
Sejak hari itu Rindu tidak punya lagi kesempatan untuk membicarakan soal Bu Mita pada Jeon. Seakan mempunyai indra keenam, Jeon selalu mengalihkan topik ketika Rindu mencoba untuk membahas wanita itu. Sudah satu tahun ini pertemuannya dengan Bu Mita yang sedikit intens membuat Rindu semakin merasa bersalah karena tidak bisa menyatukan mereka.
Ya, waktu memang sangat kejam, ia berjalan begitu cepat tanpa memberikan jeda pada beberapa manusia untuk mengalami perubahan. Salah satu manusia yang tidak mengalami perubahan adalah orang-orang yang berada di sekitarnya. Jeon dengan keras kepalanya, Bu Mita dengan tekadnya yang bulat, dan dirinya yang hingga saat ini masih belum jelas status hubungannya. Untuk masalah ini, Rindu yang membuat hubungan mereka tanpa kejelasan.
"Rindu ini sudah satu tahun. Apa aku kurang lama nunggu kamu? Aku tidak ingin lama-lama menggantung seperti ini. Bukannya aku nggak sabar, tapi aku mau hubungan kita ini jelas. Biasanya yang berpikir seperti ini perempuan, tapi kenapa dalam hubungan ini aku yang menginginkan kejelasan? Kalau aku ada yang kurang kamu bilang dong, biar aku perbaiki."
"Kamu nggak ada yang kurang, Je. Kekurangan kamu hanya satu dan kamu udah tahu itu. Aku mau menikah sama kamu kalau Ibu kamu juga ada di pernikahan kita. Kamu memang nggak butuh restu, tapi aku butuh."
"Yang penting itu restu orang tua kamu bukan pihak aku. Lagian Mama sama Papa udah setuju kita menikah. Kedua orang tua kita juga udah ngelupain masa lalu, udah nggak ada lagi permusuhan. Aku nggak akan pernah mau kalau dia hadir dalam pernikahan aku, hadir dalam hari bahagia aku, aku nggak mau hari bahagia aku rusak karena dia."
Untuk yang kedua kalinya, setelah sekian lama, Jeon yang tidak menunjukkan amarahnya pada Rindu, kini rasa itu kembali muncul. Ia sudah lelah, selama setahun ini menahan diri untuk tidak memikirkan sikap Rindu yang selalu berusaha untuk menyatukan ia dan ibunya. tapi semakin dibiarkan rasanya ia semakin tidak tahan.
Jeon sadar, tiap kali mereka bersama, akan selalu ada detik di mana Rindu berusaha untuk membuka obrolan mengenai Bu Mita. Dan dengan sigap ia mengalihkan niat wanita yang hingga kini menggantungnya itu. Jujur saja ia tak suka dengan cara Rindu yang terkesan memaksanya.
Jeon bangkit dari kursi cafe dan berjalan keluar. Ia berharap kepergiannya ini juga akan diikuti oleh kaki Rindu yang kerepotan mengejarnya. Namun sayangnya, kenyataan tak berjalan sesuai harapannya. Ia menatap Rindu yang masih terduduk di tempatnya. Hal itu menimbulkan jiwa emosi Jeon semakin bergejolak.
"Sejak kapan Rindu jadi lebih semenyebalkan ini?" gerutunya menutup pintu mobil dengan keras.
__ADS_1
Rindu masih bertahan di tempat, ia menopang kepalanya dengan salah satu tangannya. Rasanya sangat berat menjalani hari dengan beban seperti ini. Jika saja ia tidak menaruh rasa pada Jeon, mungkin ia tidak akan frustasi ini. Yang ia inginkan saat ini hanya calon suaminya itu tidak menyesal di kemudian hari. Mau dirubah sekeras apa pun, tidak akan ada yang mengubah status Bu Mita sebagai ibu kandung. Semarah dan sebenci apa pun Jeon pada wanita itu, tidak seharusnya ia bersikap seakan ia tidak butuh ibunya.
Rindu yang semakin hari semakin frustasi dengan usahanya yang tidak membuahkan hasil sama sekali akhirnya beranjak dari sana seorang diri. Ia menghembuskan nafas kasar saat sampai di halaman karena ia benar-benar ditinggal oleh Jeon.
Dari sekian banyak kendaraan umum, entah kenapa ia memilih untuk berjalan kaki di bawah awan mendung yang berselimut di sore hari. Ia berjalan sembari mengingat ingat setiap pertemuanya dengan Bu Mita.
"Saya tahu kalian ada hubungan spesial. Jika kamu ingin mendapatkan restu dari saya, kamu harus membuat Jeon memaafkan saya. Saya sungguh tidak bermaksud untuk merebut Jeon dari siapa pun. Saya hanya ingin minta maaf, saya hanya ingin menjalin hubungan baik dengan dia. Itu saja. Saya nggak bermaksud menekan kamu kok. Bukankah Restu itu juga penting? Kehidupan kamu dan Jeon nantinya juga akan lancar ketika mendapatkan restu dari saya. Saya rasa kamu sendiri juga tidak akan tenang jika menjalani rumah tangga tapi suamimu bermasalah dengan ibunya. Kita nggak tahu apa yang terjadi nanti."
Entah berapa lama dan seberapa jauh Rindu berjalan, ia tersadar dari lamunan ketika setitik air hujan mengenai tangannya. Ia segera menaiki taksi yang kebetulan melewati dirinya.
Sama-sama di jalan raya, namun bagian berbeda, Jeon terkapar tak berdaya di aspal lantaran baru saja mengalami kecelakaan. Dirinya yang membawa kendaraan dengan keadaan marah tak sadar bahwa lampu lalu lintas sudah berubah warna. Merah menyala dan ia terus melanjutkan laju mobilnya dan terjadilah kecelakaan yang tak sempat ia hindari.
°°°
"Oh mau main-main sama aku, ya? Mau marah-marahan? Oke, kita lihat aja siapa yang bertahan paling lama." Rindu meletakkan ponselnya dengan keras ke ranjang dan beranjak ke kamar mandi.
Gerutuan yang ia sematkan untuk dirinya sendiri dan membuktikan pada ada Jeon bahwa dirinya tak masalah jika tak mendapatkan kabar dari Jeon nyatanya membuatnya uring-uringan sepanjang hari. Entah berapa kali dalam sehari ia mengecek gawainya, namun tak ada nama Jeon yang menjadi nama daftar orang yang menghubunginya hari itu.
__ADS_1
"Apa hari ini semua orang melahirkan sampa dia kabarin aku aku aja enggak. Terakhir dilihat juga kemarin, siapa yang lebih penting dari aku? Katanya aku paling penting, tapi nggak ngasih kabar." Lagi-lagi Rindu menggerutu seraya membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang ke rumah.
"Astaga Rindu, pacar baru nggak ada kabar sehari dan kamu udah bingung, udah uring-uringan, udah stress? Aku nggak tahu masalah kalian apa, ya. tapi satu pesan aku, jangan sampai kamu kabarin dia duluan. Nanti dia kesenangan, terlepas dari siapa yang salah, jangan sampai kamu hubungi dia duluan."
"Iya bawel," tukas Rindu meninggalkan kantor.
°°°
Di tempat lain, Jeon berbaring dengan wajah yang sama seperti Rindu. Mengerucutkan bibir entah berapa centi dan juga wajah yang nampak kesal.
"Mau sampai kapan kamu nungguin kabar dari Rindu? kamu aja yang kabarin dia." Bu Merlin yang sejak pagi tadi menghadapi anak asuhnya yang uring-urungan jadi ikut kesal sendiri.
"Nggak mau, aku mau dia sadar kalau aku nggak mau berhubungan apa pun sama wanita itu."
"Kenapa kamu nggak mencoba, Je? Mama awalnya memang takut dan khawatir kalau kamu ikut sama ibu kamu, tapi semakin ke sini jika mendengar cerita dari yang kamu mengenai Rindu yang berusaha untuk menyatukan kalian. Mama rasa nggak ada salahnya kamu untuk hanya sekedar bicara empat mata. Kamu maafin dia dan setelah itu selesai. Jika kamu tidak mau memaafkan dari hati, kamu lakukan saja untuk Rindu biar Rindu juga tenang. Pasti beban buat dia kalau kalian menikah, tapi suami sama ini kandungnya nggak akur."
Baru saja Jeon membuka mulutnya hendak menjawab, ponsel Jeon yang dari tadi berada di tangannya berdering.
__ADS_1
"Ma, Rindu. Dia hubungi aku duluan," pekik Jeon senang karena merasa menang.