Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
38. Akhirnya


__ADS_3

Tidak bisa dijelaskan dengan kata, itulah yang dirasakan oleh kedua orang tua Jeff saat melihat layar ponsel. Kedua mata mereka sampai membesar saking tidak percayanya dengan apa yang mereka lihat.


"Apa ini Jeff? Keterlaluan sekali kamu jadi laki-laki. Kamu menyakiti perempuan sama aja kamu kayak nyakitin Mama. Kamu mempermainkan ... Astaga Jeff." Bu Merlin kehabisan kata untuk anaknya. Beliau seketika sesenggukan.


Terasa sangat sesak, itulah yang dirasakan oleh Bu Merlin, tak beliau sangka, anak kandung satu-satunya yang lahir dari rahim beliau justru menjadi orang yang paling menyakitinya.


Jeon beranjak hendak menghampiri sang Ibu. Hatinya terasa sakit setiap kali mendengar isakan wanita yang sudah merawatnya dengan sepenuh hati. Sudah terlalu sering Bu Merlin menangisi suami dan anaknya, dan di saat itu hanya Jeon yang menyediakan pundak untuk Bu Merlin bersandar.


Belum sampai Jeon datang pada ibunya, Jeff sudah berdiri dari duduknya dan mencekal tangan adiknya. Mereka saling tatap dalam diam, tentu dengan tatapan yang masih mematikan.


"Ini semua karena kau! Tidak bisakah kau tidak lancang? Apakah kau tidak bisa mengurusi dirimu sendiri tanpa mengurus urusan orang lain?"


"Tuhan menciptakan kaca bukan tanpa alasan. Gunakan kaca sebelum berkata." Jeon menepis tangan sang Kakak dengan kasar lalu berlutut di depan ibunya yang masih tersedu di pelukan suaminya.


Bahkan Pak Jo yang terkesan bijak dalam masalah apa pun, kini nampak hanya bisa diam, beliau masih nampak sangat syok dengan gambar sederhana yang baru saja beliau lihat.


"Ma minum sedikit. Sedikit aja nggak apa-apa, biar Mama lebih tenang." Jeon memberikan segelas air untuk ibunya. Wanita itu nampak terpaksa dan dengan sudah payah menelan air.


"Ma, Pa, aku bisa...."


"Pergi kamu dari sini!" potong Pak Jo dengan segera.


"Dengerin...."


"PAPA BILANG PERGI! Kemasi semua barangmu dari sini. Jangan tinggalkan satu pun!"

__ADS_1


"Pa."


"PERGI!" Pak Jo berdiri dari tempatnya dan mendorong anaknya sendiri untuk keluar ruangan itu.


Jeff masih berusaha untuk menjelaskan meski tidak didengar oleh ayahnya. Bahkan pria itu masih berteriak memanggil ayahnya ketika pintu sudah tertutup dengan keras dan dikunci dari dalam.


"Pa, Ma. Aku minta maaf sudah membuat kalian seperti ini. Aku nggak bisa diem terus melihat Rindu yang selalu merasakan sakit di hatinya. Aku nggak mau membuat kalian punya banyak pikiran, bahkan Rindu juga larang aku untuk menceritakan apa pun yang aku lihat. Dia bertahan di pernikahan ini hanya untuk kita semua, untuk orang tuanya juga. Dia nggak mau kalau Mama sama Papa dan juga orang tuanya, memikirkan masalahnya. Di usia yang kalian seperti ini, seharusnya tidak perlu memikirkan masalah rumah tangganya. Aku minta maaf, aku membuka kenyataan ini bukan untuk...."


"Papa ngerti maksudmu, Je. Kamu nggak salah, kamu nggak perlu berpikir kalau kamu sudah membuat beban kami bertambah. Sudah lupakan!"


"Apa salahku, Pa? Apa salahku sampai kita punya anak yang begitu jahat. Kita nggak ngajari dia menjadi orang jahat." Bu Merlin masih terisak.


Tak berselang lama dari ucapan Bu Merlin yang terakhir, beliau merasa kepalanya sakit dan penglihatannya buram, dadanya terasa sesak dan setelah itu beliau tak tahu apa-apa.


Jeff sampai di kamar, ia melihat istrinya yang tengah terduduk dengan bersandar kepala ranjang. Matanya nampak sebab, wajahnya terasa suram, dan pandangannya juga nampak kosong. Wanita itu sama terpukulnya dengan kedua mertuanya, hanya saja sekarang cara menampakan kecewa dan terpukulnya berbeda dengan mereka.


Jeff berjalan pelan menuju tempat tidur, ia membawa dirinya untuk duduk di tepi ranjang. Tidak ada yang keluar dari mulutnya, matanya masih sibuk melihat Rindu yang nampak berantakan. Entah sejak kapan ia merasa ada sedikit penyesalan setelah menyakiti wanita itu. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia menyesal setelah menggores luka beberapa kali di hati istrinya.


"Rin," ucapnya setelah beberapa saat terdiam.


Tak ada jawaban ataupun respon yang lain. Rindu tetap memandang tembok di depannya.


"Aku..." Jeon kembali berucap, namun tak tahu harus berkata apa. Rasanya sangat sulit untuk berkata-kata.


"Kenapa, Mas? Kenapa kamu nggak bilang kalau mau menikah sama Ratu? Kenapa kamu harus merubah sikapmu ke aku, kalau akhirnya kamu nyakitin aku lebih dalam. Apa perubahan sikap kamu beberapa hari ini untuk ini? Seharusnya kalau kamu mau menikah dengan Ratu kamu bisa bilang ke aku. Aku akan berusaha untuk mundur dari pernikahan ini, jika memang kamu mau menikah dengannya. Aku bertahan hingga di titik ini bukan perkara yang mudah, Mas. Aku harus berdarah-darah dan terluka sana-sini untuk bisa sampai di sini. Dan setelah aku bisa bertahan dengan kakiku sendiri, dengan banyak luka dan darah di mana-mana, lalu kamu menyiramnya dengan air garam. Nggak gini, Mas, kalau kamu mau nyakitin aku."

__ADS_1


Merasa bersalah, itulah yang dirasakan oleh Jeff sekarang. Selama tinggal bersama dengan wanita itu, Jeff tidak pernah melihat Rindu yang sekarang. Wajah dan tatapan mata yang kosong benar-benar menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan benar-benar di luar batas kemanusiaan dan lukanya pun bisa saja tidak bisa disembuhkan.


"Rindu dengerin aku dulu."


"Apa yang harus aku dengar? Apakah aku harus juga mendengarkan bagaimana proses pernikahanmu dengan Ratu? Haruskah aku mendengar cerita bagaimana kamu menikmati hari pertamamu menikah dengannya? Sejak hari pertama kita menikah, kesalahan mana yang tidak pernah aku maafkan, Mas?"


Rindu sejak tadi bicara panjang lebar, namun sama sekali tidak menatap wajah suaminya. Ia lebih memilih untuk menatap tembok di depannya. Memang tembok itu tak pernah memberikan kasih sayang untuknya, tapi setidaknya tembok putih itu tak pernah memberikan luka.


"Iya aku tahu, nggak ada kesalahan yang nggak kamu maafkan. Aku nggak punya pilihan lain, Rin. Aku..."


"Kamu bukan tidak punya pilihan, tapi memang kamu nggak mau memilihnya. Kalau kamu mau memilih salah satu diantara kita, mungkin akan ada hati yang terluka, tapi hanya untuk sementara dan sesaat. Itu jauh lebih baik daripada sekarang."


"Aku dari awal..."


"Iya aku tahu kamu dari awal memilih Ratu. Dan aku terlalu bodoh karena aku percaya bahwa perubahan sikapmu itu adalah sebagai bentuk bahwa kamu pelan-pelan sudah menganggap aku sebagai istri. Itu adalah kesalahan terbesarku. Aku juga tahu, aku sadar betul kalau kamu memang memilih Ratu daripada aku, tapi yang aku sesalkan adalah caramu yang membuang aku dari hidupmu, Mas. Aku terlalu bodoh karena aku sudah meminta kamu untuk memilih antara aku dan Ratu." Rindu tertawa kecil namun, matanya mengeluarkan cairan bening.


"Rin."


"Sudah cukup, Mas." Rindu sejak tadi tidak memberikan kesempatan Jeff untuk bicara.


"Sepertinya memang benar aku harus mundur dari pernikahan ini."


"Nggak Rin, jangan! Bagaimana dengan orang tuamu?"


Satu kalimat itu berhasil membuat Rindu menatap Jeff dengan tatapan yang masih kosong.

__ADS_1


__ADS_2