
"Udah kamu pulang sana nggak usah ikutin aku terus, aku mau istirahat!" Ratu membentak Jeff saat pria itu terus membuntutinya sepanjang perjalanan menuju apartemen.
Wanita itu baru bersuara setelah sekian lama terdiam selama dalam perjalanan pulang. Ya, sejak keluar dari restoran tadi, Ratu sama sekali tidak membuka mulutnya barang sedikit pun. Selama dalam perjalanan pun, Jeff yang terus mengajaknya bicara sama sekali tidak direspon dengan kata-kata.
"Sayang please, oke kamu boleh marah sama aku. Marahi aku sekarang, tapi kamu jangan diemin aku."
"Terus aku harus apa Jeff? Aku harus apa, aku mau semarah apa pun sama kamu, aku tetap dipermalukan sama Rindu. istri kamu itu udah mempermalukan aku di depan umum. Memang apa yang bisa aku lakukan kalau aku sudah buruk di mata orang? Apa? Lebih baik kamu ajari istrimu itu untuk menjaga sikapnya di depan aku. Jangan temui aku sebelum kamu cerai atau minimal kamu kasih pelajaran dia. Istrimu itu harus minta maaf sama aku! Datang padaku jika kamu sudah berhasil melakukannya."
Ratu berjalan beberapa langkah dan masuk ke dalam apartemennya. Lagi-lagi Jeff hanya bisa diam seraya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Entah untuk ke berapa kalinya, Rindu membuat ulah dan membuatnya murka. Padahal baru dua hari mereka menikah. Ia tak tahu apa akan yang terjadi jika ia tidak segera ambil tindakan untuk mengakhiri pernikahannya.
Dengan kasar Jeff memutar tubuhnya dan berlalu dari sana. ia berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Ia tak sabar ingin segera sampai rumah dan melampiaskan sesak di dadanya.
Apakah Jeff lupa bahwa Rindu ia tinggal di restoran?
***
"Sudah seharusnya aku tidak berharap kalau aku akan ditunggu oleh suamiku sendiri. Baiklah tak apa, aku bisa pulang sendiri." Rindu merogoh tas kecilnya dan mengambil benda persegi yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Saat sedang asyik mengetikkan sesuatu di benda berharganya, tiba-tiba ada yang memanggilnya dan terlihatlah kaki seseorang yang terbungkus dengan sepatunya. Ia pun mendongak.
"Jeon, kamu ada di sini? Sendirian aja?"
"Iya, tadi Mama ngirim pesan ke aku buat beli stok obat di apotek depan sana. Nggak sengaja lihat Mbak di sini. Mbak sama siapa? Nunggu seseorang?"
"Nggak, aku tadi mau pulang. Habis ketemu sama teman."
Rindu menutupi apa yang terjadi, tak mungkin ia ceritakan apa yang ia alami barusan pada adik iparnya.
"Kenapa nggak bawa mobil? Kan ada mobil di rumah, ada supir juga."
Belum sempat Rindu menjawab, perhatian Jeon sudah teralihkan pada pergelangan tangan Rindu yang memarnya belum sepenuhnya hilang.
__ADS_1
"Itu tangan Mbak kenapa?"
"Ini?" Rindu menunjukkan memarnya. "Ini tadi aku kejepit pintu kamar. Tapi nggak apa-apa udah aku kasih obat tadi."
"Mana ada kejepit pintu bentuknya begini? Lagipula terkadang yang terjepit pintu itu jari, bukan pergelangan tangan."
Rindu sedikit celingukan, ia bingung hendak menjawab apa. Sementara Jeon melihat gelagat aneh dari Kakak iparnya. Jeon adalah salah satu pria yang cukup peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Selain itu, ia juga memiliki sifat yang perhatian terhadap semua orang. Meskipun orang itu baru dikenalnya beberapa hari atau bahkan tidak dikenalnya sekali pun. Sifat Jeon yang lembut, perhatian, dan sabar sangat cocok dengan profesinya yang sebentar lagi akan menjadi dokter.
"Udah, ya Je. Nggak usah dibahas, nggak apa-apa kok, lagi pula ini cuman memar sedikit aja. Berapa hari lagi juga sembuh."
"Oke. Dikasih saleb yang rutin, ya. Biar cepat samar. Udah nggak ada acara lagi, kan? Mau pulang bareng aja?"
"Motor kamu besar, aku pakai dress."
Tanpa banyak ucapan lagi, Jeon melepas jaketnya dan memberikannya pada Rindu.
"Mbak bisa pakai ini buat nutup. Jangan banyak mikir, Mbak. Ini langitnya udah gelap, takut turun hujan."
"Ya udah."
***
Jeff sampai di rumah dengan membawa kemurkaan yang sudah ia kumpulkan sejak di jalan. Keinginan untuk segera sampai di kamar harus terhalang oleh ibunya yang berseliweran di lantai bawah.
"Kok pulang sendirian? Rindu mana?"
"Rindu belum sampai rumah?"
"Lah, kamu gimana sih? Perginya, kan sama kamu."
"Iya, tapi tadi aku pas di sana sempat aku tinggal sebentar dan pas aku balik dia nggak ada, ya aku pikir dia pulang."
__ADS_1
"Kamu itu gimana sih, Jeff? Udah tua masa nggak bisa mikir? Lagian kenapa kamu tinggal dia? Emang kamu tinggal ke mana?"
"Alah, Ma. Rindu udah gede, bukan anak kecil. Dia bisa pulang naik taksi, naik ojek, kenapa respon Mama berlebihan begitu?"
Bu Merlin kesal, beliau hendak pergi dari hadapan anaknya, namun langkahnya terhenti karena Rindu memasuki ruang tamu yang kemudian disusul oleh Jeon.
"Rin kamu dari mana kok pulangnya nggak bareng sama Jeff?"
Hening.
Semua orang menunggu jawaban dari Rindu. Sementara yang ditunggu sedang menggigit bibir bawahnya karena bingung hendak berucap apa.
Nggak bareng Jeff? Bukannya tadi Rindu bilang habis ketemu teman?
"Ditanya sama Mama diem aja. Jawab!" Jeff seperti mendapatkan angin segar. Ia seakan ada kesempatan untuk memojokkan Rindu meski di sini ia yang salah.
"Tadi aku bilang ke kamu untuk tunggu sebentar di restoran. Aku ada urusan sebentar sama temen. Nggak lama, tapi kamu malah nggak ada pas aku balik. Terus kamu pulang sama Jeon? Habis jalan berdua kalian?"
"Tunggu, Kak. Aku ketemu sama Mbak Rindu nggak sengaja." Jeon beralih mentap ibunya yang masih diam mencetak wajah bingung.
"Ma, Mama suruh aku beli stok obat, kan? Aku tadi ketemu Mbak Rindu di restoran depan apotek langganan kita. Aku tadi lihat dia berdiri sendirian di halaman resto, makanya aku samperin dan aku ajak pulang bareng. Lagian tadi Mbak Rindu bilang, dia nggak sama Kak Jeff. Dia habis ketemu sama temennya. Dan untuk Kak Jeff. Aku langsung pulang, ya. Nggak ngajak Mbak Rindu ke mana-mana. Lagian kalau Kakak kembali ke resto harusnya antara perjalanan pulang Kakak sama aku, itu duluan aku. Ini Kakak yang sampai duluan, kan?"
"Ya, kamu ngajak jalan dulu Kakak iparmu ini, makanya aku sampai duluan."
"Kakak ninggalin Mbak Rindu jam berapa? Kakak balik ke restoran jam berapa, sampai aku sempat mengajak jalan-jalan Mbak Rindu? Lagian aku baru tahu, ada suami yang ninggalin istrinya demi teman. Kalau ada urusan sama teman, kenapa nggak diajak istrinya?"
"Sejak kapan kamu ngurusin hidup orang?"
"Sudah cukup! Jeon, taruh obat itu di kotak obat dan kamu ke kamar sekarang." Tanpa berucap dua kali, Jeon langsung pergi dari sana.
"Dan untuk kalian berdua, sebenarnya ini masalah yang tidak terlalu besar. Mama tadi cuman nanya kenapa kalian pulang terpisah sedangkan kalian berangkat bersama. Tapi semua menjadi besar karena Mama mendengar keterangan dari Jeon dan..."
__ADS_1
"Ma, udahlah yang penting kita semua udah pulang. Nggak usah dibesarkan."
"Bukan bermaksud membesarkan, semua harus transparan. Apa lagi kamu Jeff."