
Genggaman tangan mereka rupanya membawa keduanya hingga ke rumah Rindu. Tak ada pembicaraan penting yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan, hanya obrolan kecil saja yang menemani mereka sore itu.
"Kok berhenti di sini? Nggak mau masuk dulu?" Rindu bertanya setelah mobil Jeon terhenti di depan gerbang rumahnya yang sudah terbuka lebar.
"Besok aku akan ke sini. Besok weekend, aku jaga pagi. Malamnya kita keluar, ya."
"Ke mana?"
"Ke mana pun yang kamu mau. Ya udah turun sana, mandi terus istirahat." Jeon yang baru berusia seperempat abad itu mengelus pelan puncak kepala wanita yang sudah ia anggap sebagai kekasihnya. Entah Rindu menerima anggapan itu atau tidak, ia tak mau memikirkannya. Yang terpenting sekarang baginya adalah membuat wanita itu senyaman mungkin saat bersamanya.
Rindu mengulum senyum seraya mengangguk. "Kabari aku kalau udah sampai rumah." Ia segera turun setelah mendapat anggukan dari Jeon.
"Dasar, sok jual mahal. Mau tapi malu, ingin menikmati kesendirian dijadikan alasan," gumam Jeon pergi meninggalkan rumah wanita itu.
Rindu merebahkan dirinya terlebih dahulu sebelum membersihkan diri. Seharian ini ia begitu dihujani dengan kejutan yang tak pernah ia duga. Ingatannya kembali berputar pada tadi siang.
"Tadi siang?" Rindu bangkit dari tidurnya dan merogoh tas yang tak jauh darinya. Ia mencari sesuatu di sana. Benda kecil yang tadi sempat membuatnya pusing kini sudah kembali di tangannya.
Ia benar-benar mengagumi kecantikan dari benda kecil itu. Lama memandanginya membuat hatinya tergelitik untuk mencobanya. Dengan pelan dan entah sadar atau tidak, ia memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Senyumnya seketika mengembang sempurna. Sesempurna ia memuji jarinya yang terlihat cantik dengan benda berbentuk lingkaran itu.
"Eh, tapi tunggu. Aku, kan bilang kalau cincin ini udah hilang, kalau Jeon tahu aku pakai ini nggak lucu, aku simpan aja lah."
__ADS_1
Rindu kembali melepas cincin itu dari jarinya. Tapi tunggu, kenapa ini terlihat sulit untuk dilepas? Rindu sudah berusaha memutar-mutar cincin itu, tapi tak kunjung bergeser dari tempatnya. Ia mulai panik ketika menyadari bahwa cincin itu benar-benar tidak bisa lepas dari jari manisnya.
"Astaga, bagaimana ini? Cincinnya tidak mau lepas." Rindu bangkit dan berjalan ke kamar mandi berniat untuk melepaskan benda itu dengan sabun.
Wanita itu semakin frustasi ketika caranya ini tidak mempan setelah ia mencoba beberapa kali. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya.
Dan akibat dari kecerobohannya itu, ia semakin frustasi ketika Sabtu malam dengan cepat menyapanya. Wanita itu masih mondar-mandir di kamar memikirkan bagaimana caranya untuk mengatasi benda kecil ini di jarinya. Padahal Jeon sudah menunggu di bawah sejak beberapa menit yang lalu.
"Astaga, cincin ini masih terbentuk ketika aku memplesternya. Aku harus apa?"
Sedikit lama Rindu berpikir dengan keras, hingga akhirnya ia menemukan sebuah cara untuk menutupi jarinya itu. Dengan cepat-cepat ia mengganti pakainya dengan pakaian berlengan panjang hingga menutupi seluruh tangannya tanpa terlihat sedikit pun.
Dengan hem flanelnya dan rok selutut yang berwarna hitam, ia berdiri di depan cermin dan memastikan penampilannya sempurna. Sebenarnya ia hanya ingin tampil cantik di depan Jeon, meskipun penolakan sudah pernah ia utarakan, tapi di sisi lain perasaannya juga merasa bahwa dirinya memang ada rasa pada pria itu. Hanya saja, ia tidak mau menunjukkannya sekarang karena ia khawatir jika ia melakukan itu, Jeon akan mengajaknya lebih cepat ke jenjang pernikahan, sementara ia sendiri ingin menikmati dunianya yang baru saja dinikmati seorang diri.
"Aku sudah siap. Maaf kalau aku membuat kamu menunggu lama."
"Nggak apa-apa."
Jeon meneliti sejenak penampilan wanita yang dianggap kekasihnya itu. Ia tetap terlihat cantik dengan pakaian yang ia kenakan, tapi rasanya ada yang aneh karena ini sungguh di luar kebiasaan penampilan Rindu biasanya. Hem lengan panjang yang dibiarkan menggelantung hingga menutupi seluruh tangannya.
"Mau ke mana Sayangku ini?" Jeon bertanya ketika dirinya dan Rindu sudah masuk mobil.
__ADS_1
"Yang ajak jalan kamu, kok tanya aku sih. Ya, kamu mau ngajaknya ke mana?"
"Aku sebenarnya juga bingung, sih, mau ngajak ke mana. Nggak ada tempat wisata atau tempat yang romantis selain di taman bunga yang beberapa waktu lalu aku ajak kamu, tapi kita udah pernah ke sana. Kita ke cafe aja, ya. Cafe temen aku."
"Ya udah boleh."
***
Sementara itu, di satu Kota yang sama di bagian lain. Sepasang suami istri sedang diserang kepanikan karena Ratu yang kandungannya berusia delapan bulan mengalami pendarahan setelah terjatuh di kamar mandi.
Ratu merintih di sepanjang perjalanan, sementara Jeff hanya bisa menenangkan wanita itu dengan sentuhan dan juga fokus yang ia bagi pada jalanan dan juga istrinya.
"Jeef, apa pun yang terjadi nanti padaku, dahulukan anak kita. Jangan pikirkan aku, jika kamu harus memilih salah satu diantara kita, tolong selamatkan anak kita."
"Ratu, kamu ngomong apa, sih? kalian berdua akan selamat. Nggak akan terjadi apa-apa sama kalian. Nggak ngomong gitu, nggak boleh mikir kayak gitu. Mikirnya ya bagus-bagus, yang baik-baik."
Tidak lama setelah itu, mereka sampai di rumah sakit. Jeff nekat menggendong Ratu yang sudah pasti lebih berat dari dahulu karena membawa dua nyawa dalam tubuhnya. Ia berteriak memanggil siapa pun yang bertugas di rumah sakit itu agar istrinya segera mendapatkan penanganan. Melihat darah yang menetes di lantai membuat Jeff benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya. Ditambah lagi ia melihat istrinya yang terus merintih kesakitan membuat ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Mohon tunggu dulu di sini, ya Pak. Kami akan memberikan penanganan yang terbaik."
Jeff akhirnya terduduk di kursi depan ruangan UGD. Dalam hati ia terus berdoa untuk keselamatan kedua nyawa yang sedang berjuang di dalam sana. Dalam keadaan seperti ini ia seharusnya ada teman untuk menenangkannya, tapi ia tidak mendapatkan itu karena ia tidak punya teman atau keluarga yang bisa dihubungi hanya sekedar untuk memberikan kalimat penenang yang bisa ia dengar.
__ADS_1
"Mama, aku bisa menghubungi Mama. Mudah-mudahan Mama bisa menjawab teleponku."