
Wanita yang kini menyandang status janda itu sudah menjadi wanita karir. Niat yang semula ingin menjadi bagian dari perusahaan sang Ayah ia urungkan karena di tengah perjalanan ia ingin mencoba sesuatu yang baru. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya mencari uang dengan jerih payah sendiri tanpa adanya campur tangan orang tua. Dan akhirnya setelah resmi bercerai dengan Jeff, ia manaruh lamaran ke banyak perusahaan. Dan akhirnya, setelah dua bulan penantian, ia diterima di salah satu perusahaan besar dan cukup ternama. Ia langsung diterima sebagai sekretaris di sana.
Penampilan Rindu kini sangat berbeda. Jika dahulu ia lebih menyukai penampilan yang bersifat lucu, imut, dan menunjukkan bahwa ia masih belum terlalu dewasa, kini yang terjadi justru sebaliknya. Meskipun ia merubah penampilannya, kecantikan yang ia miliki tidak luntur karena penambahan angka pada usianya.
Rindu cukup beruntung dalam urusan pekerjaan. Ia mendapat jabatan yang cukup tinggi, bos yang baik lagi tampan, dan teman-teman yang baik. Sungguh Rindu bersyukur dengan semua itu.
[Makan siang bareng, yuk!]
Rindu mengulum senyum ketika mendapat pesan dari Jeon. Sudah lama pria itu tak bertukar kabar atau bersua dengannya.
[Baik, Pak Dokter. Aku tunggu di kantor]
[Keluar sekarang!]
Rindu mengernyit membaca pesan terakhir dari Jeon. Ia baru saja mengirim pesan untuk mengajak makan siang bersama. Bagaimana mungkin ia sudah sampai begitu cepat?
"Rin dicari pacar lo tuh!"
Rindu yang sedang minum teh hangatnya seketika tersedak.
"Cie yang yang udah punya pacar. Traktirannya kali, biar langgeng."
"Iya gue traktir, minum di sini sepuasnya, gratis." Rindu melipir dari pantry setelah mengatakan itu. Kepergian Rindu diantar dengan suara cibiran dari mulut temannya.
Suara hells Rindu terasa memecah keheningan. Suaranya begitu menggema di tengah debaran jantung yang tiba-tiba menalu dengan kencangnya.
Begitu sampai teras kantor, ia celingukan ke sana kemari hingga ia temukan sebuah mobil yang asing, tapi entah kenapa ia memusatkan perhatian pada kendaraan tersebut.
Ya, Rindu dan Jeon terakhir kali bertemu sudah beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya kecupan kening di malam itu adalah kecupan kening pertama dan tak ada lagi pertemuan mereka setelah itu. Berkomunikasi melalui telepon pun sangat jarang mereka lakukan karena mereka fokus dengan masa depan yang akan membawa mereka ke dalam kehidupan di masa yang akan datang.
Lama Rindu memperhatikan mobil tersebut hingga pintu bagian kemudi itu terbuka dari dalam. Ia seketika meraba dadanya, jika saja jantungnya bisa lepas dari tempatnya, mungkin saja Rindu sudah tiada karena jantungnya yang sudah melompat dari tempatnya.
__ADS_1
Jeon yang sudah melihat keberadaan Rindu yang tak jauh darinya hanya mematung seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Tubuhnya ia sandarkan pada mobilnya. Ia sengaja diam agar Rindu yang datang padanya. Namun, wanita itu justru melakukan hal yang sama dengannya.
"Kayaknya dia pangling sama aku, aku telpon aja." Jeon mengambil ponsel dan menekan-nekan layarnya.
Rindu terperanjat ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Kamu ngapain berdiri di situ lama-lama? Buruan ke sini!"
"Ha? I-iya. Aku ke sana."
Rindu menelan ludahnya kasar. Ia berjalan dengan seanggun dan setenang mungkin. Ia tak mau terlihat gugup di depan Jeon. Meskipun ia tidak tahu apa yang membuatnya gugup.
Jeon melengkungkan bibirnya nakal dan seakan menggoda ketika Rindu sampai di depannya. Hal itu membuat kegugupan Rindu jadi semakin bertambah.
"Apa sih? Ada yang salah sama penampilan aku?" Rindu menundukkan kepala lihat pakaiannya.
"Nggak pernah ketemu kamu membuat aku tergoda. Kamu cocok banget pakai baju kantoran begini. Lebih cocok lagi kalau menjadi istri seorang dokter."
"Kita mau makan siang atau mau adu gombal? Kamu selalu melakukan itu setiap kali kirim pesan ke aku, belum puas juga?"
"Nggak gombal, orang aku cuman bilang kalau kamu sudah pantas dan cocok untuk menjadi seorang istri. Ya udah ngapain masih berdiri di sini? Masuk mobil sana, mau aku bukain pintunya? Mau aku bantu masuk sekalian?"
Jeon hanya tertawa dengan reaksi Rindu yang hanya diam dan cepat-cepat berjalan menuju kursi penumpang bagian depan. Bagi Jeon, Rindu tetaplah Rindu yang bertingkah seperti anak kecil saat dengannya.
"Udah lama banget, ya kita nggak ketemu. Kangen nggak sih kamu sama aku?" Jeon bertanya bersamaan dengan ia melajukan mobilnya.
"Kita emang udah nggak lama ketemu tapi, kan kita nggak lost contact. Kita masih sering chattingan, kan? Apa yang membuat kangen?"
"Emang iya kita chattingan, tapi, kan sebulan belum sekali doang. Itu pun aku duluan yang ngasih kabar. Kalau dipikir-pikir bener juga apa kata orang, perempuan itu ribet."
"Bisa ngobrol hal yang lebih berbobot daripada ini?"
__ADS_1
"Bisa banget, tapi nanti, ya kalau udah sampai di resto."
Ucapan Jeon membuat Rindu seketika meremang. Perasaannya mendadak tak enak. Dan keheningan terjadi setelah itu, perjalanan yang terasa lama itu akhirnya membawa mereka sampai ke restoran yang bernuansa anak muda. Banyak spot foto dan view yang cukup bagus untuk merefresh kepala yang penuh dengan persoalan hidup.
Selama menunggu makanan datang, Jeon sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari wanita di sampingnya. Sesuai dengan namanya, wanita yang pernah menjadi Kakak iparnya itu terlalu mudah untuk membuat seseorang merindukannya.
"Je, katakan padaku apakah kamu selama menjadi dokter selalu menggoda pasien mu?"
"Gimana caraku godain mereka kalau mereka sudah bersuami? Lagi pula kenapa kamu bilang kayak gitu?"
"Kamu dari tadi tuh lihatin aku terus."
"Apakah itu termasuk menggoda? Bagaimana dengan ini?" Jeon mengangkat tangannya dan memberikan elusan lembut di pipi wanita itu.
Jeon sengaja memilih ruangan berdinding kaca gelap yang isinya hanya beberapa pasang muda-mudi. Hal ini bertujuan untuk agar saat ia bermesraan dengan wanita itu hanya beberapa orang yang melihatnya.
Rindu sedikit gelagapan, hal itu terlihat dari arah pandang Rindu yang mengalihkan pandangannya dari Jeon.
"Jeon, ini di tempat umum."
"Kamu masih aja sama." Jeon menurunkan tangannya dari pipi wanita itu.
Tak berselang lama, makanan mereka datang. Setelah obrolan yang cukup singkat itu, akhirnya mereka menikmati makan siang dengan nikmat.
Saat makanan di depan Rindu tinggal beberapa suap, datanglah hidangan yang terakhir. Rindu melipat keningnya, ia merasa semua pesanan sudah tersaji di atas meja, tapi kenapa ada hidangan lagi?
Rindu menoleh pada Jeon, ia seakan melempar pertanyaan mengenai hidangan yang baru saja datang.
"Buka aja, isinya dessert doang kok."
Rindu lalu membuka sebuah penutup yang berukuran kecil dan begitu penutup itu terangkat Rindu menatap Jeon seakan meminta penjelasan.
__ADS_1