
Membutuhkan tiga kali panggilan dari Jeff untuk bisa bicara dengan ibunya. Ia tahu ibunya pasti mencari waktu yang tepat untuk menjawab teleponnya. Seandainya saja ada orang yang bisa diajak bicara selain ibunya, mungkin Jeff akan bicara dengan orang itu. Selama ini ia tidak dekat dengan siapa pun.
"Maaf Jeff, Mama harus mencari tempat yang aman dulu untuk bicara sama kamu. Ada apa? Tumben sekali kamu malam-malam begini nelpon?"
Jeff baru saja akan menjawab pertanyaan ibunya disaat pintu UGD terbuka. Fokus dan perhatiannya teralihkan pada dokter perempuan yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya, bagaimana anak saya? Mereka nggak apa-apa, kan? Mereka selamat, kan?" Jeff bertanya dengan panik, bahkan saking paniknya, ia sampai lupa bahwa sambungan teleponnya masih tersambung pada ibunya.
"Pasien mengalami pendarahan hebat, Pak. Kami harus segera mengeluarkan bayinya, untuk itu kami memerlukan persetujuan Bapak untuk melakukan operasi caesar pada pasien."
"Tapi istri saya kandungannya baru memasuki delapan bulan, Dok."
"Hanya itu pilihan satu-satunya, Pak."
Tidak ada pilihan lain membuat Jeff mengambil keputusan untuk mematuhi apa yang disarankan oleh sang dokter. Tidak ada hal yang lebih penting dari keselamatan keduanya.
Sambungan telepon masih tersambung ketika Jeff sedikit riweh dengan prosedur operasi caesar yang akan dilakukan.
"Halo Jeff, apa yang terjadi? Mama putus dulu sambungan telponnya, ya. Nanti kamu bisa hubungi Mama lagi."
Jeff sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul di teleponnya.
"Maaf aku mengabaikan Mama. Saking paniknya aku sampai lupa kalau aku lagi nelpon Mama."
"Apa yang terjadi, Jeff? Ada apa? Kenapa Mama tadi dengar ada yang pendarahan? Siapa yang pendarahan?"
__ADS_1
"Ratu, Ma. Ratu jatuh di kamar mandi. Tadi udah keluar darah banyak memang, tapi aku nggak nyangka kalau dia harus operasi sekarang. Aku minta doanya, ya Ma. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar, aku nelpon Mama tadi cuma mau minta doa aja. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa. Aku merasa sendirian, Mama boleh nggak anggap Ratu sebagai menantu. Mama boleh benci dia, tapi aku mohon untuk kali ini aja, aku cuman minta keselamatan untuk mereka berdua."
Jeff sebenarnya sungguh butuh teman saat ini, tidak perlu sebagai pemberi solusi. Cukup temani dirinya menunggu tindakan yang diberikan oleh istrinya. Cukup duduk diam dan mendengar ceritanya atau setidaknya hanya memberikan sentuhan atau kalimat penenang yang bisa sedikit mengurangi kekhawatirannya.
"Doa yang terbaik untuk kalian, Jeff. Mama akan berusaha untuk bicara sama Papa, barangkali Papa bisa mengerti untuk kali ini. Kamu bisa kirim pesan untuk lokasi rumah sakitnya. Siapa tahu Mama berhasil bujuk Papa dan besok pagi kita akan ke sana."
"Nggak usah nggak apa-apa, Ma. Aku cuman butuh doa Mama aja. Aku nggak mau kalau Mama malah dimarahin sama Papa atau kalian bertengkar."
"Sudah, serahkan semuanya sama Mama. Kirim lokasinya besok, ya. Ya udah sekarang kamu fokus dulu sama Ratu, yang bisa kamu lakukan saat ini hanya berdoa. Kabari Mama kalau ada apa-apa, ya. Mau itu tengah malam sekalipun kabari Mama."
Jeff merasa sedikit lebih lega setelah mengungkapkan kegelisahannya sedikit pada ibunya. Detik dan menit berjalan begitu lambat saat ini. Entah sudah berapa kali ia menengok jam yang berada di tangan kirinya. Menatap jam dan pintu operasi secara bergantian sejak tadi ia lakukan. Ia merasa operasi yang di jalani istrinya berjalan sangat lambat.
"Astaga, kenapa lama sekali?"
"Dok, bagaimana keadaan anak istri saya, Dok? Mereka selamat, kan?" Pertanyaan itu meluncur seketika ketika pintu operasi terbuka. Pikirannya sangat kacau karena dokter sudah selesai melakukan operasi, tapi tidak terdengar suara tangisan bayi.
***
Rindu masih berjuang dengan usaha untuk menutupi jari jemarinya. Ia sedikit kerepotan sendiri karena jika ia bergerak tidak hati-hati, maka cincin itu akan terlihat dengan mudah.
Jeon tidak mengerti apa yang disembunyikan oleh wanita itu, tapi dari gerak-gerikya sejak tadi ia paham ada yang disembunyikan olehnya. Namun, ia berusaha untuk tidak menanyakan atau mencoba untuk mencari tahu. Karena ia berpikir bahwa, jika Rindu menyembunyikan itu dengan susah payah darinya, itu artinya ia tidak boleh tahu apa yang sedang berusaha ia sembunyikan. Dan ia menghargai itu.
Namun, sepertinya Tuhan berkata lain, Jeon yang baru saja mengambil kopi panasnya tidak sengaja menumpahkannya di tangan Rindu yang di mana jarinya tersemat cincin darinya.
"Astaga, maaf aku nggak sengaja." Jeon mengambil tangan wanita itu, namun dengan cepat Rindu memindahkannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Je. Panas sedikit doang kok, tumpahnya nggak banyak. Udah nggak apa-apa nggak usah khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri. Biar aku kasih air dingin dulu, ya. Aku cuci ke toilet." Rindu lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Ia meniupi punggung tangannya di sepanjang perjalanan menuju kamar mandi. Rasa panas dan sensasi terbakar sudah ia rasakan.
Rindu meringis kesakitan seraya menahan perih ketika tangan yang tersiram air panas itu ia cuci di wastafel. Punggung tangannya itu sudah mulai memerah.
"Lagian Jeon ada-ada aja sih, kopi baru dituangi air mendidih malah diambil," gerutunya seraya meniupi tangannya.
"Aduh gimana caranya gue balik nih? Bakal jadi pertanyaan kalau gue tutupin tangannya dan nanti juga pasti Jeon maksa mau lihat lukanya. Nggak mungkin enggak. Gimana nasib gue ini?"
Rindu tahu dan paham, sebenarnya jika ketahuan oleh pria itu pun ia yakin Jeon tidak mempermasalahkannya. Hanya saja ia sudah mengatakan bahwa cincin itu hilang dan ia juga pernah mengatakan sebuah kalimat yang berisi penolakan untuk hubungan serius. Sepertinya tidak lucu jika ia sudah melakukan hal itu dan tiba-tiba Jeon tahu dia memakai cincin pemberiannya. Itu melukai harga diri Rindu, itu memalukan. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikirannya.
"Emang separah apa sih, Sayang lukanya? Sampai kamu mempertanyakan nasib kamu." Di saat Rindu sedang tenggelam dalam pikiran dan juga cara untuk menyembunyikan apa yang tida boleh diketahui oleh Jeon, pria itu tiba-tiba muncul. Ia dengan segera menyembunyikan kedua tangan ke belakang.
"Ha? Sejak kapan kamu di sini? Bikin kaget aja."
"Coba lihat tangannya."
"Nggak apa-apa kok. Hanya merah sedikit aja, kayak kejepit pintu gitu. Udah aku kasih air dingin, udah nggak panas lagi, nggak apa-apa." Rindu menjawabnya dengan sedikit gugup.
Jeon menatap tajam ke arah wanita itu, lalu di detik berikutnya, ia memajukan kakinya satu langkah ke depan. Hal itu membuat Rindu memundurkan langkahnya. Kaki Rindu terus mundur seiring dengan majunya kaki Jeon.
Hingga beberapa langkah kemudian, kaki Rindu sudah tak bisa ke mana-mana. Tubuhnya sudah menyatu di dinding, dengan susah payah ia menelan ludahnya.
Jeon memajukan kepalanya dan grap.
__ADS_1