
Sore itu Fajar sedang mengerjakan pekerjaan di ruang kerjanya karena belakang ia sering sekali tak masuk kantor demi istrinya, maka ia mengerjakan pekerjaannya di rumah dan sisanya Andi yang mengurus. Sedangkan Fitri sedang berbaring di kamarnya namun yang di lihat ada buliran air mata di sudut kedua matanya. Di depan suaminya ia mencoba tegar namun di dalam hatinya ia merasa terluka. Iya.. Terluka akan perkataan suaminya yang sampai saat ini selalu meremehkannya. Dalam hati dan pikirannya sering bertanya, apa salahnya selama ini sampai Hary begitu tak menyukainya bahkan terkesan membencinya?.
Dia mencoba untuk tak memikirkannya namun hatinya berkata lain sehingga lagi-lagi airmatanya mengalir di sebelah kanan dan kiri sudut matanya. Mungkin karena dia juga sedang hamil karena biasanya wanita hamil itu perasaannya lebih sensitif dan emosinya bisa berubah-ubah.
Terdengar pintu di buka perlahan, segera Fitri mengusap airmatanya dan menarik selimutnya untuk berpura-pura tidur. Ternyata Fajar yang datang dan langsung duduk di tepi ranjang di samping istrinya.
Fajar mengusap kepala Fitri lembut untuk membangunkan istrinya tersebut. "Sayang, bangun sudah sore. Gak baik loh tidur sore-sore"
Fitri mengerjapkan matanya seolah ia benar-benar baru bangun dari tidurnya sambil merrgangkan tubuhnya. "Emang sudah jam berapa mas?"
"Sudah jam 17.30, sudah mau maghrib, bangun terus cuci muka." balas Fajar. Fitri pun segera beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka.
Mereka pun keluar kamar untuk bersantai sebentar di belakang rumahnya, menatap kolam ikan kecil serta tanaman bungan yang ada di sana.
"Mas bahagia sekali, sekarang kita akan menjadi keluarga yang sempurna dengan hadirnya buah hati kita. Mas gak sabar ingin melihat jagoan kecil kita" Fajar mengelus lembut perut istrinya.
"Apa sudah yakin yang hadir nanti akan si jagoan? Siapa tahu nanti ada si cantik yang hadir" ucap Fitri.
"Mas sih berharap anak pertama itu laki-laki, tapi mas sih gak mesti juga, selama dia lahir sehat dan sempurna, mau lelaki atau perempuan pasti mas akan menyayanginya." balas Fajar terus memeluk pinggang Fitri.
"Sebentar lagi kita bisa mengetahui jenis kelaminnya!" ucap Fitri.
"Iya sayang, nanti kita USG lagi" Fajar mengecup kening Fitri. Fitri pun bersender manja pada suaminya yang juga memanjakannya.
"Oh iya, mas belum nengok si kecil nih" goda Fajar menatap Istrinya.
"Sayang, kangen papah gak? papah kangen kamu banget. Mau papah tengokin gak?" Fajar mendekatkan wajahnya ke perut Fitri seolah ia berbicara dengan bayi dalam kandungan istrinya.
"Apaan sih kamu, mas? emangnya mau ngapain sih bilang gitu segala, maksudnya apa! jangan sok ngobrol dengan anak kita, sebenarnya itu di tujukan padaku kan!" Fitri memukul pundak suaminya gemas dengan wajah yang merah padam.
"Yah, sekalian ngobrol dengan kalian berdua. Kalau sekarang kan ingin nengok bayi kita melalui mamahnya, jadi mamahnya harus jadi perantara nya yah" Fajar mengeluarkan cengirannya.
"Udah ah, jangan ngomongin itu." Fitri merasa malu.
"Boleh yah...." Fajar memelas.
"Gak mau" sok menolak.
"Boleh yah sayang. Please" semakin memelas.
__ADS_1
"Aku capek mas" balas Fitri.
"Mas janji kamu tinggal diam saja yah, biar mas aja yang beraksi" cengiran penuh harap dari bibir Fajar dengan mata berbinar. Fitri hanya diam saja tak bisa menjawab, dia hanya menahan rasa malu karena tingkah suaminya seperti anak kecil yang minta di belikan permen. Melihat itu otomatis ia tidak akan bisa menolaknya.
___________
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Terlihat Farah dan Irwan sedang menikmati makan malamnya. Ini adalah hari ke 5 mereka menjadi pasangan suami istri dan besok adalah hari dimana mereka harus kembali ke aktivitas nya semula.
"Besok kamu sudah masuk kuliah lagi kan!" tanya Irwan.
"Iya mas, besok kan mas gak ada kelas yah!" ujar Farah.
"Iya, paling mas di rumah saja. Sekalian periksa tugas-tugas yang dikerjakan mahasiswa minggu lalu" balas Irwan.
"Iya tetap saja kerja yah mas. Pak dosen yang teladan" canda Farah.
"Yah harus dong sayang, ini kan sudah tugas mas" ucap Irwan.
"Iya sayang" balas Farah.
"Tumben nih bilang sayang, pasti ada maunya" lirikan nakal dari mata Irwan.
"Yah ingin aja mas, bilang sayang pada suami kan gak perlu ada maksud" elak Farah mendelik pada suaminya yang berpikiran aneh-aneh.
Sebagai pengantin baru, hampir tiap malam Irwan meminta hak nya dan Farah menerimanya dengan senang hati karena memang sudah kewajibannya melayani suaminya.
___________
Irwan mengantarkan Farah sampai depan kampusnya. Farah mencium tangan suaminya dan Irwan mencium kening istrinya. Farah pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya ketika mobil suaminya melaju menjauh.
"Cie cie pengantin baru niyeh, pasti lagi hot hotnya" ejek Bella sahabat Farah.
"Apaan sih kamu? biasa aja kali" elak Farah.
"Tuh lihat kan, ada bekas kepemilikan di lehermu. Pasti semalam...." Bella tak melanjutkan perkataannya dan malah cekikikan.
"Udah ah, jangan di bahas" Farah pergi begitu saja meninggalkan Bella sahabatnya yang rese.
Di kelas, memang hampir semuanya tahu jika Farah telah menikah tapi tak semua tahu jika suaminya adalah pak Dosen Irwan, idola para mahasiswi di sana. Hanya teman-teman yang di undang yang tahu siapa suami Farah.
__ADS_1
"Hey pengantin baru, udah belah duren nih" ejek yoga teman sekelas Farah hingga semua riuh.
"Udah lah, masa belum" balas Bella malah tambah riuh.
"Udah udah jangan di dengerin, aku kan malu" ucap Farah setengah berbisik pada Bella.
"Biarin aja kali, biar si Yoga tahu dan berhenti ngejar kamu" balas Bella.
"Iya iya, yaudah biarin aja dia" pinta Farah dan Bella pun diam. Walau Yoga terus aja mengoceh tentang Farah dan kelas pun semakin riuh di buatnya.
Yoga memang selalu mengejar Farah, ia bahkan menyatakan cintanya berkali-kali pada Farah. Tapi Farah tak begitu menanggapi Yoga karena memang Farah tak suka dengan cowok yang pecicilan kaya Yoga.
________
Fajar memutuskan ke kantor siang hari karena ia tidak mau lepas dari Fitri dan anak dalam kandungannya.
"Sayang, kenapa sih semalam malah tidur" ucap Fajar cemberut.
"Kan aku udah bilang mas, kalau aku capek. Biasanya orang hamil kan gampang banget capeknya" balas Fitri santai masih menyaksikan sinema pagi di layar televisi.
"Yah, jadinya kan gak bisa nengokin dede bayi" Fajar meletakkan kepalanya di pangkuan Fitri.
"Gara-gara mamahmu nih sayang, jadi papah gak bisa nengokin kamu" gerutu Fajar menatap perut istrinya seolah mengobrol dengan bayinya.
"Gak usah keluh pada anak kita, mas ini manjanya kelewatan kayak anak kecil sih" Ucap Fitri mengalihkan pandangannya ke arah Fajar.
"Kalau mas masih anak kecil, mas gak bakalan bisa bikin anak kecil dong sayang" cengiran nakal di bibir Fajar membuat Fitri geli.
Fajar malah menyusupkan kepalanya pada bagian bawah istrinya membuat Fitri tersentak kaget karna ulah suaminya.
"Eh mas ngapain sih? geli tahu" ujar Fitri.
"Mas kangen sayang, udah beberapa hari gak dapat jatah" rengek Fajar bak anak kecil.
"Yah gak gitu juga kali mas. Nanti malam saja yah, sekarang mas kan harus kerja. Cepat mandi gih" Fitri mencoba mengelak dari suaminya.
Fajar segera bangun dari pangkuan isterinya, "Janji yah malam ini harus ngasih, awas kalau enggak, mas akan ngambek" ancam Fajar.
"Iya mas, janji" ujar Fitri meyakinkan suaminya.
__ADS_1
Fajar loncat-loncat kegirangan mendengar jawaban Fitri. Ia memang sungguh berharap dapat haknya karena memang sudah cukup lama ia menahan hasratnya.
Bersambung......