
Tak cukup hanya memuji, Jeon diam-diam dan sembunyi-sembunyi melempar tanda love dengan jarinya. Hanya dengan menyatukan jempol dan jari telunjuk sesaat, wanita itu kembali dibuat salah tingkah dalam kepura-puraannya yang tidak peduli.
Jeon tidak peduli pergerakannya sejak tadi dilihat oleh kakaknya. Ia tidak ambil pusing dengan reputasinya di depan Jeff. Toh kakaknya tidak menyukai istrinya, biarlah ia yang menyukai.
Sementara itu, Jeff yang nampak biasa saja di luar, siapa sangka ia memendam kekesalan terhadap sang adik. Ia tak tahu apa yang membuatnya kesal, ia hanya tidak suka saja dengan Jeon yang terkesan keganjenan.
"Aku lihat kau semakin dekat dengan Jeon. Sejak tadi aku perhatikan kau tersipu malu dengan apa yang Jeon lakukan. Ternyata kepergiannya tidak menghalangi hubungan kalian, ya. Luar biasa." Jeff membuka suara saat ia baru saja melajukan mobilnya.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan siapa pun. Bahkan denganmu aku juga seperti tidak punya hubungan. Itu yang sering kamu katakan, suami istri hanya sebuah status di KTP saja."
"Iya memang kau benar, suami istri kita hanya di status saja. kau bebas untuk dekat dengan siapa pun."
Entah pernikahan macam apa yang sedang yang ia jalani kini. Ia merasa berdosa dengan dirinya sendiri dan juga Tuhan. Dengan berani ia sudah mempermainkan pernikahan seperti ini. Ia ingin mengakhiri semuanya, tapi banyak faktor yang harus ia pikirkan. Bukankah terlalu egois jika mementingkan kebahagiaan sendiri, tapi melukai hati banyak orang?
Tak berselang lama mereka sampai di kantor pusat. Pagi itu sudah banyak orang yang berkumpul di perusahaan terbesar di kota tersebut. Ini adalah pertama kalinya Rindu datang ke kantor Ayah mertuanya, ia sungguh gugup.
Begitu memasuki bangunan besar itu, Rindu sudah dihadapkan dengan banyak pasang mata. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, kedatangannya pasti menyita perhatian banyak orang.
Merasa ada yang janggal dengan pandangan beberapa orang, ia bertanya pada Jeff, " Apakah ada yang salah dengar penampilanku? Kenapa mereka melihatku seperti itu?"
"Tidak ada yang aneh dengan penampilanmu. Pandangan mereka tertuju pada kita karena kau melakukan kesalahan. Kita ini pasangan yang baru menikah, seharusnya kau menautkan tanganmu di lenganku. Cepat lakukan sekarang sebelum Mama, Papa melihat bahwa kita berjalan dengan jarak."
__ADS_1
Dengan kaku dan gugup, Rindu melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan tidak tenang. Dengan segala kegugupan dan juga percaya diri yang masih tersisa, Rindu berjalan seanggun-anggunnya di karpet merah. Ia merasa menjadi pasangan yang paling bahagia ketika ditatap dengan senyuman oleh semua orang yang berada di sana.
"Cantik banget istrinya Pak Jeff. Pantesan nggak pernah dibawa ke kantor, ya. Takut digaet sama karyawannya yang jomblo kali, ya. Gila, cantiknya nggak ngotak," bisik beberapa wanita yang Rindu tebak itu adalah karyawan di kantornya Jeff.
Jujur saja, pujiannya yang ia dengar dengan jelas di telinganya bukannya menambah kepercayaan dirinya, justru ia semakin gugup dan salah tingkah. Mungkin saat ini wajahnya sudah sangat memerah.
Beberapa langkah memasuki ruangan yang lebih dalam, lagi-lagi ia mendengar bisikan bahwa Jeff beruntung memiliki istri seperti dirinya. Kali ini bukan para wanita yang membicarakannya, tapi para pria-pria muda yang tak kalah tampan dari Jeff.
Semakin masuk ke dalam semakin ia mendengar banyak pujian. Bukan hanya dengan bisikan, tapi ada beberapa wanita paruh baya yang memujinya terang-terangan bahwa dirinya begitu sempurna untuk ukuran manusia.
Semakin banyak Rindu mendapat pujian dan semakin lama ia berada di ruangan itu nampaknya membawa perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Jika ia awalnya gugup dan salah tingkah mendengar pujian seperti itu, semakin lama berada di ruangan itu ia semakin percaya diri dan membusungkan dadanya seakan menunjukkan bahwa dirinya memang layak untuk dipuji. Ia beberapa kali melirik suaminya, menunjukkan bahwa ia membenarkan kata-kata semua karyawannya yang mengatakan bahwa ia beruntung memiliki istri dirinya.
Sementara itu tak jauh dari tempat berdirinya Rindu dan Jeff, ada seonggok manusia yang sedikit kesal dengan tingkah Rindu yang seakan ia tebar pesona. Apalagi pada beberapa pria yang memujinya secara terang-terangan di depannya. Ingin sekali Jeon memukul mereka satu persatu.
Mata Jeon yang awas masih mengikuti ke mana perginya Rindu yang tiba-tiba meninggalkan suami dan juga rekan-rekan kerjanya. Merasa ada kesempatan untuk berdua, ia tidak mau melewatkan kesempatan itu. Ia mengikuti langkah Rindu yang ternyata membawanya ke toilet.
Jeon dengan setia menunggu Rindu di ujung kamar mandi. Ternyata tidak lama wanita itu berada di sana, hanya sekitar satu menit saja lalu ia kembali keluar.
Jeon bersembunyi di balik dinding, begitu Rindu sudah dekat dengannya, ia dengan segera menarik tangan wanita itu dan membawanya ke sudut ruangan.
"Jeon kamu apa-apaan, sih? Nggak lucu tahu kalau dilihat banyak orang kita ketahuan mojok berdua begini."
__ADS_1
"Nyatanya sekarang nggak ada yang tahu, kan? Senang kamu dipuji banyak orang?" Jeon menghimpit tubuh Rindu dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Rindu was-was dengan apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
"Turunkan tanganmu, Je!"
"Nggak mau."
"Kamu ini mau apa sih, Je?" Rindu bertanya dengan kesal.
"Hari ini dandananmu terlalu cantik dan kamu tidak seharusnya mengepang rambutmu seperti ini. Lehermu jadi kelihatan, Rin."
"Lalu apa masalahnya denganmu? Aku tidak merugikan siapa pun dengan penampilanku yang sekarang. Dan satu lagi, ya Je. Kamu seharusnya menghargai dan menghormati aku sebagai Kakak iparmu. Meskipun aku lebih mudah darimu, seharusnya kamu memanggil aku Mbak bukan nama. Nggak sopan."
"Nggak mau. Aku nggak mau manggil Mbak. Rindu!"
"Mbak!"
"Rindu!"
"Mbak Je, Mbak!"
"Sayang."
__ADS_1
Rindu seketika bungkam. Ia menelan ludahnya dengan kesusahan. Suasana yang sangat hening membuat detak jantung Rindu terdengar dengan jelas. Tanpa sadar ia meraba dadanya bagian atas. Saking keras dan cepatnya detak jantungnya, telapak tangan Rindu sampai bisa merasakannya. Dan mungkin saja Jeon juga mendengarnya. Senyuman nakal di bibir Jeon seakan menunjukkan bahwa ia memang mendengarnya.