti sebentar lagi lahir yah" ucap Fitri.
"Iya nih sudah 8 bulan" balas Syifa.
"Udah tahu jenis kelaminnya?" tanya Fajar.
"Udah, prediksi dokter sih perempuan" balas Andi.
"Kamu tak mau nyusul kita-kita nih Ria!" ujar Fitri.
"Aku sih masih menunda dulu, masih pengen jadi pengantin baru terus" balas Ria santai.
"Apa Bima nya gak tokcer?" ejek Fajar.
"Enak aja lo, gini-gini kalau gak KB pasti langsung tekdung tuh Ria. Tapi memang kami masih menundanya dulu" balas Bima sedikit sewot.
"Ini pengantin baru adem ayem aja, gak ikutan nimbrung. Si Irwan sok kalem nih pas udah nikah" ejek Bima.
"Udah nikah harus kalem lah, harus bisa berubah jangan pecicilan terus kayak masih lajang" balas Irwan.
"Halah, padahal hampir tiap hari di kejar-kejar cewek mulu. Tapi gak ada yang nyangkut, eh tahunya sekarang jadi adek ipar gue" celetuk Fajar.
"Habis gen istri lo kan emang bagus, Fitri cantik dan Farah pun cantik. Lo dapat kakaknya yah gue dapat adeknya" ucap Irwan bangga membuat Fitri dan Farah merona.
__ADS_1
"Bener juga sih lo" Fajar mengangguk tanda persetujuan.
"Ngomong-ngomong, lo udah belah duren belum!" tanya Bima tanpa basa-basi.
"Hadeuh lo ini pengen tahu aja, lihat aja sendiri!" celetuk Irwan.
Bima otomatis melihat ke arah Farah dan Farah hanya tersenyum malu. Bima pun mengerti pasti mereka sudah melakukannya karena dia hanya senang saja menggoda pengantin baru seperti mereka. Membalas apa yang di lakukan Irwan saat ia baru menikah dengan Ria.
Setelah ngobrol cukup lama dan waktu pun sudah hampir maghrib, akhirnya teman-teman Fitri dan Fajar pun pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
Orangtua Fajar dan Farhan pun pulang juga, Farah dan Irwan pun ikut pulang. Rumah pun kembali sepi hanya ada mereka berdua dan Orangtua Fitri.
"Mamah dan Papah istrirahat saja di kamar biasanya, mungkin kalian capek" ucap Fitri.
"Kamu juga istrirahat, orang hamil biasanya gampang capek" balas bu Elis.
"Iya mah, yaudah mamah dan papah cepat istirahat, aku juga akan istirahat" ucap Fitri dan mereka pun pergi ke kamar masing-masing.
Di kamar tamu
"Akhirnya yah pah, kita akan punya cucu juga dari Fitri" bu Elis mendudukan dirinya di tepi ranjang.
"Iya mah, papah senang banget mau jadi kakek. Mungkin jodoh Fitri itu nak Fajar hingga bisa mendapatkan momongan" ucap pak Heru senang.
"Iya pah, aku senang sekali sama nak Fajar, udah ganteng, baik dan perhatian. Gak seperti Hary dulu yang agak arogan, sebenarnya kalau bukan karena Fitri. Mamah gak setuju sama Hary" bu Elis memasang wajah tak suka.
"Udah jangan bahas si Hary, lupakan dia. Yang penting sekarang Fitri bahagia bersama Fajar" ucap pak Heru.
______
Sementara Fitri sedang asik nonton drama, Fajar sedang di kamar mandi membersihkan dirinya. Karena memang sudah sangat lengket seharian, Fitri sudah terlebih dahulu mandi dan sudah wangi dengan pakaian tidurnya.
__ADS_1
Fajar keluar dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pakaiannya lalu menghampiri Fitri dan memeluknya.
"Sayang.. kangen..." Fajar gelendotan di tubuh Fitri seperti kucing.
"Mas ini kebiasaan, pakai baju sana" ujar Fitri.
"Gak mau..." ucap manja keluar dari bibir Fajar dan malah terus menggesekkan dada bidang dan perut sixpack nya di lengan Fitri. Tujuannya untuk menggoda istrinya agar terhanyut sesuai keinginannya. Namun Fitri malah terlihat biasa saja dan masih asyik menyaksikan acara televisi.
Melihat itu Fajar sedikit kecewa lalu ia mencoba cara yang lebih nakal untuk menggoda istrinya. Fajar mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Fitri dan mulai menggigit kecil dan mempermainkannya disana.
"Ihh... mas apaan sih! geli tahu" Fajar tak mengubris keluhan Fitri ia terus mempermainkan telinga istrinya bahkan sampai menyusuri leher Fitri dengan kecupan lembutnya.
Fitri sebenarnya mulai terhanyut dengan ulah Fajar, sesuatu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Fajar pun memperhatikannya. Ia tersenyum di tengah kecupan di leher istrinya namun tak menghentikannya. Fajar meletakkan tangan Fitri ke arah pangkuannya dan Fitri hanya diam saja dan malah memejamkan matanya.
Tangan Fitri merasakan sesuatu yang mulai menegang di balik handuk yang di pakai suaminya. Ia pun sedikit mengelusnya disana untuk menggoda suaminya.
Fajar menikmatinya lalu tanpa aba-aba ia meraih wajah Fitri terus mencium bibir istrinya dengan sangat panas. Tangannya mulai menjamah keseluruhan tubuh istrinya hingga membuat Fitri tak bisa menahan suaranya.
Tiba-tiba saja tubuh mereka sudah polos dan Fajar terus saja melancarkan aksinya hingga ia pun mulai ke inti permainannya. Fajar terus mempermainkan istrinya berkali-kali namun dengan hati-hati agak tak mengganggu kehamilan istrinya. Serta membiarkan istrinya menikmati serangannya agar tak merasa kelelahan.
Cukup lama Fajar melakukan serangannya, hingga nafas keduanya terus memburu membuat lenguhan khas menggema di seluruh ruang kamarnya. Mereka tak peduli akan apa suara mereka terdengar keluar ataupun tidak. Yang pasti mereka sangat menikmati permainannya.
Hingga beberapa saat suara mereka semakin menggema pertanda mereka telah mencapai puncaknya. Fajar segera berbaring di samping tubuh istrinya dengan nafas yang tersengal-sengal. Fitri hanya diam dengan mata yang masih terpejam dengan dada naik turun karena kegiatannya yang cukup menguras tenaganya.
Fajar mengecup pipi Fitri lalu Fitri membuka matanya dan tersenyum ke arah suaminya.
"Terimakasih sayang, mas puas malam ini" senyuman kemenangan memancar dari wajah Fajar.
Fitri hanya bisa tersenyum dengan tetap berbaring dengan tubuh mereka yang masih polos. Fajar menyuruh Fitri untuk meletakkan kepalanya di atas bantal begitupun ia. Lalu Fajar meraih selimut untuk menyelimuti tubuh polos mereka. Fajar pun menarik tubuh Fitri kedalam pelukkannya dan nafas mereka pun sudah mulai tenang. Mereka akhirnya memejamkan matanya untuk mengurangi rasa lelahnya.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yah 😊