Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
67. Sebuah Gambaran


__ADS_3

Jeon akhirnya menghabiskan malam itu dengan terjaga. Ia sedang memikirkan apakah harus ia menemui ibunya? Di tengah malam yang terasa sunyi dan pikirannya yang sedang kalut, ia mendengar suara tangisan yang tak jauh dari ruangannya. Tangisan yang terdengar memilukan itu membuatnya beranjak untuk keluar ruangan.


Jeon melihat seorang pria yang mungkin saja usianya terpaut lima tahun dengannya. Ia sedang meringkuk memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Pundaknya bergetar seiring suara tangisnya yang terdengar menyayat.


Entah atas dorongan siapa, Jeon membawa kakinya ke arah di mana pria itu duduk seorang diri. Ia berjongkok dan menyentuh pundak pria itu dengan pelan. Terlihat wajahnya yang begitu basah, matanya yang memerah dan sembab, serta wajah yang berantakan ketika kepala itu mendongak. Pemandangan itu membuat Jeon menelan salivanya dengan kasar karena merasa iba.


"Apa yang membuatmu menangis seperti itu?"


"Memangnya apa lagi? Apa lagi yang lebih menyakitkan selain kehilangan seseorang?"


"Kau kehilangan seseorang? Orang yang paling dekat denganmu meninggalkanmu? Semua akan baik-baik saja sering berjalannya waktu. Kau pasti bisa melewati hari ini dengan baik." Tangan jeon masih tersampir di pundak pria itu. Ia memberikan elusan pelan berharap agar ia lebih tenang. Entah ke mana perginya sanak saudara yang lainnya, kenapa anak muda ini dibiarkan seorang diri di rumah sakit menjaga keluarganya yang sakit.


"Ke mana keluargamu yang lain? Kenapa kau sendirian di sini?"


"Aku tidak punya keluarga selain Ibu, tapi sekarang Ibu meninggalkanku. Aku sendirian."


"Nggak mungkin kau hanya punya ibumu."


"Apa pentingnya aku menjelaskan silsilah keluargaku? Kau siapa? Tinggalkan aku sendirian!"


"Ayo ikut denganku, kita masih punya waktu untuk bicara sebelum ibumu dibawa pulang. Kau harus membagi bebanmu, setidaknya untuk hari ini saja. Jadikan aku temanmu."

__ADS_1


Membayangkan pemuda itu hidup sebatang kara membuat ia teringat kehidupannya sendiri. Membayangkan jika kala itu kedua orang tuanya tidak mengasuhnya, bisa saja nasibnya lebih tragis dari pemuda itu.


Pemuda itu hanya menatap Jeon dalam-dalam. Tak ada kata yang ia keluarkan, hingga akhirnya ia beranjak dari duduknya dan membantu Jeon membawa tiang selang infusnya.


"Kau mau bawa aku ke mana?"


"Kita ke ruang rawat ku. Di sana ada banyak makanan. Kau bisa makan jika ingin. Meskipun aku tahu kau pasti nggak akan bisa menelan apa pun, tapi setidaknya kau bisa membasahi tenggorokanmu di sana."


"Kau sendirian?"


Hanya terdengar suara langkah kaki keduanya setelah pertanyaan dari pemuda itu dijawab Jeon dengan anggukan kepala.


"Kau bisa makan ini jika kau mau." Jeon mengambilkan beberapa makanan berupa snack dan buah yang diberikan ibunya. "Siapa namamu?" Pertanyan itu muncul ketika ia sudah duduk di samping pemuda kurus itu.


"Panggil aku Jeon. Aku mendengarkan tangisanmu dari sini tadi, makanya aku keluar dan aku menemukanmu yang sedang meringkuk di lantai. Aku datang karena yang kau lakukan tadi tidak baik untuk kesehatanmu. Apa kau mau menceritakan sesuatu? Bagaimana kau bisa sebatang kara? Ke mana ayahmu?"


Bima hanya menghembuskan nafas berat seraya membawa pandangannya ke lantai berwarna putih itu. Ia hening untuk beberapa saat.


"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku jika kau tidak bersedia untuk menjawab. Tapi ceritalah sedikit agar kau bisa tenang. Bukankah besok kau harus mengantar ibumu? Kau harus tetap sehat, kan? Untuk tetap sehat kau harus membagi pikiranmu sedikit pada orang lain. Ini adalah pertemuan kita yang pertama dan terakhir. Kau tidak perlu khawatir untuk menceritakan sesuatu padaku, tidak perlu malu juga. Mungkin setelah ini cerita itu pasti akan menguap begitu saja."


"Jika kau tahu masa laluku, pasti kau tidak akan bicara seperti itu. Mungkin kau akan mengusirku saat ini juga."

__ADS_1


"Masalahmu tidak ada hubungannya denganku. berbagilah sedikit saja."


Bima lalu mulai menceritakan masa lalunya yang sedikit merepotkan ibunya. Bima adalah anak tunggal dari pasangan sederhana. Ayahnya sudah meninggalkannya ketika ia masih anak-anak. Ia tumbuh menjadi seperti sekarang di bawah asuhan ibunya. Orang tuanya satu-satunya itu harus bekerja membanting tulang, bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi apa pun yang ia minta.


Karena ibunya yang sibuk bekerja itulah ia menjadi kurang perhatian, ditambah lagi ia selama sekolah memilih teman yang salah. Dan hingga akhirnya ia terjun ke pergaulan yang salah dan menjadi anak yang cukup nakal.


"Aku selalu menuntut Ibu ini dan itu, meminta apa pun yang sebenarnya Ibu nggak mampu untuk kasih ke aku. Tapi Ibu memaksakan diri untuk memberikan apa yang aku mau. Karena setiap kali Ibu mengatakan tidak punya uang atau tidak mengabulkan keinginanku aku pasti membuat ulah. Hingga akhirnya Ibu jatuh sakit. Aku nggak tahu kalau ibu sakit, aku tahunya udah parah. Ibu baru dua hari di sini lalu pergi meninggalkan aku tanpa memberikan kesempatan untukku setidaknya mengucapkan kalimat maaf. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku menyesal sedalam apa pun tidak akan mengembalikan Ibu. Aku minta maaf sebanyak apa pun Ibu tidak mendengarnya. Aku sangat menyesal telah membuat ibu menderita, seharusnya aku jaga dia, aku yang rawat dia, tapi yang aku lakukan justru sebaliknya." Bima yang semula sedikit tentang kembali sesenggukan.


Membicarakan soal penyesalan, Jeon jadi teringat kata-kata Rindu beberapa jam yang lalu. Wanita itu tidak ingin bahwa ia menyesali sesuatu. Apakah Tuhan sekarang sedang menunjukkan gambaran penyesalan seseorang?


Jeon menggelengkan kepalanya pelan ketika ia membayangkan bahwa ia berada di posisi yang sama dengan Bima. Kasus mereka memang tidak sama, tapi perbedaannya juga tidak terlalu jauh. Apa pun kasusnya, penyesalan tetaplah menyakitkan.


Tangan Jeon kembali terangkat untuk mengelus pelan punggung Bima. Penyesalan pemuda itu pasti tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, terlalu sulit untuk diurai dan dijelaskan melalui mulutnya.


"Tetaplah minta maaf meskipun tidak di dengar nyata. Ibumu bisa melihat dari atas sana."


"Kau bicara begitu seakan aku masih anak kecil."


"Tetap saja minta maaf sepanjang hidupmu, doakan beliau sepanjang hidupmu. Jika kamu merasakan kedamaian, ketenangan itu artinya ibumu sudah memaafkanmu. Memang terdengar sangat konyol, tapi bukankah ikatan kalian tidak akan pernah putus? Raga kalian memang jauh, tapi tidak dengan hati kalian. Coba saja. Ini terdengar mudah diucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Mau sedalam apa pun penyesalanmu kau tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Yang ibumu butuhkan saat ini bukan tangisanmu apalagi penyesalanmu, tapi doa. Doakan kebahagiaannya di sana, itu pasti akan membahagiakan untuknya. itu pasti sudah cukup baginya."


"Kau benar. Aku tidak hidup di masa lalu. Aku tidak bisa kembali ke sana dan memperbaikinya, tapi aku bisa memperbaiki masa depanku. Ibu sudah mcukup menderita dia sini. Aku harus membuat dia tersenyum di atas sana. Ngomong-ngomong, kau juga sedang tidak sehat. Kenapa sendirian?"

__ADS_1


"Aku hanya mengalami patah tulang. Aku masih bisa melakukan apa pun sendirian."


__ADS_2