Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
10. Secuil Kisah Jeon


__ADS_3

"Mau makan juga?"


"Apa yang kamu katakan? Aku akan gemuk jika aku makan semalam ini." Rindu menjawab dengan terkekeh.


Senyum yang manis, wajahnya cantik. Bukankah ini perpaduan yang sempurna?


"Oh, ya Je. Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Boleh."


"Aku merasa hubungan kamu dan Jeff tidak baik."


"Mbak lihat dari mana?"


"Aku perempuan, Je. Kamu tahu gimana pekanya dan insting seorang perempuan yang jarang meleset. Aku lihat dua hari ini, ya mungkin terlalu cepat untukku menilai, tapi aku merasa kalau memang hubungan kalian itu tidak baik."


"Kelihatan banget, ya emang? Sebenarnya aku nggak ada masalah sama Kak Jeff."


Jeon tiba-tiba merubah raut wajahnya. Ini adalah pertama kalinya ia menceritakan statusnya di depan orang. Status yang memang sengaja ia tutup rapat kini ia akan buka. Ia berpikir tidak masalah jika ia berbagi cerita hidupnya dengan Rindu. Wanita itu adalah Kakak iparnya, bukan orang lain. Ia sudah masuk dalam keluarga Lim, sama seperti dirinya.


"Terus? Apa yang membuat kamu dan dia jauh?"

__ADS_1


"Statusku di rumah ini. Jadi dua puluh lima tahun yang lalu, Mama nemuin aku di tong sampah depan rumahnya. Lebih tepatnya di tong sampah di depan gerbang. Aku masih ingat, Mama cerita ke aku mau menemukan aku waktu itu malam-malam. Mama sama Papa pulang dari rumah sakit katanya. Waktu itu Kak Jeff masih tiga tahun."


Jeon berhenti sejenak, Mie yang berada di mangkok sudah mulai sedikit berkurang tingkat panasnya.


"Sebenarnya waktu kita beranjak menjadi anak-anak, semua berjalan dengan baik. Nggak ada permusuhan atau kebencian. Aku dan Kak Jeff akur seperti adik kakak pada umumnya. Hingga suatu ketika kita beranjak menjadi remaja, pasti ada perubahan di diri kita, kan? Yang mungkin sifatnya mulai terbentuk dan mulai terlihat dengan jelas. Di saat kita beranjak remaja, lebih tepatnya duduk di bangku SMP, mulai menunjukkan sifat aslinya yang mudah berontak, pemarah, sedikit susah diatur, pokoknya sifatnya Kak Jeff itu fotokopian dari Papa. Jadi mereka kalau disatukan sudah pasti geger dan ribut, karena mereka juga sama-sama keras kepala. Seperti yang Mbak lihat kemarin, untuk urusan kecil saja mereka bertengkar."


Rindu mengangguk paham.


"Nah dari situ mulai terbit ke iri an di hati kak Jeff sama aku. Papa nggak pernah membentak, marah, ataupun bertengkar sama aku. Karena aku selalu mengiyakan apa kata Papa meskipun secara pribadi sebenarnya aku tidak mau melakukannya. Papa itu keras, apa yang keluar dari mulutnya harus dituruti. Aku mempelajari itu dari kecil, aku tahu status aku di rumah ini hanya sebagai anak angkat. Itu sebabnya aku selalu mengiyakan apa kata Papa sama Mama. Aku selalu menuruti apa kata mereka tanpa pernah sekali pun aku berkata tidak."


"Jadi Mas Jeff merasa orang tuanya tidak adil? Karena lebih sayang sama kamu daripada dia?"


Rindu iba mendengar sedikit cerita dari adik iparnya. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang membuang anaknya di tong sampah. Beruntung ada orang baik yang bersedia menerima dan dengan tulus ikhlas membesarkannya tanpa membedakan.


Rindu masih meneliti wajah Jeon yang nampak menahan kesedihan.


"Apakah aku membuka luka lamamu? Aku minta maaf. Jika saja aku tahu kejadian sebenarnya, aku tidak akan pernah bertanya."


"Tidak ada siapa pun yang membuka luka lamaku. Luka aku memang tidak pernah tertutup dan selamanya akan terbuka. Akan selalu terluka setiap saat. Mendengar pertengkaran Papa dan anak kandungnya yang selalu menyebutkan namaku di setiap teriakan mereka." Mata Jeon mulai berkaca-kaca.


"Papa yang selalu mengeluarkan kata pembelaannya untukku dan Kak Jeff yang terus mengeluarkan kata umpatan buat aku. Maaf jika aku hampir menangis, karena aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Mbak Rindu adalah orang pertama yang tahu betapa sulitnya aku bertahan di sini. Aku tidak pernah menceritakan ini ke orang lain, karena menurutku tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang anak yang dibuang di tong sampah oleh orang tuanya."

__ADS_1


Jeon tak mampu menahan air matanya agar tak jatuh. Baginya sudah terbiasa ia menangis seorang diri di kamarnya, tapi tidak biasa baginya menangis di depan orang lain. Jangankan orang lain, kedua orang tuanya pun tidak pernah melihat dirinya seperti sekarang ini. Dan ia tidak tahu, kenapa ia justru menunjukkan sisi lemahnya di depan Rindu, wanita yang sebenarnya baru ia lihat beberapa bulan yang lalu dan bahkan ia baru mengenalnya ketika Rindu menjadi Kakak iparnya.


Jeon merasa malu menampakkan air matanya, dengan segera ia menghapus air mata yang dengan kurang ajarnya terjun bebas tanpa batas.


"Ah tidak, ini memalukan, aku minta maaf. Tolong jangan ceritakan pada siapa pun kalau Mbak pernah melihat air mata seorang Jeon."


Tiba-tiba Rindu membuat pergerakan untuk menggenggam tangan Jeon dengan kedua tangannya. Entah dorongan dari mana Rindu melakukan itu.


"Jangan sok kuat, Jeon. Kalau kamu ingin menangis, maka menangislah. Air mata tidak akan membuatmu menjadi perempuan. Kamu nggak boleh insecure dengan dirimu sendiri, kamu istimewa bagi orang yang melihat kamu dari hati. Jangan berpikir kamu nggak berguna hanya karena kamu dibuang di tong sampah. Aku tahu menjadi kamu itu sangat sakit. Tapi kamu berarti buat Mama dan Papa. Kamu adalah obat mereka dari kebandelan Mas Jeff. Coba bayangkan kalau kamu nggak ada di tengah-tengah Mama sama Papa. Mereka pasti akan merasa lebih stress dari sekarang. Kamu adalah obat mereka, Je."


"Tapi aku di sisi lain juga jadi racun buat orang lain."


"Dia nggak bisa lihat kamu dengan sisi baiknya. Kamu ingat kata aku, Je. Ada keindahan dalam setiap hal, tapi tidak semua orang bisa melihatnya. Kamu ingat kalimat itu di mana pun kamu berada."


"Mbak bilang gitu karena kasihan sama aku?"


"Kamu lihat wajah aku dari tadi, coba tunjukkan di sudut mana yang memperlihatkan aku kasihan sama kamu. Kita teman, kan? Jangan lupa kamu yang bilang itu tadi pagi."


Jeon menghembuskan nafas kasar. Entah mengapa ia sedikit lega dengan berbagi seperti ini. Ia selalu meminta orang di sekelilingnya untuk berbagi kesedihan dengannya, tapi ia lupa bahwa dirinya tak pernah berbagi masalahnya pada siapa pun.


Di sudut rumah lain, tak ada yang sadar bahwa mereka sedang berada dalam pengawasan seseorang dan beberapa kali mengambil gambar kebersamaan mereka di tengah dapur yang terang, namun sepi.

__ADS_1


__ADS_2