
Tidak ada yang baik-baik saja bagi Jeff. Ia pulang ke rumah dengan membawa kesedihannya dari luar. Saat akan membawa barang yang semuanya adalah pilihan Rindu, ia teringat dengan beberapa pesan darinya.
Mengingat pesan itu sungguh malah membuat Jeff semakin terasa terpuruk, bagaimana tidak? Ia detik ini juga menyadari bahwa apa yang Rindu berikan benar-benar tulus dari hati. Itu semua sudah terbukti dari apa yang terjadi hari ini.
"Ayo Jeff, jangan tenggelam dalam penyesalan! Ingat kata Rindu, kamu akan menyesal dua kali jika kamu hanya fokus pada penyesalan yang sekarang. Fokus pada sekarang yang ada. Ayo kamu pasti bisa!"
Jeff mengambil semua paper bag yang terduduk di kursi bagian penumpang lalu membawanya pergi ke dalam rumah. Ia berusaha keras untuk tidak membawa kesedihannya ke rumah saat menginjakkan kakinya di teras. Sudah cukup Rindu saja yang ia sakiti. Untuk saat ini, siapa pun yang bersamanya harus ia cintai.
"Ratu, aku pulang kamu di mana?"
"Aku di depan TV, ada apa?"
"Lihat apa yang aku bawa! Maaf aku meninggalkanmu seharian ini, tapi aku membayarnya dengan ini. Pasti kamu senang."
Jeff memberikan seluruh benda yang ia bawa di hadapan Ratu. Wanita yang selama berminggu-minggu ini kehilangan cinta Jeff akhirnya bisa tersenyum bahagia.
Ratu menjereng satu persatu dress yang terdapat di banyak paper bag tersebut. Ia nampak senang, rasanya sudah lama ia tidak mendapat barang dari suaminya.
__ADS_1
"Kamu suka?"
"Apa yang nggak aku suka dari pemberian kamu? Semua yang kamu beri pasti bagus dan seusai sama selera aku. Makasih, ya. Rasanya udah lama kamu nggak manjain aku begini. Setelah kita menikah justru hubungan kita semakin renggang."
"Ya udah maaf, aku yang salah. Aku terlalu banyak pikiran. Tidak seharusnya aku mengabaikan kamu juga, kan? Ya udah kita mulai semua dari nol, ya kita mulai dari awal."
Ratu hanya mengangguk. Jeff benar-benar mendengar nasihat dari Rindu. Ia tak mau berlarut alam kesedihan dan penyesalan meski sebenarnya ia ingin tenggelam di sana. Ia mengarahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk fokus pada Ratu. Bukankah memang Ratu dahulu adalah prioritasnya? Lalu kenapa sekarang justru ia menomor duakannya ketika wanita itu mengandung darah dagingnya.
Malam harinya, Jeff mengirim pesan pada Rindu. Hanya sekedar memberi tahu bahwa apa yang ia pilihkan rupanya cocok dengan selera Ratu.
[Selamat malam, Rin. Kamu lagi ngapain? Aku cuman mau ngasih tahu kalau baju dan aksesoris yang kamu berikan tadi membuat Ratu bahagia. Terima kasih sudah mengingatkan aku dan membuat aku sadar bahwa aku harus peduli dengan kebahagiaan dia dan calon anakku. Aku memang sempat lupa bahwa ada orang yang harus aku perhatikan ketika aku menyadari satu hal. Tapi untunglah kamu segera memberiku jalan untuk tidak menyesal untuk yang kedua kalinya]
Jeff bahagia ketika mendapatkan notif di ponselnya. Rindu rupanya membalasnya dengan cepat. Namun, begitu ia membaca deretan huruf yang berada di layarnya senyumnya seketika hilang. Haruskah lost contact seperti ini ketika kita ingin menjalani hidup masing-masing? Setidaknya hanya itu yang dipertanyakan oleh Jeff.
Jeff menghirup udara di sekitarnya banyak-banyak dan menghembuskannya dengan pelan. Ini pasti akan terasa berat di awal, tapi lama-kelamaan pasti ia akan terlupa juga.
"Dia sudah berbuat banyak untuk kebahagiaanku. Aku juga harus membahagiakan dia dengan cara menuruti apa yang dia mau." Jeff bicara dengan pelan seraya memblokir kontak wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
__ADS_1
Jeff berjanji dalam hati akan benar-benar memulai semuanya dari nol. Semua rasa bersalah akan ia rubah dengan perbuatannya dan perubahan dalam hidupnya.
Jeff menatap Ratu yang tertidur di pangkuannya. Tangannya lalu mengelus pelan puncak kepala wanita itu. Sudah berminggu-minggu menjadi istrinya, tapi selama itu juga Ratu tidak mendapatkan perhatian penuh darinya. Matanya beralih turun ke perut wanita yang tengah hamil empat bulan itu. Tangannya yang lain juga ikut menyapa janin yang sedang tumbuh di perut istrinya.
"Tumbuh yang sehat, ya. Maaf kalau Papa sedikit mengabaikan kamu. Janji, mulai hari ini, Papa akan berubah. Kita merubah Mama bareng-bareng, yuk. Biar kita bisa ketemu sama Oma dan Opa."
Dan janji yang Jeff ucapkan malam itu benar-benar ia tepati hingga kehamilan Ratu yang ke delapan bulan. Perubahan yang ia awali dengan setengah hati dan memaksakan diri, kini sudah mulai mencair dan kebucinan Jeff kini berangsur-angsur kembali.
"Jeff, aku sudah mengembang dengan sempurna. Badanku melebar ke mana-mana. Aku tidak bisa menjadi model lagi setelah melahirkan, aku tidak bisa mengerem makananku. Aku terlalu banyak mengkonsumsi makanan. Aku terus menerus lapar." Ratu berdiri di depan cermin seraya memutar-mutar tubuhnya.
"Lagi pula yang izinin kamu jadi model lagi siapa? Aku nggak ngizinin kamu, ya. Kamu harus tetap menjadi ibu rumah tangga. Aku nggak mau kamu kerja lagi dan anak kita diurus orang lain. Mau nurut sama aku, kan? Kita ini sudah menjadi suami istri, hubungan kita udah nggak pacaran lagi kayak dulu. Pelan-pelan kamu harus merubah sikap kamu untuk dengerin aku. Jangan terus-menerus mau menuruti ego dan maumu. Itu bukan rumah tangga yang baik."
"Aku merasa kamu akhir-akhir ini berubah, ya Jeff. Aku seperti mendapatkan Jeff ku kembali."
"Emang kapan kamu pernah kehilangan Jeff?"
"Aku kehilangan Jeff beberapa minggu setelah menikah, tapi tidak lama setelah itu, Jeff ku kembali. Terima kasih karena sudah kembali. Aku sempat takut kalau perubahanmu itu akan membawamu kembali pada Rindu dan meninggalkan aku dengan anak ini. Aku merasa sejak aku hamil sangat sensitif dan menjadi uring-uringan. Mungkin sebelum hamil aku juga uring-uringan, tapi rasanya beda aja."
__ADS_1
"Itu juga karena aku. Udah jangan dibahas lagi. Kita fokus saja sama rumah tangga kita yang kita jalani sekarang."