
"Nggak lucu, ya kalau aku pulang sendirian. Ayo naik mobil, nggak usah sok-sokan marah!"
"Pulang? Bukannya kamu tadi udah ditelpon sama Ratu suruh ke sana? Suruh ke rumahnya, ya udah sana ke rumahnya. Aku juga mau jalan-jalan sendiri, nanti kita tetap pulang bersama kalau kamu sudah selesai dengan urusanmu itu."
Cekalan di pergelangan tangan itu masih tidak dilepas oleh Jeff. Semakin Rindu berusaha untuk melepas cekalan itu, semakin kuat pula Jeff mencekalnya.
"Lepaskan aku! Kenapa kamu selalu memaksakan kehendakmu? Aku mau kasih kesempatan bersama Ratu, tapi kamu malah nyakitin aku. Lepas, Mas!" Rindu sedikit berteriak di akhir katanya.
"Ya sudah kalau itu maumu. Silakan pergi, aku juga akan pergi. Kita habiskan waktu sendiri-sendiri." Jeff melepas kasar cekalannya dan berlalu dari sana.
Rindu kembali berkaca-kaca. Rasa sakit yang biasa ia terima setiap harinya, nampaknya belum bisa untuk dijadikan santapan yang biasa apalagi tanpa air mata.
Bingung hendak ke mana. Rindu memutuskan untuk berjalan saja menuruti kata hati dan langkah kaki yang akan membawanya pergi. Belum jauh berjalan, ia melihat pedagang kaki lima yang ramai dengan pengunjung. Akhirnya ia membelokkan tubuhnya ke tempat itu.
***
Sementara di lain tempat, Jeon dan kedua orang tuanya yang baru saja tiba di rumah. Pria itu langsung izin untuk pulang ke rumah. Bukan ia tak mau barlama-lama, justru ia takut jika di sini dalam waktu yang lama akan membuat ia tak mau kembali pulang karena berdekatan dengan Rindu. Ia memang tak mau jika berada di tempat yang sama dengan Rindu, namun juga banyak orang di sana. Akan lain cerita jika ia berdua saja dengan wanita itu.
Sebelum Jeon benar-benar pulang, ia terlebih dahulu mampir ke rumah sakit untuk menemui salah satu temannya yang sudah menjadi dokter di rumah sakit ternama. Sore sedikit mendukung saat Jeon membelokkan motornya ke halaman rumah sakit.
Baru saja menginjakkan kaki di teras bangunan serba putih itu, tak sengaja matanya menangkap sosok Jeff tak jauh darinya. Dengan jelas ia melihat pria itu sedang merangkul pinggang seseorang yang ia tebak itu adalah Ratu.
__ADS_1
Jeon berusaha menenangkan dirinya dengan mengikuti ke mana perginya kedua sejoli itu. Rasa terkejut tak bisa ia hindari saat keduanya masuk ke ruangan poli kandungan. Reaksi yang tercetak di wajah Jeon seharusnya tidak se berlebihan itu mengingat bahwa gaya pacaran mereka yang tidak sehat.
Tunggu! Kalau Kak Jeff di sini, di mana Rindu?
Jeon lalu kembali ke halaman rumah sakit dan mencari di mana Jeff meletakkan mobilnya. Sedikit lama ia mencari karena terlalu banyak mobil yang terparkir. Beberapa menit menghabiskan waktu di parkiran, akhirnya ia menemukan mobil Jeff, ia segera menghampiri kendaraan itu dan melihat apakah ada Rindu di dalamnya. Setelah memastikan beberapa saat bahwa memang benar-benar tidak ada orang di dalam mobil itu, Jeon kembali ke lorong di mana ruangan poli kandungan berada.
Sembari menunggu Jeff dan Ratu keluar ruangan, ia berniat menghubungi wanita yang ia cintai dalam diam. Sambungan pertama tidak terangkat, Jeon tak menyerah, ia akan terus menghubungi wanita itu hingga sambungan teleponnya terangkat.
"Halo, Rin. Kamu ke mana aja sih, kok lama banget ngangkat teleponnya?" Jeon bertingkah seakan Rindu adalah istrinya.
"Aku lagi di rumah, kenapa?"
"Udah nggak usah pake bohong. Di mana kamu?"
"Oh jadi yang boleh nanya itu cuman yang siapa-siapa aja. Ya udah kalau gitu jadikan aku siapa-siapanya kamu."
"Nggak penting banget tau nggak sih!" Rindu memutuskan sambungan telepon setelah itu.
Jeon berusaha menghubungi nomornya lagi, namun sudah tidak aktif. Ada sedikit penyesalan di dirinya karena ia menelepon dengan susah payah, namun tidak mendapatkan petunjuk keberadaan Rindu. Sudah sangat jelas bahwa wanita itu berbohong, karena tidak mungkin ia berada di rumah secepat itu. Hanya satu yang Jeon pahami dari perbincangan singkat barusan. Wanita itu sedang berada di dalam keramaian. Samar-samar, ia mendengar beberapa orang bicara yang menyelinap masuk di telinganya.
Saat kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, ekor matanya melihat orang yang ditunggu-tunggu keluar dari ruangan. Mereka berjalan seakan membuat orang yang melihatnya merasa iri karena kemesraan yang diumbar oleh Jeff.
__ADS_1
Perut Ratu tak luput dari pandangan mata Jeon. Melihat perutnya yang sedikit menyembul membuat emosi Jeon tiba-tiba naik ke permukaan. Pria itu menghadang jalan keduanya.
"Jeon kau." Jeff berucap dengan mencetak wajah terkejut dan gugup dalam satu waktu.
"Iya Kak, aku di sini. Kebetulan aku mau ketemu sama temenku, tapi aku malah ketemu sama kalian. Bisa kita bicara sebentar, Kak? berdua saja."
"Aku tidak meladeni apa pun pembicaraan yang bersifat tidak penting, Je."
"Ini sangat penting. Aku tunggu di halaman samping rumah sakit." Jeon meninggalkan mereka setelah itu.
Jeff dan Ratu lalu saling pandang. Wanita itu sedikit khawatir dengan hal ini. Ia khawatir jika adik asuh kekasihnya itu mengadu pada kedua orang tuanya dan malah berakhir lebih runyam dan rumit dari sekarang.
"Jeff, bagaimana ini? Jeon pasti tahu kalau aku hamil."
"Udah nggak apa-apa, kamu tenang aja. Jangan mikirin yang nggak-nggak, ingat kata dokter! Kamu nggak boleh stress, aku nggak mau, ya kamu sama calon anakku kenapa-napa. Aku temui dia dulu, kamu ke mobil, ya. Dia tak akan berani melakukan apa pun, dia terlalu kecil untuk melawanku. Aku ke sana dulu." Setelah memberikan kalimat penenang itu, Jeff melipir dari hadapan Ratu.
Begitu sampai di halaman samping, ia segera menghampiri Jeon yang sudah berdiri di bawah pohon rindang.
"Mau bicara apa? Cepat lakukan sekarang! Aku nggak punya banyak waktu."
Alih-alih menjawab pertanyaan Jeff, Jeon justru melihat sekeliling, seperti memastikan sesuatu dan tak lama kemudian satu hantaman keras ia berikan di sudut bibir pria itu.
__ADS_1
Jeff hampir tersungkur di rumputan, namun tangan Jeon yang menarik jas pria itu membuatnya ia selamat dari pertemuannya dengan rumput.
"Sebelum ini aku sangat menghargaimu sebagai seorang Kakak. Kau caci maki aku, hina aku, aku diam. Tidak pernah sekalipun rasa benci menyelinap masuk dalam pikiran dan hatiku. Tapi kali ini tindakanmu benar-benar keterlaluan! Maafkan aku juga aku hilang hormat padamu. Tindakanmu ini benar-benar menyakiti banyak orang. Kedua orang tuamu, Rindu, dan juga kedua orang tuanya. Tidakkah kau berpikir bahwa Rindu bertahan untuk menjaga perasaan kedua orang tuamu dan juga kedua orang tuanya? Tidak pernah kau berpikir sampai sana?"