Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
9. Tengah Malam


__ADS_3

Merasa tak punya banyak waktu, Jeff segera beringsut ke kamar dan mengambil asal pakaian Rindu. Wanita itu sudah terlihat pucat dan badan yang sangat dingin, beberapa bagian tubuhnya pun sudah mengkerut karena kedinginan.


Jeff mengganti seluruh pakaian istrinya dengan cepat-cepat, meskipun ia melakukannya dengan badan bergetar entah karena apa. Rasa gugup dan diburu waktu membuat ia tidak sempat memikirkan keindahan tubuh istrinya. Meskipun ia sudah melihatnya dengan jelas dan tanpa halangan apa pun, Jeff melakukannya dengan profesional. Seakan dirinya ini adalah pemain sinetron yang sedang berakting menahan hasrat.


Setelah beberapa saat bergelut dengan tubuh mulus dan putih milik Rindu, ia duduk sejenak di lantai dengan bersandar ranjang. Meskipun ia melakukannya dengan cepat dan terlihat mengabaikan pemandangan di depannya, ia tetap bisa merasakan gugup dan debaran jantung yang luar biasa.


Setelah bisa mengendalikan dirinya, Jeff segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyadarkan atau setidaknya menghangatkan tubuh Rindu. Beberapa saat mencari, ia menemukan minyak angin yang berada di kotak obat.


Jeff lalu mengolesi minyak tersebut ke bawah hidung Rindu, telapak tangan, kaki, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Entah kenapa ia sedikit terkesiap saat melihat wajah Rindu. Wajah yang terawat, bersih, dan cukup cantik. Mata, hidung, dan bibir yang serba mungil menambah kesan cantik dan semburat manis.


Cukup lama Jeff memandang istrinya dalam lelap hingga ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan adalah kebodohan.


"Astaga, Jeff. Apa-apaan kau ini."


Beberapa detik kemudian terlihat Rindu yang berusaha untuk membuka matanya dengan perlahan. Dan tak berselang lama, matanya benar-benar terbuka sempurna.


Rindu melihat sekeliling sejenak, kemudian ia teringat bahwa terakhir kali tadi ia berada di kamar mandi sambil menangis di bawah guyuran air. Ia melihat ke arah samping, terlihat Jeff yang sedang duduk tak jauh darinya.


"Kamu yang bawa aku ke sini?" Rindu memegangi kepalanya yang terasa pening.


"Iyalah siapa lagi? Dan jangan bertanya siapa yang menggantikan bajumu. Sudah pasti aku yang menggantinya, kau tenang saja, aku tidak melakukan apa pun."


Jeff berucap sembari sedikit memperhatikan mata Rindu yang sembab. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah wanita itu habis menangis? Seperti yang sudah-sudah, setiap kali perasaannya sedikit tertarik untuk perhatian pada istrinya, logikanya selalu bertindak cepat untuk mengambil alih perhatiannya itu.


"Kenapa hidupmu itu merepotkan sekali? Kau selalu merepotkan aku apa pun. Kalau kau merasa kedinginan, seharusnya kau keluar kamar mandi dari tadi. Kenapa kau malah duduk dan pingsan di dalam?"

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mau bantu aku, kenapa kamu bantu? Kenapa nggak kamu biarin aja aku pingsan di dalam, kalau niat bantu, ya nggak usah protes."


Rindu berusaha bangkit sari berbaringnya. Tubuhnya terasa dingin dan perutnya seketika berbunyi saat ia terduduk.


"Aku lapar, aku dari tadi siang belum makan," keluh Rindu.


Entah dorongan dari mana, Jeff berinisiatif untuk mengambilkaan Rindu makanan terlebih dahulu sebelum makan malam dimulai. Mungkin saja hati nuraninya masih sedikit bekerja dengan baaik di hari yang hampir gelap ini.


"Aku saja yang ambil makanan. Aku nggak mau kau dicurigai orang-orang. Pasti akan banyak pertanyaan nanti, kenapa wajahmu pucat, kenapa kau terlihat lemas, jam segini kelaparan, dan banyak pertanyaan lainnya. Jadi aku saja yang mengambilkan. Aku bisa beralasan kau sedang sakit."


Jeff  berlalu dari sana. Dan benar saja, ia mendapat berbagai pertanyaan dari kedua orang tuanya. Tentu saja ia harus melakukan berbagai kebohongan untuk menutupi kejadian sebenarnya.


Sementara Rindu dengan setia menunggu di kamar, namun wanita itu memindahkan tubuhnya ke sofa. Ia teringat bahwa ia tidak boleh berbaring di ranjang suaminya sendiri .


"Ini makan." Jeff meletakkan nasi dan segelas susu yang sempat dibuatkan oleh Bu Merlin tadi.


***


"Menurut Papa gimana? Tadinya Mama brencana untuk ngumpulin Jeff sama Rindu di sini. Kita ngobrol bareng-bareng biar masalahnya terpecahkan. Kalau mama lihat sih, kayaknya Jeff masih belum bisa menerima pernikahannya ini deh, Pa. Mama takut kalau sebenarnya Jeff ini masih berhubungan sama Ratu. Ini baru dua hari mereka menikah loh, Pa. Tapi kelakuan Jeff bener-bener nggak bisa dipercaya."


Bu Merlin memulai pembicaraan serius dengan suaminya saat baru saja menyelesaikan makan malam. Kini mereka duduk berdua di atas tempat tidur dengan kaki tertutup selimut.


"Bukan kayaknya lagi, Jeff masih berhubungan dengan Ratu. Mama tahu tadi pagi itu dia nggak ke kantor, alasannya ke kantor, kan? Tapi dia menemui Ratu di apartemennya. Jadi Papa nggak ngerti harus ngomong pakai bahasa apa sama dia. Kita pura-pura nggak tahu, kita sabarin, kita kasih tahu pelan-pelan, dia berontak. Kalau kita kekang dia berulah. Papa Sebenarnya ada rencana untuk beri hadiah mereka tiket bulan madu ke Bali. Papa tahu ini akan sulit untuk mendekatkan mereka, ini juga pasti berat buat Rindu. Papa jadi nggak enak kalau begini. Kita seperti memasukkan anak orang ke dalam neraka."


"Makanya, kita yang waras yang jaga Rindu."

__ADS_1


Pak Jo mengangguk setuju. Beliau sebenarnya ingin sekali mendatangi kekasih haram anaknya itu, namun beliau yang mendapat laporan dari anak buahnya, bahwa Rindu berani terhadap selingkuhan anaknya itu membuat beliau urung untuk melakukannya.


Ya, beliau tahu apa yang terjadi tadi siang. Satu antek-anteknya sudah cukup untuk membuntuti ke mana anaknya pergi.


Dini tengah malam, Rindu terbangun. Tiba-tiba ia merasakan haus yang luar biasa. Dan sialnya, tidak ada air di kamar. Ia dengan malas turun ke dapur hanya untuk mengambil segelas air.


"Je, kamu ngapain?" Rindu melihat Jeon yang sibuk dengan alat masak.


"Laper, makanannya habis jadi aku buat mie. Mbak ngapain?"


"Ambil air."


"Mbak tadi siang bohong sama aku?"


Mendengar pertanyaan Jeon, refleks membuat Rindu tersedak air minum.


"Kenapa Mbak bohong sama aku? Bukannya kita sepakat kalau kita ini akan menjadi teman selama Mbak di sini?" Jeon selesai membuat mie dan duduk di meja makan. Pergerakannya itu diikuti oleh gerak mata Rindu. Melihat Jeon yang duduk di meja makan dengan menyantap semangkuk mie kuah, refleks Rindu melakukan hal yang sama.


"Je, aku nggak bermaksud bohong. Aku hanya tidak mau menjelaskan sesuatu yang membuat aku sakit."


"Sakit? Jadi tadi Kak Jeff ketemu sama siapa? Aku yakin bukan temannya yang dia temui. Kenapa Mbak mau aja ditinggal? Sesekali Mbak harus ngelawan biar dia juga nggak ngelunjak."


Mengalirlah singkat cerita kejadian tadi siang, Jeon setia mendengarkan dengan menyantap mie yang berada di depannya.


"Ingat, jangan cerita ke Mama atau Papa aku nggak mau..."

__ADS_1


"Mereka kepikiran dengan masalah Mbak. Aku udah tahu, Mbak nggak perlu ingetin berkali-kali."


Pria itu sesekali melirik Rindu dengan tatapan yang berbeda. Entah kenapa, Jeon merasa malam ini Rindu terlihat sangat cantik dengan wajah natural dan rambut diikat asal. Jeon seperti melihat ada sesuatu yang istimewa di diri wanita itu.


__ADS_2