Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
70. Kebahagiaan yang Sempurna


__ADS_3

Jeon benar-benar menepati janjinya. Beberapa hari setelah kejadian dramatis di bandara itu, ia memboyong ibunya untuk pindah ke rumah yang sudah ia hadiahkan. Rumah yang cukup besar, tidak kalah mewah dengan rumah kedua orang tua asuhnya, dan yang paling penting adalah jarak rumah antara rumah kedua orang tuanya dan juga rumah Bu Mita tidak jauh.


Pagi itu, Bu Merlin menemani sang anak untuk membawa ibunya ke rumah baru. Tak lupa bayi satu-satunya di keluarga itu beliau bawa dalam gendongannya.


"Jeon, kenapa kamu merapotkan Bu Merlin juga? Ibu bisa pindah ke sini sendiri, lagi pula ini rumah terlalu besar, Je. Ibu hanya tinggal bersama kedua anak Ibu. Kamu menghabiskan uang gajimu sebagai dokter untuk membeli ini. eharusnya kamu bahagiakan dulu Bu Merlin dan Pak Jo."


"Aku cuman bisa kasih ini ke Ibu. Kalau untuk Mama sama Papa, aku bahagiakan mereka nggak pakai uang, uang mereka udah banyak. Ada banyak hal yang bisa membuat mereka bahagia."


Melihat Jeon akhir-akhir ini membuat Bu Mita malu dengan anak dan orang tua yang sudah mengasuh anaknya. Beliau jadi berpikir apakah dirinya merebut Jeon dari orang tuanya? Beliau yang melahirkan Jeon, tapi beliau merasa sudah merebut anaknya sendiri dari orang lain.


"Terima kasuh sudah mendidik dan membesarkan anak saya dengan sempurna. Dia tumbuh menjadi pribadi yang baik, bukan hanya visualnya saja sempurna, tapi sifatnya juga. Saya tidak tahu harus membayar pakai apa. Uang sebanyak apa pun tidak ada akan pernah cukup, kebaikan sebesar apa pun tidak akan bisa membayar apa pun yang kalian keluarkan untuk anak saya."


"Anak kita. Jeon milik kita semua sebelum dia menjadi milik Rindu. Alangkah baiknya jika kita melupakan semuanya. Kita mulai semuanya dari nol. Anggap saja semua hal buruk tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita. Kita dipertemukan Tuhan atas izinnya, jalannya memang menyakitkan, tapi ini cara terbaik bagi Tuhan untuk menyatukan kita. Ambil saja sisi baiknya. Saya minta maaf karena sudah sempat tidak mengizinkan kalian untuk bertemu."


"Lupakan, kita adalah keluarga." Bu Mita membuka tangannya lebar-lebar, seakan mempersilakan kedua manusia di depannya untuk masuk ke dalam pelukannya.


Semenjak hari itu, rasa bahagia Jeon seakan tidak ada habisnya. Hatinya semakin tenang ketika ia memberi maaf, memberikan kesempatan kedua, dan ditambah lagi bisa dekat dengan Bu Mita. Ia seperti menjadi manusia yang paling beruntung di muka bumi ini karena memiliki banyak orang yang begitu menyayanginya.


Hari-hari Jeon menjadi semakin sempurna setelah hari itu. Tidak ada celah baginya untuk mengeluh dan tidak bersyukur. Ia sudah memiliki segalanya, bahkan tidak semua orang memiliki apa yang ia punya.


"Je, Nabila dan Abil nggak tahu sama sekali bentuknya kamu gimana. Kalau kamu sendirian jemput mereka, kamu akan dikira penculik. Mending Ibu ikut deh. Kamu tahu mereka juga berbekal foto aja."

__ADS_1


Ya, Jeon memang tidak mengizinkan kedua adiknya itu untuk melihat wajahnya terlebih dahulu. Ia ingin mereka berdua melihat kakaknya secara langsung, pasti akan terasa mengharukan bagi mereka karena melihat kakaknya secara langsung.


"Kenapa Ibu sekhawatir itu? Wajah kita memiliki kemiripan 99% jadi tenang aja. Mereka pasti paham hanya dengan melihat wajah ini. Aku ingin membuat mereka terharu saat melihat wajahku untuk pertama kalinya. Sama kayak Ibu."


"Kamu berharap mereka terharu dengan pertemuan kalian yang pertama ini?" Bu Mita tersenyum mengejek. "Ya sudah sana berangkat. Kasih tahu Ibu kalau kamu berhasil membuat mereka terharu."


Jeon bangkit dari duduknya dan membawa kakinya ke arah ibunya, lalu ia mengecup pipinya dengan singkat dan berlalu dari sana. Bu Mita hanya menanggapi dengan senyuman.


Jeon sampai di Bandara. Ia berjalan dengan sedikit tergesa karena sepertinya ia sedikit terlambat di momen penting ini. Dengan bermodal foto di ponselnya, pria itu harus beberapa kali membagi perhatian dengan tempat di sekitarnya dan gawainya. Sebentar menatap layar, sebentar menatap depan, begitu terus hingga beberapa kali dan akhirnya ia menemukan sepasang manusia yang tengah duduk dan mengunyah snack.


"Nabila, Abil. Kalian tunggu lama. Maaf, Kakak terlambat tempat kalian, ya."


Untuk sejenak kedua anak remaja itu menatap Jeon dalam diam. Mereka seperti sedang menelisik wajah kakak laki-lakinya itu.


"Iya." Jeon menatap keduanya bergantian dengan heran. Kenapa tidak ada ekspirasi yang terkejut, terharu atau menunjukan respon yang pada umumnya mereka perlihatkan pada anggota keluarga yang baru mereka temui. Apakah mereka canggung?


"Kalian nggak mau peluk Kakak?" Jeon bertanya seraya merentangkan kedua tangannya.


"Peluk? Kakak tahu apa yang aku bicarakan sama Mami pas ketemu sama Kakak. Nih!" Nabila memukul lengan Jeon dengan keras. Air mukanya menunjukkan bahwa ia kesal.


"Aku sama Abil udah tahu semunya. Mami udah cerita, bikin kesel orang aja. Ngapain suruh Mami pindah sini? Aku jadi putus sama pacar aku gara-gara dia nggak mau kita pacaran jarak jauh."

__ADS_1


"Sama, aku juga. Aku jadi nggak bisa melanjutkan misiku untuk mendapatkan perempuan incaranku," sahut Abil.


Jeon hanya mendelik. Sangat berbeda dari ekspetasinya. Pikirannya yang sudah membayangkan akan terjadi banjir air mata dan keharuan seketika lenyap begitu saja.


"Ya udah balik aja sana kalian. Kakak juga akan pulang."


"Bisa emang pulang tanpa kami?" tantang Nabila


Jeon yang sempat berbalik badan dan melangkah, seketika berhenti di tempat. Ia tak tahu jika ia punya adik seperti ini. Jika melihat ibunya dan dirinya sendiri yang gampang menangis, rasanya kedua adiknya itu mewarisi sifat ayahnya.


"Jadi mau ikut Kakak apa nggak? Nanti biar Kakak bilang sama Ibu kalau kalian nggak mau tinggal di sini karena lebih memilih pacar-pacar kalian."


"Jangan!" ujar mereka serentak. Keduanya memajukan kaki beberapa langkah agar lebih dekat.


"Mami nggak tahu kalau kita pacaran. Jangan sampai Mami tahu, dia pasti ngamuk." Nabila yang bicara.


"Ada bayarannya untuk tutup mulut."


"Apa?"


Jeon merentangkan kedua tangannya untuk yang kedua kalinya. Keduanya tanpa pikir panjang menghamburkan tubuh mereka ke dalam dekapan Jeon yang tinggi dengan bahu lebarnya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Jeon mengajak keduanya berjalan dengan posisi yang masih sama.


Kedua adiknya yang nampak lebih banyak bicara daripada dirinya, mulai bicara banyak hal. Mereka terus bicara bertanya soal dirinya. Sesekali tawa mereka menjadi pusat perhatian.


__ADS_2