
"Iya maaf, maaf. Aku nggak bermaksud begitu. Aduh, Rin ini sakit. Jangan dipukul."
Rindu berhenti memukuli Jeon setelah pria itu mengaduh seraya memegangi lengan yang di mana tangannya di sangga oleh gendongan. Bahkan ia baru sadar jika tangan Jeon di gendong dengan sebuah kain. Wanita itu dengan kasar mendudukkan dirinya di ranjang pasien, lebih tepatnya di samping kaki Jeon. Wajahnya masih menunjuk rasa kesal yang tertahan.
Jeon meraih tangan Rindu dan ia bawa ke dalam pangkuannya. Tidak ada yang tahu betapa bahagianya ia hari ini. Melihat Rindu yang datang dengan panik dan tergesa-gesa, bahkan belum sempat mengganti pakaiannya membuat ia merasa bahwa Rindu juga punya cinta yang sama seperti dirinya.
"Lain kali jangan begini, kamu mainin perasaan aku namanya. Kamu nggak tahu bagaimana perasaan aku ketika mendengar kamu kecelakaan. Aku hampir kecelakaan juga karena datang ke sini dengan kecepatan tinggi." Rindu kembali menjatuhkan air matanya.
"Iya, maaf. Nggak aku ulangi lagi. Sekarang udah tahu keadaan aku, ya udah jangan nangis. Aku akan sembuh beberapa hari lagi. Yang patah tanganku, bukan hatiku. Sakit ini nggak ada apa-apanya dibandingkan aku harus melihat kamu mengeluarkan air mata kesedihan buat aku. Maaf." Jeon mengusap pipi Rindu yang basah. Lalu kembali meraih tangan mungil wanita itu dan mengecupnya.
"Kamu kecelakaan pulang dari cafe?"
Jeon hanya mengangguk.
"Itu namanya karma karena kamu ninggalin aku sendirian di sana. Semarah-marahnya kamu sama aku, kamu nggak boleh ninggalin aku kayak gitu. Coba kalau terjadi apa-apa sama aku, pasti kamu akan lebih sakit daripada ini."
"Iya aku salah lagi. Aku minta maaf. Sini deketan." Jeon meminta Rindu sedikit maju agar lebih dekat dengannya.
"Mau apa?" Meskipun Rindu bertanya dengan sedikit sinis, ia tetap melakukan apa yang diminta Jeon.
Pria itu meraih tengkuk Rindu dan membawanya maju agar lebih dekat dengan kepalanya. Mata keduanya terpejam dan keduanya saling memiringkan kepala. Dan di detik berikutnya,
"Maaf, sepertinya saya datang di waktu yang salah." Suster tadi kembali datang dengan membawa nampan berisi makanan.
Rindu seketika memundurkan tubuhnya dan sedikit salah tingkah sekaligus malu dengan apa yang baru sama mereka pertontonkan.
"Hei kau, tidak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk? Ada apa lagi kau ke sini?"
__ADS_1
"Saya hanya ingin mengantar ini. Tadi terbawa lagi sama saya. Silakan lanjutkan apa yang akan kalian lakukan." Suster itu meletakkan nampan di meja dan kembali keluar dengan tergesa-gesa.
"Kamu kenal sama dia? Kok kayak akrab? Maksudnya kalian terlihat bukan seperti pasien dan Suster," sahut Rindu yang menatap pria yang justru menatap pintu ruangan.
"Ya kamu lihat kita kayak apa kalau bukan kayak pasien sama susternya?"
"Suster tidak akan memperlakukan pasiennya seperti itu kalau mereka nggak kenal. Kamu kenal sama dia? Dia siapa? Mantan kamu?"
Mendengar perkataan Rindu, refleks membuat Jeon tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ngomong apa sih, ya enggaklah. Jadi dari kemarin itu yang nanganin aku tuh dia. Pas yang rawat luka di tangan aku, aku kebanyakan ngeluh, kebanyakan protes, karena dia melakukannya dengan kasar. Mungkin dia kesal dengan omelan-omelan aku makanya dia kayak gitu. Kalau suster semua kayak gitu, mungkin semua pasien akan cepat sembuh karena tidak tahan mendengar omelannya."
Rindu hanya menatap datar Jeon yang menceritakan tentang suster itu dengan senyum dan tawa yang biasanya hanya untuknya.
"Kenapa kamu lihatnya kayak gitu? Cemburu, ya?" goda Jeon. " Ya nggak apa-apa sih, kalau kamu cemburu. Itu artinya kamu sayang sama aku. Ngomong-ngomong, ucapan kamu tadi serius apa kamu hanya panik karena melihat aku yang terkapar."
"Menikah."
"Kamu berpikir aku serius mengatakannya?"
Rindu menampakan ekspresi wajah yang Jujur saja membuat Jeon berpikir bahwa apa yang dikatakan Rindu tadi hanyalah sebagai ungkapan atas kepanikannya saja.
"Oh mungkin aku terlalu jauh berharap. Baiklah lupakan saja!"
Rindu lalu mengambil makanan untuk Jeon dan menyuapi laki-laki itu dengan telaten. Tak ada percakapan selama Joen makan. Ia makan dengan memerhatikan Rindu dengan tatapan dalam dan penuh cinta, sementara Rindu fokus dengan makanan di tangannya. Melihat nasi di dalam piring ia jadi ingat bahwa ia juga belum makan sejak tadi siang.
Perut Rindu tiba-tiba berbunyi begitu keras ketika nasi yang berada di piring rumah sakit itu sudah habis tidak bersisa.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang kalau kamu belum makan? Kalau gitu kita ke kantin sekarang. Aku temani kamu makan di sana."
"Nggak usah, nanti aku makan di rumah aja."
"Kamu mau pulang? Kamu baru saja sampai, Rin. Nggak apa-apa, ayo kita ke kantin. Aku juga bosan di sini. Aku kuat kalau cuman ke kantin aja. Yang sakit tanganku, bukan kakiku, badanku juga masih sehat."
Jeon sedikit menjadi pusat perhatian beberapa orang ketika duduk berdua dengan Rindu. Pasalnya pria itu adalah satu-satunya manusia yang memakai pakaian pasien dan datang ke kantin.
"Jangan cepat-cepat makannya."
"Kamu nggak lihat beberapa orang lihatin kita karena kamu temenin aku makan? Kamu lagi sakit, malah nemenin yang sehat makan. Mungkin ada dalam pikiran mereka begitu, makanya aku cepet-cepet."
Dalam keadaan apa pun, Rindu selalu nampak terlihat cantik. Bahkan di saat dirinya belum tersentuh air, kecantikannya tak pudar. Beberapa bagian wajahnya juga mulai dipenuhi dengan air peluh yang mulai bermunculan.
Selesai makan, mereka menyempatkan diri untuk bertandang ke taman rumah sakit. Menatap hamparan luas langit yang seakan tak bertepi dan dihiasi dengan bulan bintang adalah pilihan yang tepat sebelum mengarungi mimpi indah yang panjang.
Di bawah lampu taman, Rindu seakan menunjukkan pada dunia bahwa Jeon adalah miliknya. Mereka memadu kasih dengan cara mereka. Kepala Rindu yang ia sandarkan pada bahu lebar Jeon dan tangan laki-laki itu membelai lembut rambut pendek Rindu bisa saja membuat iri siapa pun yang melihatnya.
"Aku ingin kita seperti ini terus. Rasanya hatiku damai ketika kita seperti ini. Mungkin orang lain akan berpikir bahwa aku sama sekali tidak memiliki masalah."
"Jadilah suamiku secepatnya jika kamu merasa damai kita seperti ini. Kita bisa melakukannya setiap hari, setiap detik, setiap menit, dan setiap saat."
"Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu mau menikah denganku segera? Aku tidak salah dengar?"
"Syaratku masih sama. Aku mohon bicaralah sekali saja. Dengarkan apa yang dia katakan, setelahnya aku akan bebaskan kamu memilih jalan yang mana. Aku akan mendukungmu. Lakukan ini untukku. Wanita yang katamu kamu cintai." Rindu mendongak menatap wajah Jeon yang begitu dekat dengannya. Nafas mereka bahkan saling bertabrakan.
Bukannya memikirkan jawaban atau keinginan wanita itu, Jeon justru membuat kepalanya maju untuk melanjutkan yang tadi tertunda saat berada di dalam ruangan.
__ADS_1