Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
54. Bayi Mungil


__ADS_3

Rindu yang seakan mengetahui apa yang terjadi berikutnya seketika memejamkan mata dengan wajah tegang. Sementara pria di depannya hanya mengulum senyum simpul.


Apa yang dia pikirkan? Apakah dia sedang berpikir bahwa aku akan menciumnya?


Tidak ingin berlama-lama, Jeon segera melancarkan aksinya dengan mengambil tangan Rindu yang tadi tersiram kopi panas.


Rindu seketika membuka mata, ia ingin mencabut kembali tangannya dari tangan Jeon. Tapi sayangnya, sudah tidak ada waktu, tidak ada kesempatan, dan tidak ada harapan untuk melakukan itu. Pandangan Jeon sudah berada di tangan Rindu yang terluka dan juga sebuah benda yang melingkar di jarinya.


Rindu dengan perlahan menolehkan  kepalanya ke samping seraya menutupi wajahnya dengan tangannya yang lain. Sungguh ia tidak tahu ingin ia letakkan di mana wajahnya saat ini.


Jeon menyadari hari itu. Jeon sadar bahwa Rindu pasti malu jika membahas perihal cincin yang dikenakannya. Sebenarnya ada rasa terkejut yang mampir diri pria itu, tapi melihat respon yang diperlihatkan oleh Rindu buatnya berpikir untuk tidak membahas cincin itu terlebih dahulu.


"Ini lukanya lebar, kayak gini kamu bilang nggak apa-apa? Ayo kita balik ke kursi, aku obati lukanya." Pria itu menarik tangan kekasihnya untuk keluar dari kamar mandi.


Rindu berjalan mengikuti langkah Jeon yang menggandengnya dengan sedikit terbengong. Pria itu sama sekali tidak membahas perihal cincin yang ia kenakan, ini di luar pemikirannya.


"Duduk di sini dengan tenang. Aku akan ambil kontak P3K di mobil."


Nggak mungkin banget kalau dia nggak lihat ini.


Rindu kembali berusaha melepas cincin itu setelah punggung Jeon terlihat menjauh. Dengan berpedoman sebuah kalimat tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Rindu berusaha kembali melepas cincin itu dari jarinya. Lagi-lagi ia harus menelan pil pahit dan menerima kenyataan bahwa cincin itu memang susah terlepas dari jarinya. Entah bagaimana caranya ia melepaskan cincin ini nantinya. Apakah cincin itu harus ia bawa sampai mati atau mungkin jalan satu-satunya harus memotong jarinya? Entahlah.


Usahanya terhenti ketika Jeon sudah kembali dengan membawa kotak P3K. Ia seorang dokter, hal yang sangat wajar jika ia membawa kotak itu ke mana-mana.

__ADS_1


Dengan telaten dan sabar, pria itu mengobati luka kekasihnya. Sesekali pandangannya ia arahkan kepada Rindu untuk memastikan apakah wanitanya itu sedang menahan sakit atau tidak.


"dikasih obat terus, ya biar cepet samar merahnya ini. Biar nggak sampai melepuh juga. Apa masih sakit? Maaf aku nggak sengaja tadi."


"Iya, nggak apa-apa kok."


"Cincinnya nggak jadi hilang?"


"Emang cincinnya nggak hilang. Kemarin aku cuman iseng aja bilang kayak gitu ke kamu." Rindu terlihat cuek dan biasa saja menjawab pertanyaan itu. Seolah ia tidak mau terlihat gugup atau salah tingkah di depan pria yang sudah memberikan cincin itu. Ia tidak mau digoda atau diejek lagi dan malah membuatnya semakin gugup. Meskipun tidak bisa dipungkiri, di dalam hatinya yang paling dalam, ia sungguh ingin melarikan diri dari hadapan Jeon.


"Kenapa iseng bilang kayak gitu? Pengen tahu respon aku kayak gimana? Pengen tahu aku marah apa nggak? Setelah tahu respon yang aku kasih. Apa kesimpulan yang kamu ambil?"


"Kamu sabar, pengertian, dan mungkin tidak semua laki-laki mempunyai apa yang kamu punyai. Mungkin jika laki-laki lain yang ada di posisi kamu, dia akan marah karena pemberian darinya tidak dijaga dengan baik dan tidak dihargai."


Air muka Rindu berubah tegang.


"Aku bukan nolak kamu, Je. Tapi...."


Ucapan Rindu terhenti karena mendengar ketawa kecil dari Jeon.


"Apa yang lucu?"


"Nggak ada yang lucu di dunia ini selain kamu. Jangan dianggap serius pertanyaan aku. Keteguhan aku masih sama dan tidak akan berubah. Kapan pun kamu siap menjalani bahtera rumah tangga kembali, di saat itu juga aku datang sebagai orang yang akan selalu membawa kebahagiaan dibalik kata rumah tangga. Aku nggak akan maksa kamu untuk siap sekarang, besok, atau lusa. Kalau aku mampu menunggu kamu, aku akan lakukan itu. Apa pun yang membuat kamu nyaman, apa pun yang membuat kamu bahagia, akan aku berikan. Jangan paksakan dirimu untuk menjelaskan sesuatu yang sudah aku ketahui." Jeon mengusap pelan puncak kepala wanita itu. Tindakan sederhana, tapi author yakin semua wanita akan suka jika diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


***


"Bayinya laki-laki dan lahir dengan selamat. Tapi harus kami letakkan di inkubator karena berat badannya yang kurang. Sementara itu untuk ibunya sekarang ini kondisinya kritis. Kami akan melakukan perawatan semaksimal mungkin. Bapak juga harus banyak berdoa karena pendarahan yang dialami pasien cukup parah."


Nyawa Jeff seakan terbang melayang entah ke mana mendengar keadaan istrinya yang kritis. Di satu sisi ia bersyukur karena anaknya selamat, tapi di sisi lain ia juga merasa terpukul mendengar bahwa istrinya kritis demi melahirkan anaknya.


"Boleh saya masuk ke dalam?"


"Silakan Pak. Bayi Bapak juga masih berada di dalam. Bapak bisa menemuinya sebentar sebelum kami pindahkan ke ruang perawatan."


Jeff mengangguk lemah. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia melihat istrinya yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat medis yang menancap di tubuhnya. Sementara di sisi lain ia juga melihat anaknya yang juga ditempeli alat medis karena memang keadaannya yang belum seharusnya menghirup udara dunia secara langsung. Sungguh hatinya teriris melihat keadaan ini.


Sebelum melihat anaknya ia menghampiri istrinya terlebih dahulu. Berdiri di dekat ranjang dan meraba kening wanita itu dan mengelusnya dengan pelan.


"Anak kita udah lahir, tapi dia harus di inkubator dulu karena belum waktunya lahir sudah kamu lahirkan. Kamu hebat, kamu berhasil menjadi seorang ibu sekarang. Kamu harus cepat bangun biar bisa lihat anak kita. Dia pasti juga mau dilihat sama ibunya. Kita belum sepakat untuk nama anak kita, kamu jangan lupa itu. Sekarang kamu boleh tidur dulu, besok pagi bangun, ya."


Terlihat tegar saat mengucapkan kalimat itu, tapi hati Jeff sudah runtuh, hancur, dan tak berbentuk. Matanya juga sudah penuh dengan cairan bening yang siap terjun.


Setelah mengucapkan kalimat penguat untuk istrinya, Jeff berbalih pada sang anak yang nampak mungil. Tak sanggup lagi, Jeff tak sanggup melarang air matanya untuk turun. Selama hidupnya, tidak pernah ia merasa sehancur ini. Bahkan saat hari pernikahannya dengan Rindu saja ia tidak merasakan hancur separah ini.


"Hai baby. Kamu harusnya masih hangat dalam perut Bunda, ya. Tapi Ayah yakin, kamu di dalam sana nggak kedinginan. Ayah yakin kamu kuat, berjuang buat Ayah sama Bunda, ya Nak. Bunda belum bisa ketemu kamu sekarang."


Bayi mungil itu dipindahkan ke ruang khusus setelah obrolan singkatnya dengan sang Ayah.

__ADS_1


__ADS_2