
"Jeon, aku tidak tahu apa salahku padamu. Aku merasa, aku tidak pernah ikut campur urusanmu terlalu jauh dan kau, lihat dirimu! Kalau hanya orang lain bagiku. Kenapa tindakanmu seolah-olah kau ini yang membesarkanku dan membiayai hidupku. Apakah kau juga ikut dirugikan dalam masalah ini?"
"Aku tidak dirugikan, tapi kau merugikan orang yang aku cintai. Kau tahu siapa orang yang aku cintai? Istrimu! Aku akui aku mencintai istrimu. Seandainya saja ada yang bisa aku lakukan untuk merebut istrimu, tanpa menunggu waktu satu menit pun aku sudah akan merebut dia darimu. Kau tahu apa yang membuat aku tidak bisa melakukan apa pun? Dia bertahan dengan pernikahan ini karena menghargai dan menjaga perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya dan juga di sekitarmu."
"Sudah? Aku rasa pembicaraan ini sangat tidak penting, Je. Jika kau ingin mengambil wanita itu dari ku, ambil saja! Kau tidak perlu mencampuri urusanku terlalu jauh seperti ini. Bicara denganmu memang membuang-buang waktuku saja!" Jeff menggelap sudut bibirnya yang berdarah lalu pergi begitu saja meninggalkan Jeon yang masih dengan kemurkaannya.
Jeon kesal dengan keacuhan Jeff terhadap Rindu. Ia berpikir bagaimana jika Rindu tahu hal ini? Hati wanita yang rapuh itu pasti akan menjadi kepingan yang entah bagaimana cara menyatukannya kembali.
Dalam amarahnya sempat terpikir jika ingin sekali rasanya ia memberitahu kedua orang tuanya. Tapi di sisi lain ia juga takut jika malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang menimpa mereka. Biar bagaimanapun, hal ini adalah hal besar yang tentu saja akan membuat guncangan bagi mental para orang tua.
Langit yang sejak tadi mendung kini mulai menjatuh bulir air. Jeon bergegas pergi dari sana setelah mengirim pesan pada Rindu dan wanita itu sudah membalasnya. Ia sedikit lega jika wanita itu sudah bisa dihubungi, setidaknya dengan aktifnya ponselnya itu ia bisa pulang dengan atau tanpa menunggu Jeff.
Padahal kenyataannya, wanita itu sedang sibuk menghubungi suaminya. Hujan sudah mulai menampakkan bulir yang semakin besar dan perlahan deras. Rindu masih berada di posisi semula, di pedagang kali lima yang masih ramai dengan para pengunjung.
Mas Jeff ngapain sih? Dari tadi ditelpon nggak diangkat. Bakal jadi pertanyaan orang rumah kalau aku pulang sendirian.
__ADS_1
Rindu bergumam dalam hati seraya terus menghubungi suaminya. Intensitas hujan sudah mulai deras dan suaminya masih belum mau mengangkat telepon darinya. Hari mulai gelap dan hawa dingin menyelinap masuk ke tulang. Momen ini mengingatkannya pada saat ia dan Jeff bulan madu ke Bali. Ah bukan bukan madu, lebih tepatnya menemani suaminya dan Ratu memadu kasih, sementara ia menikmati liburan sendiri.
[Mas, aku pulang duluan, ya. Nanti akan aku jelaskan ke orang rumah kalau ban mobil kamu bocor dan kamu minta aku pulang duluan. Aku harap kamu segera baca pesan aku, biar nanti pas ditanya sama orang rumah jawaban kita sama]
Rindu memesan taksi online setelah itu. Bukannya tak sabar menunggu suaminya, tapi ia takut jika kejadian saat di Bali terulang kembali.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja taksi yang ia pesan sudah berada di depannya. Dengan berlari kecil, wanita itu masuk taksi dengan berpayung tas kecil yang sejak tadi tak lepas dari pundaknya.
Beberapa meter berjalan tiba-tiba mobil yang ia tumpangi terasa tidak enak untuk dikendarai. Di bawah hujan yang deras dan petir mulai menyambar ringan supir taksi itu terpaksa turun untuk melihat apakah ada yang salah dengan mobilnya.
"Mbak ban mobilnya bocor, saya oper ke teman saya nggak apa-apa, ya. Biar saya hubungi teman saya."
[Ban taksinya bocor, Mas. Bisa jemput aku sekarang aja nggak?]
[Share lok]
__ADS_1
Rindu lalu mengirimkan posisinya saat ini dan mengatakan pada supir taksi bahwa dirinya akan dijemput oleh suaminya. Merasa tidak enak berduaan di dalam satu tempat, wanita itu memutuskan untuk keluar mobil dan berteduh di halte tak jauh dari tempatnya berhenti sekarang.
Rindu menunggu dengan tenang dan sedikit kedinginan. Hari baru saja gelap, namun hujan yang cukup deras membuat beberapa orang malas untuk keluar rumah dan akhirnya jalanan sedikit longgar dari kendaraan yang berlalu lalang.
Rindu menghabiskan waktu dengan bermain ponsel untuk mengusir kejenuhan menunggu suaminya sampai. Saking fokusnya pada ponsel, ia tidak sadar bahwa ada dua orang preman yang sedang mengintai dirinya. Kedua pria yang berbadan besar dan muka sangar itu berboncengan menaiki sebuah motor. Mereka nampak sedang mengambil ancang-ancang untuk mengambil apa yang dibawa oleh Rindu.
Seperti seseorang yang sudah berpengalaman, kedua pria itu hanya perlu sekali gerakan untuk mengambil ponsel wanita itu. Dengan hanya berkedok bertanya alamat, ponsel dan tas Rindu raib dibawa keduanya.
Rindu refleks berteriak dan mengejar mengejar preman yang menaiki motor itu. Karena ia tidak melihat keadaan sekelilingnya, terlihat mobil dari arah belakang yang melaju cukup kencang. Dan akhirnya kecelakaan pun tidak bisa dihindari. Rindu terserempet mobil tersebut dan terjatuh hingga kepalanya membentur trotoar. Wanita itu seketika tidak sadarkan diri dengan kepala yang sudah berlumuran dengan darah bercampur air hujan.
Untunglah tak lama setelah kecelakaan itu, Jeff sampai di halte tempat Rindu semula. Ia melihat halte yang tak besar itu kosong, tak ada satu pun orang yang berada di sana. Ia hendak mengambil ponsel di saku untuk kembali menghubungi Rindu, namun di saat bersamaan, ia melihat seseorang yang sedang tergeletak di pinggir jalan. Jeff rela menyipitkan mata demi melihat siapa orang itu.
"Bajunya kok kayak baju Rindu?" Jeff dengan perlahan memajukan mobilnya.
Pria itu melompat keluar mobil begitu mengetahui dugaannya benar. Ia tidak peduli dengan dinginnya malam ditambah air hujan yang turun dengan deras.
__ADS_1
"Astaga Rindu, Rin bangun, Rin." Jeff tanpa sadar merasa panik sendiri. Ia bergegas membawa istrinya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit dengan cepat. Ia tak sadar bahwa istrinya itu kehilangan tasnya.
Jeff membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan jalanan yang cukup licin dan pasti berbahaya mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi saat hujan seperti ini. Ia sesekali membagi fokusnya dengan jalanan dan Rindu yang terpejam tak sadarkan diri dengan darah yang melekat di keningnya.